Cergam Kembangkan Kemampuan Menulis Peserta Didik

Oleh: Syahrotul Latifah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang


Mata Pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang ada pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Empat kemampuan tersebut disusun sedemikian rupa berdasarkan tingkatan dan jenjang pendidikan agar dapat diterapkan dan dicapai oleh peserta didik berdasarkan kurikulum dan kompetensi yang ingin dicapai. Mengarah pada implikasi revolusi industri 4.0 khususnya pada bidang pendidikan di mata pelajaran bahasa Indonesia, peserta didik dituntut untuk aktif, kreatif, dan inovatif dalam pembelajaran di sekolah. Dengan basis pembelajaran student active learning diharapkan empat keterampilan mendasar dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dapat dipahami lebih baik lagi oleh peserta didik.

Harapan dari PPDB Zonasi

Oleh Irvan Lestari,
dosen IKIP Budi Utomo Malang Prodi Pendidikan Sejarah dan Sosiologi


    Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk tahun ajaran 2019-2020 mengacu pada Permendikbud No 14 tahun 2018 yang mengatur tentang sistem zonasi. Dengan sistem ini, pemerintah mewajibkan sekolah untuk menerima calon  siswa baru  dengan tidak lagi menjadikan Nilai Ujian Nasional (NUN) sebagai syarat diterimanya calon peserta didik. Namun, mempertimbangkan jarak tempat tinggal calon siswa dengan sekolah. Tujuan dari sistem zonasi adalah untuk menciptakan pemerataan pendidikan. Kota Malang menerapkannya untuk penerimaan jenjang SLTP. Maksud dan tujuan dari sistem ini setidaknya ada dua. Pertama, agar tidak lagi terjadi penumpukan siswa dengan nilai rata-rata tinggi pada satu sekolah dan pengelompokan siswa dengan rata-rata rendah pada satu sekolah lain. Kedua, alasan lebih meringankan wali siswa, yakni agar orang tua siswa tidak diberatkan dengan biaya transportasi anaknya.

Reaktualisasi Kebangkitan bagi Generasi Milenial

Oleh  Ratnawati, S.Pd, pengajar Sejarah SMA N 1 Kota Malang

    Setiap tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.  Di tahun 1908, para tokoh bangsa ini  menyadari bahwa bangsa mereka  tercerai-berai dalam kondisi yang amat memprihatinkan. Pendidikan modern ala Barat,  yang dapat diakses  pada kenyataannya  tidak dapat mensejajarkan bumiputera  dengan orang-orang Belanda. Hal inilah yang menggugah pembentukan organisasi Boedi Oetomo (BO),
BO merupakan perkumpulan bumiputera pertama yang memenuhi syarat-syarat organisasi menurut pengertian Barat (Muljana, 1968).  Kaum intelektual bumiputra mulai bangkit. Kesadaran “nasionalisme” mulai tumbuh sejak mereka berinteraksi dengan yang lain,  sehingga terbentuklah suatu gagasan tentang pandangan hidup, nasib kaum bumiputra, dan masa depan.