Wanita Penderita Lupus Bebas Gunakan Make Up


MALANG – Siapa bilang penderita lupus hanya bisa duduk lemas di rumah. Justru penderita lupus tetap dapat beraktivitas seperti biasanya, bahkan bagi wanita masih bebas untuk menggunakan make up. Hanya saja dalam penggunaannya, penderita memang harus menghindari make up berbahan hypoallergenic atau bahan yang mengandung sedikit penyebab alergi.
“Lupus bukan penyakit yang mudah sembuh, tapi penyakit kronis dan dapat terkendali yang biasa dikenal dengan remisi. Penderita seperti orang normal, dapat beraktivitas dan bekerja seperti pada umumnya. Jadi karena penderita paling banyak wanita dan lebih sering terkena kulit sehingga menimbulkan efek kurang percaya diri,” ujar dr Perdana Adithya SpPD, yang ditemui Malang Post pada kegiatan tetap cantik dengan lupus di Fakultas Kedokteran UB.
Dia melanjutkan, pasien lupus tidak boleh terkena sinar matahari, maka disarankan menggunakan tabir surya ketika di luar rumah. Selain itu, pemilihan tipe kosmetik harus yang hypoallergenic yang tidak merusak kulit.
“Jika kulit makin tipis dan terkena matahari tentu akan memperparah penyakit lupus pada penderita. Sehingga disarankan untuk menggunakan kosmetik berbahan hypoallergenic dan pemberian tabir surya ketika keluar rumah,” ungkapnya.
Saat ini, terdapat 1000 pasien yang berobat di RSSA yang berasal dari berbagai daerah dan dirujuk ke Malang. Jumlah tersebut cenderung meningkat bila dibandingkan pada tahun 2000 yang hanya merawat dua sampai tiga pasien sekali perawatan. “Pada sekitar tahun 2000 jumlah pasien yang dirawat setiap periode dua sampai tiga pasien, namun saat ini sekali periode perawatan bisa mencapai lima sampai delapan pasien,” bebernya lagi.
Sementara itu, salah satu pembicara, dr Cesarius Singgih Wahono SpPD-KR juga memperkenalkan kepada peserta apa itu penyakit lupus. Penyakit sistem kekebalan yang menyerang diri sendiri ini ternyata memiliki gejala yang berbeda-beda. Pasalnya, sistem imun tersebut dapat melibatkan berbagai organ dalam tubuh seperti persendian, kulit ginjal, darah, jantung, dan sistem syaraf.
“Tidak semua pasien memiliki gejala dengan organ yang terlibat sama, diagnosisnya terkadang juga tidak segera. Gejalanya mulai dari hemoglobin turun, anemia, trombositnya turun, kulit yang ruam, sariawan, kaki bengkak, saraf, sakit kepala, air seni yang terlalu banyak mengandung protein hingga kejang, dan stroke,” tandas pria berkacamata ini.
Diagnosis lupus juga cukup lama, bahkan terkadang baru dapat didiagnosis dalam kurun waktu satu tahun yang mana sudah terlambat bagi pasien. Menurut survey, penderita lupus biasanya perempuan dengan usia subur mulai umur 25 tahun dan dari faktor keturunan terbilang sedikit hanya 20%.
“Hal-hal yang harus diperhatikan bagi penderita yakni menghindari matahari jam 09.00 – 17.00 WIB dan harus diberi tabir surya. Saran dokter tentu harus mengurangi protein, tetap berolahraga, mengenal fase kekambuhan dan pemantauan aktivitas. Tujuan pengobatan adalah aktivitas penyakit dapat ditekan dan yang paling penting adalah dukungan teman,” imbuhnya. (mg3/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :