Rebut Juara I dan II, Mahasiswa ITN Malang Bebas SPP

TERBAIK: Dari kiri ke kanan, Riski Kurniawan, Fellix Christovel Sambaiang, Dian Roby Sugara, Reynhard Bayu Prananda Ghunu, Wahyu Bangkit Pangestuaji dan I Komang Azi Sunarya.
 
Dari Lomba Kuat Tekan Beton 2019 di Surabaya
Dua tim perwakilan ITN Malang berhasil memboyong gelar juara pada Lomba Kuat Tekan Beton (LKTB). Ajang tersebut selenggarakan oleh Universitas Kristen Petra pada 10-12 Mei lalu. Kedua tim perwakilan ITN tersebut meraih juara I dan II, serta berhasil menyisihkan setidaknya lebih dari 70 tim lainnya.
 
ITN sendiri sebelumnya mengirimkan tujuh tim pada kompetisi tersebut, namun terdapat dua tim yang berhasil meraih posisi juara. Tim pertama adalah Tim Engineer yang meraih posisi juara satu. Kemudian ada Tim Beton Tahan Serang (BTS) masing-masing tim tersebut terdiri dari tiga anggota.
Reyhard Bayu Pradana Ghunu, perwakilan dari Tim Engineer mengungkapkan, bagaimana timnya pada akhirnya bisa meraih posisi juara. Menurutnya, bisa meraih juara dalam kompetisi tersebut, karena tahun sebelumnya sudah juarai kompetisi serupa.
“Tahun sebelumnya kita sudah juara tiga, kali ini tinggal perbaiki formulasi bahan beton yang dipresentasikan,” ungkap Reyhard pada tim Malang Post.
Kompetisi LKTB menuntut para peserta untuk menciptakan komposisi beton dengan campuran bahan limbah batu bara (fly ash). Penilaian utama akan dilihat dari kekuatan beton dan juga dari segi efisiensi ekonomi.
“Fly ash sendiri adalah limbah batu bara, yang jika tidak difungsikan akan mencemari lingkungan,” lanjutnya.
Pada saat kompetisi, panitia memberikan waktu setidaknya satu jam untuk mencampurkan bahan beton. Yaitu seperti semen, pasir, fly ash, kerikil dan air. Ia juga menyampaikan, bahwa timnya sempat tak tepat waktu, karena panitia berikan komposisi yang tak sesuai.
Selain itu, penghitungan komposisi yang pas ditengarai juga menjadi aspek utama dalam penentuan juara. Karena kompetisi tersebut menuntut penggunaan bahan selain semen yaitu fly ash. Untuk itu komposisi campurannya harus tepat. Sehingga tetap bisa hasilkan beton yang kuat dan berkualitas.
“Komposisi yang bagus itu antara 45-50 persen, sedang untuk campuran air juga harus pas. Kalau terlalu banyak beton jadi lemah, jika terlalu sedikit air beton jadi terlalu keras,” sambungnya.
Menurutnya, kekuatan campuran limbah batubara dan semen yang dirancang bisa menghasilkan beton mutu tinggi. Yaitu rata-rata 56 mPA, yang setara dengan kekuatan beton untuk membangun gedung-gedung tinggi. 
Sementara itu, tim BTS yang meraih juara kedua. Tim ini juga mengungkapkan rasa senangnya dengan raihan prestasi ini. Meskipun pada kategori yang sama, tim BTS mengaku, menerapkan penghitungan komposisi yang berbeda.
“Rasanya senang sekali, karena baru ikut pertama kali dan langsung raih posisi juara,” kata perwakilan tim BTS Dian Roby Sugara.
Kompetisi tersebut memberikan apresiasi dalam bentuk fresh money, bagi tim juara I mendapatkan Rp 5 juta. Dan tim juara II mendapat Rp 3,5 juta. Pihak ITN sendiri memberikan apresiasi dengan bebaskan biaya SPP selama satu tahun bagi tim juara satu. Dan bebas biasa SPP satu semester untuk tim juara dua.(mg3/sir/oci/ary)
 

Berita Terkait