Malang Post Kekuatan Pers di Malang


EKSISTENSI media tidak didapat secara sembarangan. Terlebih bagi media mainstream seperti media cetak. Jatuh bangun dan tantangan semakin berat. Akan tetapi masih ada yang bertahan sampai saat ini. Seperti Malang Post, koran pertama yang terbit di Malang.
Tidak banyak yang tahu, Malang Post awalnya dimulai dari sebuah lorong berukuran 3 x 12 meter yang biasa dipakai sebagai area parkir. Saat itu 1998 silam, cikal bakal Malang Post  dimulai dari menumpangd i kantor orang lain.
Direktur Utama Malang Post H Juniarno Djoko Purwanto membagi kisah berdirinya Malang Post sebagai media utama di Malang. Di awal berdirinya, kru Malang Post memakai areal parkir dari Kantor Biro Jawa Pos di Jalan Arjuno.
“Saat Pak Dahlan (Dahlan Iskan) memutuskan Kota Malang harus punya koran sendiri, saya dipanggil untuk langsung cepat-cepat mewujudkannya. Memang sangat mendadak waktu itu akhirnya kita di sana dengan karyawan sekitar 37 orang,” kenangnya.
Saat itu pun personel Malang Post merupakan gabungan dari eks harian Bhirawa dan Suara Indonesia (SI). Dua surat kabar yang dipegang sendiri oleh Dahlan Iskan pada saat itu. Akan tetapi dua media ini berbasis di Surabaya.
Alasan lainnya menerbitkan  Malang Post pada saat itu dibentuk yakni warga Malang tidak memiliki koran yang benar-benar asli Malang.  “Waktu itu juga Arema sedang besar-besarnya. Pak Dahlan bilang supporter Arema ini ada 20 ribu lebih setiap nonton. Tapi tidak ada yang bela. Kan Jawa Pos tidak mungkin bela Arema,” papar pria yang akrab disapa Purwanto ini mengingat kata-kata Founder Jawa Pos Group Dahlan Iskan saat itu.
Selain itu juga Kota Malang di era awal reformasi sudah disebut-sebut sebagai kota kedua di Jawa Timur. Peluang inilah yang membangkitkan semangat Dahlan Iskan untuk  mewujudkan Malang Post. Purwanto mengingat kata-kata Dahlan Iskan saat itu, “Kota yang punya media kuat, pasti akan tumbuh lebih besar.”
Ketika personel Bhirawa dan SI menyatu menjadi Malang Post, awalnya di zaman Orde Baru, SIUP tidak dapat diterbitkan. Seiring berjalannya waktu, akhirnya terbitlah SIUP.
“Nah buatnya pun waktu itu kita numpang PT juga. Karena zaman awal orde baru itu belum boleh ada penerbitan SIUP baru. Maka