Tiga Hari Terakhir, Pedagang Cium Busuk


MALANG – Pedagang Pasar Besar Malang sejatinya sudah mencium bau busuk di lokasi. Jauh sebelum mayat termutilasi ditemukan, tiga hari sebelumnya, para pedagang di lapaknya mulai merasa tak nyaman dengan bau busuk. Utamanya, para pedagang yang berada di lantai bawah lokasi mutilasi.
“Sebenarnya, tiga hari lalu, sebelum ada penemuan mayat, bau busuk sudah turun ke lantai sini,” kata Hartono, pedagang pakaian TNI-Polri di Pasar Besar Malang kepada Malang Post, Rabu siang . Menurutnya, bau tersebut sempat diduga sebagai bau busuk bangkai tikus atau kucing.
Saat kali pertama mencium bau busuk, pedagang Pasar Besar Malang tidak segera mencari sumber bau. Tapi, dari hari ke hari, pedagang dipusingkan dengan bau busuk yang kian menyengat. Akhirnya, Selasa siang , Maadi Chilman, 47, pedagang, melaporkan bau busuk ini kepada Abdul Adhim, 50, sekuriti pasar.
“Nah setelah pak Adhim itu naik, dia bawa cikrak dan sekrop. Tapi, dia sempat merasa aneh, karena di lantai dua ada bangkai tikus, baunya tidak semenyengat yang dari atas. Dia naik dan mencoba mendekati area yang berbau busuk. Eh, dia melihat kaki, langsung teriak, sikil, sikil,” ungkap Hartono.
Dia yang mendengar teriakan ini, ikut naik ke lantai tempat penemuan mayat. Dia langsung mendekati lokasi sambil berupaya menahan bau busuk. Begitu melihat ke bawah dari atas tangga, dia memastikan bahwa itu adalah kaki manusia. “Itu kaki manusia, bukan kaki dari manekin,” ujarnya.
Petugas Wastib Dinas Perdagangan Kota Malang yang menerima laporan, langsung mendatangi lokasi sebelum melapor ke Polsek Klojen dan Polres Makota. Hartono mengungkapkan, kawasan ini sebenarnya sangat steril saat malam hari. Area ini baru didatangi orang saat jam 09.00 sampai jam 16.00. Setelah itu, petugas sekuriti mendatangi area dan mengusir semua orang dari lantai bekas pasar kebakaran ini.
“Saat malam, area ini gelap sekali. saya saja kalau ada pesenan, harus minta tolong sekuriti, biar diantarkan. Karena pengoperasian pasar juga hanya jam 09.00 sampai jam 16.00 saja,” tambahnya.
Sementara, terkait jenis orang yang sering mendatangi kawasan ini, Hartono menyebut bahwa semua jenis orang sering mendatangi kawasan bekas gedung terbakar. “Ada pengamen, gelandangan, anak punk, orang gila, pengemis, tapi ada juga orang biasa, yang naik ke lantai paling atas hanya untuk swafoto,” tutupnya.(fin/lim)

Berita Lainnya :