H. Moch Anton, Wali Kota Malang Nonaktif Divonis 2 Tahun



Malang-post.com - Sidang putusan Wali Kota Malang (non aktif) H. Moch Anton di Ruang Sidang Candra Pengadilan Tipikor Surabaya berlangsung penuh sedu sedan. Sekitar 200 an orang pendukung dan simpatisan Anton, memenuhi tiap sudut ruang sidang yang tidak terlalu besar itu. Begitu Ketua Majelis Hakim H.R Unggul Warso Murti SH MH membacakan vonis, suara tangis terdengar kian keras, Jumat (10/8).
“Terdakwa Moch Anton terbukti melanggar Pasal 5 Ayat 1 Huruf a UU Tipikor maka dari itu dijatuhkan hukuman penjara 2 tahun subsider 4 bulan denda Rp 100 juta. Dan Pencabutan hak politik selama 2 tahun terhitung setelah menjalani hukuman pidana,” urai Unggul membacakan putusannya kepada Anton.
Sidang pun riuh dengan komentar dan kata-kata kekecewaan yang keluar dari pendukung Anton yang hadir dalam sidang. Ada yang mengatakan keberatan dengan mengungkapkan “Kok bisa?”, ada pula yang langsung menyebut “Allahu Akbar”. Ada pula yang langsung menyemangati Anton dengan kata-kata “Semangat Abah, lawan Kebatilan”.
Sementara Anton sendiri, hanya menunduk ketika vonis dibacakan. Beberapa saat setelah vonis dijatuhkan, ia menghampiri sebentar kuasa hukumnya, kemudian memberikan tanggapannya saat diberi kesempatan majelis hakim.
“Saya sesuai dengan pembelaan saya. Saya tawakal apapun keputusan majelis hakim. Saya menerima hukuman ini,” ungkap Anton dengan nada lirih dengan wajah tertunduk dan memerah.
Sejenak, ruang sidang yang tadinya riuh langsung mendadak hening. Anton kemudian melanjutkan jika ia berterima kasih kepada majelis hakim dan khususnya kepada tim KPK karena dapat mengungkap kasus korupsi yang terbukti ada di kota yang dipimpinnya selama kurang lebih 4 tahun menjabat.
“Terima kasih kepada KPK sudah mengungkapkan(kasus,red) ini. Karena kalau tidak, saya khawatir dan takut diadili di akhirat nanti,” pungkas Anton yang kemudian menitikan air matanya.
Namun, Anton dengan cepat mengusapnya dengan kedua jarinya, baru kemudian berdiri meninggalkan ruang sidang. Berakhir sudah, sidang yang ia jalani sejak awal Bulan Juni lalu. Saat ia beranjak meninggalkan ruang sidang suasana kembali riuh. Ratusan simpatisan Anton berlomba-lomba mendekati Anton. Menjabat tangannya, memeluk bahkan mencium tangan Anton.
Saat ditemui awak media untuk dimintai tanggapan di tengah kerumunan, Anton kembali mengatakan ungkapan maaf dan terimakasihnya.
“Saya minta maaf kepada warga Kota Malang. Sekaligus saya berterima kasih kepada KPK. Saya yakin Allah melalui KPK mengungkap semua ini,” ucap Anton yang terlihat tegar dan tetap tersenyum kepada awak media.
Ia mengungkapkan pula jika apa putusan tersebut diterimanya dengan tawakal dan lapang dada. Hal tersebut dianggapnya sebagai pelajaran berharga yang tidak dapat dilupakan bagi warga Kota Malang dan pemerintah selanjutnya.
“Ini mudah-mudahan menjadi pembelajaran bagi semua. Khususnya bagi pemerintahan Kota Malang. Saya ingin yang saat ini melanjutkan kebaikan bagi Kota Malang. Jangan ada lagi yang seperti ini. Harus selesai di sini,” pungkasnya.
Ia kemudian dikawal simpatisan menuju mobil tahanan untuk kembali menghuni Rutan Medaeng yang selama ini sudah dihuninya selama kurang lebih tiga bulan lamanya.
Ratusan pendukung Anton kembali mengerumuni mobil tahanan tersebut, beberapa ada yang mencoba menengok Anton dari balik kaca mobil dan terus meneriakkan kata-kata untuk menyemangati Anton hingga mobil tahanan hilang dari penglihatan. (ica/ary)

Berita Lainnya :