Mengenal Makan Konate, Playmaker Andalan Arema FC



MALANG POST - Gaya bermain flamboyan Makan Konate melekat kuat dalam ingatan para suporter tim Arema FC. Walaupun belum lama berkostum Singo Edan, sosok Konate telah diterima Aremania sebagai gelandang andalan. Di balik keglamoran dunia sepak bola Indonesia, Konate adalah seorang muslim taat dan rajin salat.
Mali merupakan negara dengan jumlah penduduk 18 juta orang. Sembilan puluh persen warga Mali beragama Islam. Negara Mali dulunya terkenal sebagai pusat ajaran Islam dan kajian intelektual di benua Afrika pada tahun 1300. Meski sekarang kejayaan Mali sebagai kerajaan Islam telah sirna, masyarakat Mali secara turun temurun mengajarkan Islam yang moderat dan toleran.
Pemberontakan radikal tak serta merta mengurangi spirit Islam karena budaya toleran Islam Mali masih melekat kepada orang-orangnya. Bahkan, rasa toleransi dan ajaran moderat itu terbawa saat pemain-pemain sepak bola asal Mali meniti karir di luar negeri. Contoh nyatanya adalah Makan Konate.
Pemain asing Arema FC ini sudah beberapa bulan berada di Malang. Sebagai pemain, Konate adalah gelandang dengan skill dan insting gol. Banyak berperan juga menjadi pembagi bola. Namun sontekan golnya ke gawang Persija Jakarta pada hari Minggu lalu, membuktikan kualitas Konate dalam mengolah si kulit bundar. Konate juga merupakan seorang dengan karakter tenang ketika berada di luar lapangan.
Dia dikenal pendiam, murah senyum dan tidak manja, di dalam dan di luar lapangan. Konate pun tak segan bercanda dengan pemain-pemain lokal, terutama dengan asisten pelatih Arema Kuncoro. Dia mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan Johan Ahmad Farizi dkk di Singo Edan, serta berkontribusi dalam pertandingan.
Lebih dari itu, pemain berusia 26 tahun ini adalah seorang muslim taat. Di manapun dia berada, baik saat di Malang maupun luar kota, Konate pasti menanyakan keberadaan masjid. Malang Post dalam tur terakhir di Kalimantan Timur, melihat sendiri bagaimana sosok Konate tak lupa menjalankan ibadah salat Jumat walaupun tidak berada di Malang.
Dia juga mengenakan busana wajib tiap menjelang jam Salat Jumat. Yakni, busana panjang terusan sampai mendekati mata kakinya, serta peci yang melekat di kepalanya. Entah ditemani rekan pemain maupun sendirian, Konate selalu buru-buru berjalan menuju masjid terdekat ketika panggilan salat berkumandang.
Kepada Malang Post, mantan pemain Sriwijaya FC ini mengaku senang berada di Indonesia karena kultur Islam moderat yang melekat kepada masyarakatnya. Konate merasa nyaman menjalankan ibadah salat di Indonesia. Karena, dia mudah menemukan masjid ketika berada di Malang maupun di luar kota.
“Saya senang sekali berada di Indonesia. Selama beberapa lama di sini, saya tak pernah kesulitan mencari masjid,” kata Konate kepada Malang Post.
Sebagai muslim keturunan Mali, warisan pengetahuan dan kajian Islam di sana cukup mendalam. Konate pun menyimpan kekaguman kepada Indonesia. Karena, menurut pengetahuan yang dia dapatkan selama belajar Islam di Mali, Indonesia masuk dalam pengetahuan sejarah perkembangan Islam dunia.

Berita Terkait

Berita Lainnya :