Sales Tilep Uang Karena Utang

PENGGELAPAN: Wakapolres Malang Kompol Yoghi Setiawan ketika meminta keterangan tersangka Andi Prastika.
 
MALANG - Sales distributor kopi Kapal Api PT. Fastrata Buana Indonesia, yang berlokasi di Desa Ampeldento Pakis, harus mendekam dalam terali besi Mapolres Malang. Yakni Andi Prastika, warga Desa Karangduren, Pakisaji. Andi ditahan sejak awal pekan lalu karena menggelapkan uang perusahaan.
"Tersangka kami lakukan penahanan setelah ada laporan dari pihak perusahaan. Barang buktinya adalah beberapa faktur penjualan fiktif," ujar Wakapolres Malang, Kompol Yoghi Setiawan.
Menurutnya, tersangka Andi ini merupakan karyawan PT. Fastrata Buana Indonesia. Perusahaan ini, selain bergerak dalam bidang distributor kopi kapal api, juga barang kosmetik. Tersangka selama ini bekerja sebagai sales yang menjual dan mengirim barang ke toko.
Penggelapan barang perusahaan dilakukannya sejak tahun 2017 lalu. Modus operandinya, dengan mengambil barang dari perusahaan untuk dikirim ke toko. Selama pengambilan barang, dia diduga menggunakan faktur fiktif.
Hasil penjualan barang, oleh tersangka tidak disetorkan ke perusahaan. Sebaliknya uang tersebut malah digunakan untuk kepentingan pribadinya.
Kasus penggelapan dalam jabatan ini terbongkar, setelah perusahaan melakukan audit. Hasil audit ada perbedaan selisih barang yang keluar dengan hasil penjualan yang masuk. 
Setelah diselidiki, ternyata digelapkan oleh tersangka Andi. "Kerugian yang dialami oleh perusahaan, nilainya sekitar Rp 610,9 juta. Akibat perbuatannya itu, tersangka kami jerat dengan pasal 374 KUHP tentang penggelapan dalam jabatan," tegas Yoghi.
Sementara, tersangka Andi Prastika, mengaku karena terpaksa. Warga Desa Karangduren Pakisaji ini, nekat menggelapkan barang perusahaan karena telah menjadi korban penipuan. "Saya terpaksa melakukannya lantaran kepepet. Saya tertipu oleh konsumen sebesar Rp 14 juta," ucap tersangka Andi Prastika.
Menurutnya, sebelum menggelapkan barang perusahaan mulai 2017 lalu, dia mengirim barang pada konsumen. Karena barang tidak laku, pemilik toko lantas mengembalikan barang kepada tersangka. Tetapi karena perusahaan tidak mau menerima barang retur, tersangka bersedia menjualkan barang dengan sistem jual rugi. Perjanjiannya, kekurangan pembayaran ke perusahaan ditanggung oleh pemilik toko.
"Namun barang belum terjual, pemilik toko malah kabur. Sehingga saya harus mengalami kerugian sebesar Rp 14 juta," ujarnya. 
Dari situlah, akhirnya Andik berpikir untuk mencari gantinya. Salah satunya dengan menggelapkan barang perusahaan secara bertahap. Akhirnya selama dua tahun, utangnya ke perusahaan bukannya malah habis, sebaliknya membengkak hingga Rp 600 juta lebih.
"Saya akui memang salah. Sebelumnya saya sudah mengatakan pada perusahaan siap untuk mengganti. Namun tetap saja dilaporkan polisi," tuturnya.(agp/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :