Tatik Simanjuntak, Guru Sekaligus Pelukis Kaca



Melukis di media kain atau kanvas memang sudah biasa. Akan tetapi melukis di atas kaca masih jarang dikembangkan. Apalagi ketika lukisan di atas kaca tersebut mengangkat konten cerita dengan cerita soal budaya nusantara yang kuat. Inilah yang dilakukan Tatik Simanjuntak dengan karya-karya lukisan di atas kacanya.
Karya lukisan kacanya dilirik oleh Istri Gubernur Jawa Timur, Nani Soekarwo alias Bu Karwo. Dalam acara Capres Award di Jakarta tahun 2014, ia mengikuti kompetisi itu dengan melukis figur Susilo Bambang Yudhoyono.
“Butuh waktu sekitar satu minggu penuh untuk melukis dengan motif padat serta gambar yang memang realis,” terang Tatik kepada Malang Post.
Diceritakannya, konsep lukisan itu menggambarkan pemekaran provinsi yang dilakukan SBY menjadi 34 provinsi saat itu. Saat itu ia berhasil mengalahkan puluhan karya luar biasa dari peserta lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Sampai pada suatu pameran yang masih diadakan di Jakarta, Bu Karwo membeli lukisan kaca saya senilai Rp 12 juta,” ungkap dia.
Sejak muda, memang telah mengalir darah seni dalam diri Tatik. Sebab dia telah giat melukis walau hanya pada media kanvas. Tahun 2007, saat Tatik mulai aktif mengabdi sebagai guru Edukasi Budaya dan Keterampilan di sebuah Madrasah Ibtidaiyah Sunan Kalijaga di Pisang Candi, ia punya ketertarikan untuk beralih melukis pada media kaca.
“Karena seringkali kalau melukis di kanvas tidak bisa jadi karena keringnya lama. Sedangkan karena sering membaca, ide dan inspirasi terus bermunculan dan ingin dituangkan. Kemudian saat baca majalah bekas terbitan dari Singapura ada glass painting,” jelas dia.
Ketersediaan bahan-bahan untuk glass painting di Kota Malang, membuat dirinya bertekad untuk benar-benar beralih dari media kanvas ke lukis kaca. Tujuannya tak lain agar semua ide dan inspirasi yang selalu bermunculan itu bisa ia tuangkan menjadi sebuah karya.
“Kalau dengan media kaca bisa cepat. Sepuluh menit saja sudah bisa kering,” bebernya.
Tatik terus belajar dan memperdalam penggayaan lukisannya. Sampai pada akhirnya ia membaca buku sejarah yang menjelaskan bahwa seni rupa pertama di Indonesia adalah wayang dan batik.
“Saya gabung empat komunitas yang masing-masing punya karakter sendiri. Seperti motif Eropa, kontemporer. Saya langsung ambil yang budaya nusantaranya, wayang untuk motif utamanya dan dipadukan dengan batik,” tukasnya.
Pemilihan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, batik dan wayang sama-sama mempunyai filosofi yang kuat serta murni dari Indonesia. Sejak saat itu, ia mulai mempelajari filosofi batik klasik dari berbagai buku sebagai referensi sekaligus untuk diterapkan pada muridnya di tempat ia mengajar. Menurutnya, berawal dari batik klasik itulah, filosofi batik yang sesungguhnya bisa diketahui. Sehingga dari filosofi itulah nantinya bisa menghasilkan suatu motif yang khas dari suatu daerah.
“Karena topeng Malangan sudah diklaim oleh Kabupaten Malang. Sedangkan apel miliknya Kota Batu. Maka dari itu saya selalu menggunakan motif dari hasil menggali apa yang ada di sekitar. Karena sebenarnya melukis kaca dan membatik itu sama, hanya beda media,” terangnya.
Sejak saat itu, galerinya yang terletak di Taman Wisata Rakyat Kota Malang semakin ia manfaatkan untuk berkarya menghasilkan lukisan-lukisan kaca dalam berbagai ukuran dan bentuk. Bahkan per harinya, ia dapat menghasilkan lima lukisan kaca yang ia lakukan sendiri di galerinya itu. Dalam satu bulannya, ia bisa meraup pendapatan penjualan lebih dari Rp 6 juta.
Tatik juga beberapa kali dipercayai untuk memberikan materi tentang melukis kaca dan membatik. Meski begitu, pada usia yang telah menginjak setengah abad ini ia semakin giat mengikuti pelatihan membatik untuk memperdalam pengetahuannya.
Salah satunya ketika ia mengikuti pelatihan membatik yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang. Dari puluhan peserta yang mengikuti pelatihan itu, ia kembali berhasil mendapatkan juara I. Konsep yang ia gunakan yakni budaya jaranan yang diumpamakan dengan perjalanan hidup manusia.
“Namun motif-motif yang saya gunakan masih tetap melihat dari apa yang ada di sekitar, saya tuangkan dalam penggayaan pada batik,” jelas dia.
Keseriusannya dalam melukis kaca dengan motif budaya nusantara juga membuatnya menolak mentah-mentah tawaran mengajar sebagai guru tetap di tempat ia mengabdi selama 11 tahun itu. “Sudah ada NUPTK dan memenuhi syarat untuk menjadi guru sertifikasi. Tapi kalau menjadi guru tetap nanti waktu saya habis di situ saya  tidak bisa melukis,” terang wanita berhijab ini.
Bahkan, ia juga semakin semangat untuk mendidik murid-muridnya untuk menghasilkan karya yang bermutu dan bernilai jual. Terlebih mayoritas muridnya merupakan anak dari masyarakat golongan ke bawah. Ia tidak ingin muridnya hanya sekadar menggambar. Namun Tatik selalu berusaha menggali potensi dan membangun jiwa mereka.
Oleh sebab itu, saat mengajar ia tidak pernah mengacu pada kurikulum. Sebab menurutnya itu tidak akan cukup untuk membahas tentang esensi seni dan keterampilan yang sebenarnya. Ia mencontohkan, seringkali mengajari muridnya untuk membuat sesuatu yang bisa bernilai jual dari barang-barang bekas. Terbukti, beberapa dari mereka bisa mengembangkan dan telah menghasilkan sesuatu yang setidaknya bisa terjual.
“Mental seperti itu yang berusaha saya bangun agar mereka bisa berkembang. Setidaknya mereka punya skill untuk meningkatkan SDM mereka. Ada sesuatu yang dibanggakan dengan dirinya sendiri,” pungkas dia.
Tak berhenti dari situ, ia juga aktif bergabung dalam komunitas dan membina pemula dengan cuma-cuma. Terlebih tentang desain batik klasik yang merupakan produk budaya guna menumbuhkan jiwa peduli terhadap lingkungan sosial, tanggap perubahan alam dan gejalanya.
“Sehingga ada kearifan lokal. Ini yang sedang kami gali bersama dalam komunitas. Untuk mencari bentuk yang benar-benar bisa mewakili identitas batik Kota Malang,” pungkasnya.(tia/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :