Munir, Musisi Kampung Spesialis Alat Musik Daur Ulang

 
Di tangan kreatif Munir, barang bekas jadi alat musik. Dipadu dengan suara merdunya, pria 40 tahun itu menampilkan diri sebagai musisi yang menjual kreativitas. Setiap melihat penampilannya, penonton tergerak mengundang atau minimal memintanya nyanyi lagi. Sejumlah pejabat pernah mengundangnya secara khusus. 
Sabtu malam di Pasar Laron, Kota Batu, Munir mendendang lagu ‘Prau Layar. Dari kejauhan, suara merdunya bagai sayup-sayup memanggil penonton. Diiringi bas, simbal dan gendang, terdengar juga alunan melodi. Sekali tampil, kaki dan tangannya memainkan musik. 
Ketika menonton dari dekat, siapa pun terkesima lalu menggoyang kaki. Begitulah aksi Munir ketika ngamen. Tapi jangan salah, semua alat musik yang dimainkan merupakan barang bekas yang didaur ulang. 
Simbal yang biasa digunakannya dibuat dari tutup panci bekas. Sedangkan gendang dari pipa paralon. Galon bekas dijadikannya bas dram. Selain itu dilengkapi tiga bambu berukuran 50 cm sebagai kentongan. 
Suaranya tak hanya mendendang lagu. Saat intro, ia memainkan melodi menggunakan suaranya sendiri. “Melodi cangkem,” katanya tentang kolaborasi musik untuk menghibur penonton. 
Begitu juga dengan lirik yang dinyanyikan selalu disesuaikan dengan situasi yang terjadi. Saat melihat penonton berpasang-pasangan, ia akan memainkan kata. "Golek banyu tekan Jerman, ora kudu ayu sing penting nyaman," katanya dalam lirik. "Tuku kacang kleru mrico, tiwas sayang jebul mung dianggep konco," begitu contoh lainnya.  
Warga Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang ini memang orang seni. Ia selalu bergaya khas kampung. Sejak 11 tahun lalu, dia sudah mulai bergelut di panggung seni. Yakni menjadi pemain ludruk. Bakat yang dimilikinya merupakan kemampuan otodidak. 
Karena tampil unik dan menghibur dengan suara merdunya, Klentung, sapaan akrab Munir, menarik perhatian sejumlah pejabat. Irjen Pol Anton Setiadji misalnya, saat masih menjabat Kapolda Jatim. 
Menghibur jenderal polisi bintang dua, bagi Klentung merupakan penampilan istimewa. Tak hanya itu, ia merasa lebih istimewa ketika menerima bayaran dari Anton Setiadji. “Bayarannya Rp 10 juta. Kaget mendapat uang sebesar itu. Apalagi waktu pulang, saya diantar sama ajudannya sampai rumah," bangganya. 
Sejak dua tahun lalu, Klentung pun jadi langganan kepala daerah. “Saya pernah ditanggap Pak Eddy Rumpoko saat jadi Wali Kota Batu. Abah Anton waktu masih jabat Wali Kota Malang juga pernah undang saya,” katanya. Mantan Bupati Blitar, Heri Nugroho pernah pernah mengundangnya. 
Mantan anggota ludruk Sinar Budaya, Kediri ini mengatakan, seni dan kreativitas tak bisa dipisahkan. Karena ingin jadi seniman total, ia harus kreatif.  "Nah karena itulah saya mencoba kreativitas, mengamen dengan alat musik yang ada dalam rumah. Sedangkan lagunya ya lagu-lagu yang merakyat,” katanya. “Seperti dangdut koplo, Banyuwangian, gendang kempul, pop, campusari, sholawatan dan improv dari melihat suasana sekitar," sambung dia.
Klentung pun mencitrakan diri sebagai pangamen khusus. Karena itu, dia hanya tampil sekali dalam sepekan di suatu tempat. Khusus di Kota Batu misalnya, ia hanya nyanyi di Pasar Laron.  
Kini ayah satu anak itu terus mengeksplorasi diri. Ia selalu berlatih dan berkreativitas. Terutama mengolah suara agar penonton terhibur saat menyaksikan penampilannya. 
Selain berkreativitas dan mengasah naluri seni, Klentung juga mengasah usaha lain. Dari pendapatan yang diperoleh, antara Rp 400 ribu, bahkan pernah mendapat Rp 2 juta hingga Rp 10 juta sekali tampil, ia kembangkan untuk beternak skala kecil.  Yakni membeli sapi yang kini telah berkembang biak. 
"Saya sangat bersyukur dengan kemapuan yang saya miliki dari mengamen ini. Karena ada banyak pejabat yang ternyata menghargai karya dan kreativitas saya tanpa melihat latar belakang," ungkapnya. (eri/van)

Berita Terkait

Berita Lainnya :