Pengalaman Nurina Izazi, Enam Bulan di Swedia


Selama bulan Januari hingga Juni 2018, Iza disibukkan dengan kegiatan di laboratorium selama seharian. Dari jam 08.00 hingga jam 16.00. Ketika pulamg dari laboratorium, sesekali, Iza bersama teman-temannya juga menyempatkan diri untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. "Jadwal nge-lab full. Weekend aja kami nge-lab. Kalau ada waktu luang, aku sama teman-teman belajar soal budaya dan lingkungan di sini, main piknik ke taman hingga masak masakan khas Indonesia," papar sulung dari dua bersaudara itu.
Selama di Swedia, Iza juga memgamati banyak hal. Menurutnya, pada negara tersbesar ke empat di Eropa tersebut, banyak fasilitas ruang terbuka, seperti taman yang bisa dikunjungi kapanpun dan tidak dipungut biaya masuk. Selain itu, Swedia juga punya sistem transportasi umum yang bagus, nyaman dan tepat waktu.
Kemudian, Swedia punya tradisi namanya Fika, yakni kegiatan ngopi bareng setiap sore. Ketika weekdays, di tempat kerja, Fika tetap berlaku. "Jadi, setiap jam 15.00 para pegawai bakal istirahat buat ngopi bareng. Sisi positifnya adalah selain buat sarana istirahat, juga bisa bersosialisasi sama rekan kerja. Sekaligus bisa diskusi misal di hari itu ada kesulitan-kesulitan yanh ada,  siapa tau ada yang bisa bantu ngasih solusi," papar dia.
Selain itu, Swedia juga punya sistem pengelolaan sampah yang baik dan terintegrasi. Sampah-sampah rumah tangga dipilah dulu berdasarkan jenisnya. Nantinya, bakal ada truk yang mengambil sampah-sampah itu berdasarkan jenisnya. Prinsip yang diberlakukan adalah reduce, reuse, recycle. Jadi, sampah yang dibuang ke lingkungan itu seminimal mungkin.
"Kemudian, pajak penghasilan di Swedia tinggi banget. Tapi dari hasil pajak itu digunakan untuk akses pendidikan, kesehatan, dan kepentingan publik lainnya. Jadinya pendidikan dan kesehatan gratis buat orang Swedia," kata dia.
Iza menambahkan, sekitar tanggal 22 Juni 2018, Swedia merayakan Midsummer, yakni hari di mana matahari bersinarnya paling lama. Hari tersebut dijadikan hari libur nasional dan rakyat Swedia mengadakan sebuah perayaan.
"Perayaannya mereka bikin mahkotaan menggunakan bunga. Kemudian, mahkota tersebut diletakkan di atas kepala dan masyarakatnya menari bersama. Seru banget," kata dia.
Pada saat di Swedia, Iza juga sempat melewati bulan Ramadan selama di sana, di mana jangka waktunya lebih lama, yakni 19 jam. Jarak untuk buka puasa ke sahur hanya 5 jam.
"Hari H Idul Fitri juga nggak jadi libur nasional. Tetep masuk meskipun paginya Salat Ied. Tapi ada acara kumpul-kumpul sama orang Indonesia dan masak bareng khas lebaran supaya bisa mengobati rasa kangen kepada keluarga," terang dia.
Iza mengungkapkan, selain menimba ilmu di sana, banyak sekali pelajaran yang ia dapat. Apalagi, ini baru pertama kalinya Iza pergi merantau ke negeri orang. Jarak waktu dengan Indonesia selisih lima jam.
"Seneng banget bisa ngerasain pengalaman hidup di lingkungan yg baru dengan orang-orang yang berbeda dan budaya yang berbeda dengan Indonesia. Dukanya karena jauh dari keluarga dan suka kangen makanan Indonesia, sih," papar dia sambil tertawa.
Setelah pulang ke Indonesia, Iza mengaku akan fokus untuk menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Ke depan, ia berencana akan melanjutkan studinya ke jenjang lebih tinggi. "Rencananya mmemang mau ambil S2, tapi masih belum tahu di mana," tandas dia sambil terkekeh.(tea/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...