Terobosan Wawan Hariyanto Ciptakan Kuda Lumping Plastik


Limbah plastik itu memang membahayakan lingkungan. Namun, jika kreatif, limbah plastik bisa menghasilkan uang. Hal inilah yang dilakukan Wawan Hariyanto. Pria 38 tahun ini memanfaatkan limbah strapping band yang terbuat dari bahan plastik untuk membuat kuda lumping. Alhasil, dia pun tak hanya mendapatkan uang, tapi juga memiliki pekerjaan tambahan.
Jika pesanannya berlimpah, bapak tiga anak ini tak segan untuk mempekerjakan satu atau dua orang, untuk membantu pekerjaannya. Ditemui di rumahnya, di Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, ia bercerita, mulai memanfaatkan limbah strapping band sebagai bahan kuda lumping, dari tahun 2018. Wawan yang juga  pelaku seni tradisional kuda lumping dan bantengan  merasa keberatan dengan harga properti kuda lumping. Untuk ukuran kecil yang 80 centimeter x 50 centimeter dijual Rp 350 ribu. Sedangkan untuk ukuran besar, harganya mencapai Rp 600 ribu.
Dari harga peralatan yang mencekik itu,  kemudian warga asli Kelurahan Kendalsari inipun berpikir, untuk membuat sendiri properti guna menunjang penampilan grupnya saat  pertunjukan.
"Karena harganya mahal, saya kemudian berpikir untuk membuat sendiri propertinya. Awalnya saya buat properti kuda lumping dengan bahan bambu," kata suami dari Siti Saadah ini.
Namun demikian, dengan bahan bambu, tak banyak memangkas biaya. Kalaupun dia berhemat, hanya menyisakan sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu saja. Dan baginya, itu masih sangat memberatkan. Alhasil, Wawan pun kembali berpikir, untuk membuat properti dengan biaya yang lebih murah lagi.
"Saat berpikir itulah, kemudian saya melihat limbah strapping band ini di depan gudang batu bata, di Jalan Raya Ampeldento," ungkap pria kelahiran 12 Mei 1981 ini.
Melihat Strapping Band yang bertumpuk, Wawan langsung berhenti, dan memegangnya. Saat mengetahui tekstur strapping band kaku namun lentur, seketika itu juga dia terpikir untuk menjadikan benda itu sebagai bahan properti kuda lumping.
"Saya langsung mencari pemilik limbah strapping band, dan menanyakan limbah ini," ucap ayah dari Fariz Bayu Mahmudi ini.
Angin segar pun diterima Wawan, lantaran pengawas gudang mengatakan jika strapping bandnya boleh dibawa pulang. Sehingga saat itu juga dia pun membawa seluruh limbah strapping band yang berserakan di depan gudang untuk dibawa pulang.
Sampai di rumah, Wawan pun tak sabar untuk mengerjakan membuat properti kuda lumping. Satu perastu strapping bang dikaitkan dengan teknik anyam. Hingga ukurannya 1,5 meter.
"Setelah anyaman strapping band jadi, kemudian saya gambar, sesuai bentuk properti kuda lumping," ungkapnya. Selanjutnya dia mengguntingnya.  "Gak sulit, malah justru lebih enteng. Tapi tetap harus hati-hati karena bahan strapping band sendiri rentan sobek," ungkapnya.
Setelah bentuknya jadi, dia pun melubangi bagian tepi kuda lumping secara rata. Lubang itu berfungsi untuk mengapit kuda lumping dengan bambu dan kayu. "Waktu bisa membuat, saya senang sekali," tambah ayah dari Muhammad Ilham Akbar ini.
Selanjutnya untuk finishing dia memasang ijuk, dan mengecatnya, sesuai warna pilihan.
Wawan pun mengaku senang, karena kuda lumpingnya jadi, dan hasilnya lebih bagus dari pada kuda lumping yang dia beli. Bahkan, karena suka dengan hasilnya, Wawan pun langsung memberitahu teman-temannya melalui media sosial.

Berita Terkait

Berita Lainnya :