Disruption Era, Pers Harus Kerja Keras


TOKOH pers nasional asal Malang, Imawan Mashuri membeber tiga catatan penting tentang keberlangsungan hidup media saat ini. Erat berhubungan dengan kondisi persaingan, etos kerja hingga melawan hoax. Semuanya disebut dalam Era Gangguan (Disruption Era) bagi pelaku media.
“Era pers saat ini sedang berada dalam disruption era. Era gangguan. Banyak hal  yang mengganggu keberlangsungan pers khususnya yang mainstream,” ungkap Imawan.
Wartawan senior Jawa Pos ini memiliki catatan penting bagaimana insan pers mengahadapi era yang disebutnya itu. Pertama ia menjelaskan bahwa platform media tidak perlu didikotomikan. Pasalnya masing-masing media memiliki peran dan fungsinya sendiri-sendiri.
Semua bentuk media tidak dapat saling meninggalkan. Jika media, baik yang mainstream atau bukan,  saling meninggalkan maka ancaman akan lebih buruk daripada berkompetisi dengan seluruh elemen media yang ada.
“Maka seperti yang sering dikatakan tokoh-tokoh pers bahwa memasuki era digital saat ini media mainstream (cetak, tv dan radio, Red) harus memanfaatkan media digital sebagus-bagusnya, tidak bisa meremehkan apalagi tidak menguasi,”  kata Komisaris Utama Malang Post ini.
Ia mencontohkan New York Times. Media yang berangkat dari platform cetak ini hampir jatuh tersungkur karena gerusan media digital. Tapi bangkit kembali menjadi lebih baik di tahun 2018 lalu.
Hingga kini New York Times memiliki pelanggan digital maupun cetak hingga 3,1 juta jiwa. Hal ini dilakukan karena New York Times menggunakan media digital. Belajar kemudian beradaptasi dengan hal itu.
“Oke kedua secara jurnalistik. Diperlukan media yang jurnalistiknya benar, presisi, cover both side dan selalu melakukan cek dan ricek,” papar  Founder Arema Media Group ini.
Pria yang juga menjadi pionir terbentuknya media tv daerah ini mengatakan,  media cetak mainstream masih memiliki trusted (kepercayaan, Red) dari pembacanya.