Trauma Berat, Menangis Ingat Pengungsi Rebutan Makanan



MALANG - Satu keluarga korban gempa Lombok terpaksa mengungsi ke Kota Malang, kemarin. Yakni keluarga Agus Suprianto, warga asal Jalan Plaosan Timur, Kota Malang. Keluarga ini masih mengalami trauma psikis atas bencana tersebut. Bahkan, ia terpaksa menunda wawancara dengan Malang Post selama beberapa jam, lantaran dilanda histeria.
Ya, ditemui Malang Post, Agus berkaca-kaca ketika menceritakan kejadian itu. Pada malam kejadian, Minggu (5/8), pria berumur 45 tahun ini, sedang berada di rumahnya, yakni kawasan Dusun Jambianom, Lombok Utara. Di sana, ia bersama dua orang anak kembarnya yang berusia 9 tahun, Bulan dan Bintang. Sementara, istrinya, Kuswatiningsih (41 tahun) sedang berada di rumah temannya. Jauh di Kota Mataram, Nadia (19 tahun) sang anak sulung berada di tempat kosnya “Ketika guncangan terjadi, saya refleks keluar rumah dengan kedua anak saya. Ketika keluar, pagar rumah saya langsung ambruk,” terang dia sambil gemetar.
Kalau diukur dari titik pusat gempa, rumah Agus berjarak sekitar 20 kilometer dan memiliki dampak yang lumayan besar. Kemudian, ia berusaha menitipkan kedua anaknya tersebut kepada tetangganya. Kemudian, ia berusaha menghubungi istri dan anak sulungnya namun tidak mendapat jawaban.
“Saya panik, istri saya terus saya telepon,” papar dia.
Sementara, anak sulungnya, menyusul pulang keesokan harinya. Setelah berkumpul, Agus dan keluarganya memutuskan untuk mengungsi di sebuah bukit, yakni di punggung Gunung Rinjani. “Sebab, ketika itu santer terdengar isu tsunami. Kami akhirnya menyelamatkan diri kesana. Setelah kejadian gempa, listrik mati, air mati dan sinyal susah,” papar dia.
Ketika sudah dinyatakan aman dari tsunami, pria asal Malang yang sudah 16 tahun hidup di Lombok tersebut kemudian memutuskan kembali ke kawasan Lombok Utara. “Ketika hendak kembali ke Lombok Utara, juga gotong royong. Sebab, jalan tertutup longsor akibat gempa. Kami gotong royong untuk membuka jalan,” kata dia.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya ia bisa kembali ke Lombok Utara. Ketika gempa terjadi, ia tidak berpikir seberapa jauh ia berlari. Asal keluarganya selamat. Ketika kembali kesana pun, situasi begitu menyedihkan. Kawasan Lombok Utara yang indah berubah menjadi barak pengungsian. Ketika di Lombok Utara, Agus sempat melihat rumahnya yang juga sedikit hancur.
Selain kondisi fisik alam yang berubah, jalinan persaudaraan juga berubah. Masyarakat Lombok yang sangat erat antar tetangga dan sudah seperti saudara berubah menjadi musuh. “Ketika menerima bantuan berupa makanan, mereka rebutan. Tak jarang mereka adu jotos. Sakit rasanya melihat hal seperti itu,” papar dia.
Sampai pada suatu hari, Agus nekat ke kawasan Lombok Tengah dengan mengendarai mobilnya. Dengan dana pribadi, ia membeli roti, mie, air mineral dan bahan makanan lainnya. “Kawasan Lombok Tengah terhitung paling aman. Lombok Timur dan Lombok Utara yang paling parah. Ketika sampai di pengungsian, makanannya jadi rebutan,” urai dia sambil terbata-bata.
Bukan tanpa alasan Agus memutuskan untuk pulang ke Malang. Setiap hari, ia dan keluarganya ketika berada di pengungsian sangat tidak tenang. Tidur tak tenang, madi tak tenang di tengah kondisi tanpa penerangan dan kekurangan air bersih. Ketika gempa susulan datang, apalagi sempat kembali meruntuhkan bangunan.
 Ia melihat sendiri gedung tinggi runtuh dan banyak sekali orang meninggal karena musibah di sekelilingnya. Setiap hari, Agus juga menyaksikan para korban gempa menangis dan berteriak.
“Istri saya malah melihat gedung roboh dan menimpa orang di bawahnya. Kemudian orangnya langsung meninggal. Suara tangisan dati para korban juga sering terngiang di benak saya. Kalau mengingat kejadian itu, Sedih dan ngeri sekali kondisinya,” papar dia sambil berkaca-kaca.
Melihat kondisi yang seperti itu, Agus kemudian menghubungi salah seorang temannya, yakni Bambang Widiyanto. “Setelah saya pikir-pikir, saya ingin pulang ke Malang. Mas Wiwid (panggilan akrab Bambang) yang banyak membantu kepulangan saya ke sini,” papar dia.
Sekitar pukul 17.00 sore pada Kamis (9/8), Agus dan keluarganya memutuskan untuk pulang ke Malang melalui perjalanan darat. Ketika pelayaran dibuka, ia berebutan dengan seluruh penumpang yang ada untuk ke kampung halamannya. Sehingga, pada Jumat (10/8) pagi, Agus dan keluarganya sampai di rumah orang tua Agus dengan selamat.
“Alhamdulillah kami selamat. Istri dan anak-anak saya sekarang ada di rumah adik istri saya. Biar seedikit terhibur,” ujar dia lirih.
Musibah gempa tersebut meninggalkan trauma yang mendalam terhadap keluarga Agus. Anak-anak Agus terlihat lebih pendiam dan juga sering ketakutan. “Kalau saya, naik mobil saja saya sudah deg-deg an. Dengar suara ambulans saja saya takut. Kalau istri saya, sampai nggak berani masuk kamar mandi,” kata pria yang bekerja sebagai Koordinator Engineering di Hotel Tugu, Lombok itu.
Agus menambahkan, sampai saat ini, segala macam bentuk bantuan menuju kawasan Lombok Utara sulit dijangkau. Sebab, dua jalan utama menuju Lombok Utara rusak parah. “Satu jalannya rusak, terbelah. Satunya tertutup longsor karena gempa,” ungkap dia.
Ada beberapa daerah yang masih belum tersentuh bantuan, khususnya di kawasan perbukitan di Lombok. Seperti kawasan Teniga, Gumantar dan perbukitan lainnya di kawasan Lombok.
Sampai saat ini, Agus masih belum menentukan arah dan tujuan. Sebab, ia masih ingin menghilangkan trauma. Ketika ditanya apakah ingin kembali lagi ke Lombok, ia masih menjawab belum tahu. “Masih belum tahu. Rencananya, anak-anak ingin saya pindahkan sekolahnya kesini,” tandas dia.(tea/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :