Penderita Hiperkolestrol Hati-hati Makan Jajanan Lebaran

 
CAMILAN dan kue-kue yang disajikan setiap orang di rumah masing-masing saat merayakan Lebaran sangat banyak dan beragam. Hal itu penting untuk dikontrol agar tidak mengkonsumsi secara berlebihan, pascamenjalani puasa Ramadan.
Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, Ruliana SST M.MKes menjelaskan, di antara porsi makanan ideal yang dikonsumsi setiap hari, tubuh manusia membutuhkan kalori yang didapat dari camilan. Untuk berat badan normal, kebutuhan kalori untuk camilan berkisar sekitar 150 sampai 200 kalori perharinya.
“Atau sepuluh persen dari total kalori yang dibutuhkan dalam tubuh,”  katanya kepada Malang Post.
Untuk memenuhi kebutuhan kalori tersebut, tidak melulu dengan makanan yang mengandung tepung. Sebab jika hanya menggantungkan sumber karbohidrat sebagai tenaga justru tidak aman untuk penderita diabetes.
Dijelaskan, kue-kue kering mengandung karbohidrat yang tinggi. Bahkan selain karbohidrat kompleks seperti tepung, juga mengandung karbohidrat sederhana seperti gula. Selain itu bahan dasar kue juga terbuat dari mentega, sehingga juga mengandung lemak.
“Jadi lebih banyak di kandungan karbohidrat dan lemak,” terang Ruli, sapaan akrabnya.
Menurutnya, camilan seperti kue kering mengandung setidaknya 30 sampai 50 kalori per potongnya. Terlebih untuk ukuran yang lebih besar dan bahan dasarnya lebih lengkap. Sehingga ia menyarankan untuk sebaiknya hanya memakan tiga atau empat potong kue saja dalam sehari.
Kebutuhan kalori untuk camilan itu menurutnya, lebih baik diimbangi dengan mengkonsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral. Sebab jika dalam memenuhi kalori untuk kebutuhan camilan hanya memperhatikan karbohidrat dan lemak saja, tidak aman bagi penderita hiperkolestrol atau istilahnya dislipidimi.
“Penderita dislipidimia itu tinggi kolestrol atau lemak darahnya, itu harus membatasi minyak,” tandas Ruli. 
Begitu pula rasa asin yang didapat dari kue camilan, yang sebetulnya dari keju dan mentega tersebut dapat memicu hipertensi jika dikonsumsi secara berlebihan. Itulah sebabnya penting untuk menjaga pola makan yang beranekaragam, namun tetap sehat dan seimbang.
“Dari itu alangkah lebih baik jika kita menambahkan buah juga sebagai hidangan saat Lebaran,” katanya.
Selain itu, sebaiknya memilih minum air putih daripada sirup maupun minuman dalam kemasan. Sebab selain kalorinya tinggi, juga mengandung pewarna dan pengawet.
“Belum tentu juga itu gula murni, bisa jadi gula buatan. Jadi sebaiknya itu dihindari. Karena kuenya saja sudah manis dan bertepung,” papar wanita asli Blitar ini.
Ia mencontohkan, jika dari sepotong kastengel saja sudah megandung 50 kalori. Kemudian 50 kalori lainnya lagi didapat dari sirup, maka sebaiknya sisa kebutuhan kalori tersebut diimbangi dengan mengonsumsi buah.
“Namun akan lebih baik minum air putih saja untuk menjaga keseimbangan,” imbuh Ruli.
Demikian halnya dengan makanan lebaran, seperti opor ayam, gulai dan rendang dan sebagainya yang sebagian besar sumber kolestrol dan lemak. Menurut Ruli, penting untuk waspada terhadap makanan yang mengandung santan.
“Apalagi santan kemarin yang sudah jadi lemak jenuh atau lemak jahat. Kandungan lemak yang tinggi dapat menyebabkan diapilimi tadi,” ujar dia.
Namun bukan berarti kue-kue dan hidangan tersebut tidak boleh dikonsumsi. Konsumsi kue lebaran tetap harus mempertimbangkan komposisi makanan lain. Serta selalu diimbangi dengan makan sayur dan buah, minum air putih yang cukup serta rajin berolahraga.
Selain itu, yang tidak kalah penting yakni memperhatikan pengaturan porsi makan. Tujuannya agar menghindari makan secara berlebihan. Sebab selama berpuasa, sebetulnya tubuh mengalami proses detoks.
“Kalau saat proses detoks sudah dibersihkan. Tapi setelah dibersihkan kita seenaknya makan. Apalagi makan dengan zat-zat gizi tertentu saja, otomatis proses detoks akan sia-sia,” paparnya. (mg6/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :