Bulan Puasa, LC Pilih Luar Kota

 
MALANG – Bulan Ramadan telah tiba. Klub malam, karaoke serta diskotik pun secara resmi ditutup selama bulan suci ini. Para karyawan, maupun tenaga kontrak yang dikenal sebagai Lady Companion atau LC, libur bekerja selama satu bulan penuh. Lalu, kemanakah para wanita yang mewarnai kehidupan dunia malam di Kota Dingin ini?
Malang Post sempat mewawancarai beberapa LC yang bekerja di karaoke dan klub Doremi Grup di Ruko Jalan Candi Trowulan sebelum bulan puasa. Laila, 23 tahun asal Karangploso Kabupaten Malang, adalah LC yang baru tahun ini menggeluti pekerjaan yang akrab dengan dunia hiburan dan gemerlap diskotik. Menurut Laila, dia mengaku belum pernah menjalani bulan puasa sebagai LC. 
“Ini  yang pertama, karena itu saya belum tahu juga. Saya kerja begini kan juga baru-baru ini saja,” ujar Laila. 
Menurut wanita berambut panjang dan berkulit langsat ini, pekerjaannya sebagai LC sebelum puasa, sudah dilakoni kurang dari setahun. Dia mengaku bekerja menjadi LC karena sulit mendapatkan pekerjaan lain.
Dengan wajah manis dan bodi mungil, Laila berharap bisa memperoleh peruntungan lebih dari pekerjaannya menemani orang berkaraoke. Laila enggan menyebut berapa pendapatan hariannya.
Namun, dia menyebut semua pekerjaan itu sawang sinawang. Terkait keinginan  untuk terus menjadi LC selama ramadan, Laila mengaku mendapatkan beberapa alternatif dari teman-temannya seprofesi. 
“Ada yang kasih tahu kalau di Bali tetap buka. Tapi, jujur saja saya takut kalau ke Bali, karena tidak kenal siapa-siapa di sana,” sambung Laila.
Sementara, Rena 25 tahun asal Sidoarjo, juga LC dari Doremi, mengatakan dia juga mengaku takut untuk melanjutkan pekerjaan sebagai pemandu lagu di Bali. Menurutnya, suasana di Bali jauh lebih ‘liar’ ketimbang di Jawa.
Dia malah mengaku mendengar ada alternatif bekerja sebagai LC di pulau Jawa. Yakni, tepatnya di Jawa Tengah dan Jogjakarta. 
“Saya dengar di Solo-Semarang-Jogjakarta tetap buka, tapi pakaiannya saja yang harus diubah,” ujarnya. 
Biasanya, para LC dalam hari-hari biasa, harus memakai pakaian yang terbuka dan cenderung seksi. Namun, karaoke di Solo-Semarang-Jogjakarta selama ramadan, mewajibkan para pemandu lagu memakai pakaian tertutup untuk mendampingi tamu.
“Yang jelas kalaupun saya tetap kerja begini, saya tetap milih di Pulau Jawa saja. Takut kalau ke Bali. Saya di sini (Doremi) baru sebulan. Dulu pernah kerja begini, tapi gak pernah pas bulan puasa, jadi ya gak tahu lagi,” tuturnya. 
Terpisah, salah satu LC yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa dia tetap berada di Malang. Meskipun tak bergabung dengan salah satu karaoke, dia tetap menjadi freelance.
“Ya jadi freelance, selama ini juga saya freelance. Gak pernah terikat sama karaoke tertentu. Kalau puasa begini ya cuma mengandalkan langganan saya. Gak sekadar nemani menyanyi, nemani ke kafe, jalan-jalan juga bisa,” ujarnya.
Sementara, pemilik Doremi Group, Stanley mengatakan beberapa waktu lalu bahwa para karyawan Doremi seperti server, admin dan kasir, dirumahkan namun tetap digaji.
“Karyawan kita rumahkan sementara, namun tetap kita gaji. Ini sudah tahunan dan kita menghormati bulan puasa, sehingga sudah resiko apabila harus stop operasi sementara,” kata Stanley kepada Malang Post.
Dia sendiri mengelola 29 karyawan tetap untuk operasional Doremi Group. Terkait kerugian, Stanley menyebut itu adalah resiko, dan tidak bisa disebut sebagai kerugian karena pelaksanaan bulan puasa sudah dilaksanakan secara rutin tiap tahun. Meski demikian, dia menyebut akan ada promo saat bulan puasa dan hari raya Idul Fitri selesai dilaksanakan.
“Nanti saat buka, kita langsung berikan diskon 30 sampai 40 persen untuk bantu penjualan. Kita tertib, ikut apa yang diinstruksikan pemerintah,” tutupnya. (fin/jon)

Berita Lainnya :

loading...