Tjahaja Timoer, Koran Pertama di Malang


KOTA Malang memiliki jejak jurnaslitik yang menarik. Sejak tahun 1895 silam, warga sudah baca koran yang beredar  di kota ini. Namanya De Oosthoekbode. 12 tahun kemudian atau pada tahun 1907 terbit lagi Tjahaja Timoer.
Tjahaja Timoer  merupakan koran pertama di Malang yang terbit menggunakan Bahasa Melayu. Awalnya seorang pengusaha, Kwee Khay Kee mendirikan percetakan Snelpersdrukkerij Kwee Khay Kee (KKK) yang menerbitkan Tjahaja Timoer.
Dulunya, percetakan tersebut terletak di kawasan Jalan Kyai Tamin, Kota Malang.
Cucu Kwee Khay Khee, Kwee Gwan Tjhay yang juga memiliki nama lain Laurensius Hermanto Budi bercerita kepada Malang Post saat ditemui di Percetakan Aloha, Jumat (8/2) kemarin.
Di rumah yang ditempati usaha Percetakan Aloha itulah menjadi salah satu tempat produksi Tjahaja Timoer. Saat ini, rumah seluas sekitar 1.000 meter persegi itu memiliki banyak ruangan. "Karena lokasinya sangat besar, selain dihuni beberapa keluarga, juga dijadikan lokasi percetakan sekaligus penerbitan Koran Tjahaja Timoer," terangnya.
Sewaktu kecil, sepupu Herman masih sempat melihat mesin percetakan yang berukuran besar, sekitar tiga kali tiga meter. Namun, ada juga yang berukuran lebih kecil. Berdasarkan cerita yang didapat, sang kakek  mendatangkan mesin percetakan tersebut dari Jerman. "Kakek langsung datang ke Jerman untuk beli alat percetakan. Tentunya butuh perjuangan panjang, apalagi, saat itu masih zaman penjajahan," kata dia.
Satu hal yang patut dicontoh, katanya, Kwee Khay Khee adalah sosok pejuang keras. Sejak kecil dia ditinggal orang tuanya karena meninggal dunia. Ia diasuh oleh neneknya sehingga selalu mengenyam kehidupan keras.
Kwee Khay Khee memiliki beberapa usaha untuk mengumpulkan uang dan akhirnya bisa membeli mesin cetak dari Jerman. Dulu, untuk mencetak sebuah kalimat, petugas percetakan harus menata terlebih dahulu satu persatu huruf yang terbuat dari timbal. Setelah sudah tertata rapi, kemudian dimasukkan mesin dan dicetak.  
Herman mengaku bangga pada sang kakek. Pada masa pejajahan, ia sangat tangguh untuk membangun bisnis percetakan dan penerbitan koran tersebut. Sepanjang tahun 1907 hingga 1942, Koran Tjahaja Timoer menyapa pembaca.
Tanpa perjuangan sang kakek, penerbitan dan percetakan tidak akan bertahan. Bahkan, menurut Herman, usaha sang kakek juga menginspirasi keluarga dan orang lain untuk memiliki bidang usaha percetakan atau menerbitkan koran.
"Koran Malang Post kami anggap sebagai penerus usaha kakek. Apalagi, saat ini koran tersebut sudah cukup lama terbit di Malang," kata dia.
Herman menyebut, kerja keras sang kakek  juga menginspirasi tiga dari 16 orang anaknya untuk mendirikan percetakan. Seperti Kwee Bie Sing yang memiliki percetakan Karya Grafika, yang saat ini sudah tutup. Kemudian, Kwee Bie Kong memiliki percetakan KKK yang saat ini juga sudah tutup. "Sementara, ayah saya, Kwee Bie Khoen memiliki percetakan Aloma yang diturunkan kepada saya (Aloha) dan kakak saya, Kwee Tjiong Nio percetakan AMAN di Surabaya," jelasnya.
Selain mencetak koran, saat itu, sang kakek juga menerbitkan beberapa buku. Di antaranya Nasehat Baik Jang Beralamat Koan Sie Boen yang tersalin dari kitab Tionghoa, terbit pada tahun 1914 setebal 132 halaman. Kemudian, ada Boekoe Petangan Yak King Sian Thian Ik So, yang ditulis oleh Keizer Hok Hie Koen tahun 1923, Boekoe Tjerita Thio Tjin Gan, Minister Van Oorlog dari Dynastie Bing: Satoe Tjerita Jang Betoeel Soedah Kejadian di Achirnja Keradjaan Bing, yang dikarang oleh Tjie Tjien Koei pada tahun 1924 dengan tebal 48 halaman. Serta Lo Tong Tjeng Souw Pak (Monsieur Kekasih) pada tahun 1953.
Sementara itu, berdasarkan artikel Reza Hudiyanto staf pengajar Univesitas Negeri Malang (UM),  dalam artikel sembilan halaman berjudul ‘Pahlawan yang Terlupakan: Pers Melayu, Etnik Thonghoa, dan Nasionalisme’, pada ada salah satu sub berjudul Pers di Malang, Reza mengulas Tjahaja Timoer  terbit pertama kali tahun 1907. Namun informasi yang dapat diakses paling tua adalah tahun 1914. Surat kabar tersebut diredakturi  R. Djojosoediro
pada tahun 1914. Kala itu, harga langganannya f.2,- per bulan. Terbit dengan empat halaman dan berslogan  Maleischnieuws en advertentieblad voor Netherlandsch Indi. Tjahaja Timoer bisa  terbit secara kontinu dari tahun 1907 hingga tahun 1942. (tea/van)