Dari Konten Jelajah Kampung, Dipercaya Disparta Kuatkan Desa Wisata

EKSPLORASI KAMPUNG: Muhammad Anwar (34 tahun) dan Ken Sasmito Efendi (43 tahun) sukses ekplore potensi desa melalui konten Jelajah Kampung.
 
Kisah YouTuber Kampung, Muhammad Anwar dan Ken Sasmito Efendi
Potensi yang ada di kampung-kampung di Kota Batu sangatlah besar. Tidak semuanya tereksplorasi, sebelum muncul YouTube Jelajah Kampung. Kreator akun ini, dua pria asli Kota Batu dan Kabupaten Malang, yakni Muhammad Anwar (34 tahun) dan Ken Sasmito Efendi (43 tahun). Mereka memulainya sudah sejak tahun 2015, kini keduanya dipercaya Dinas Pariwisata Kota Batu untuk pendampingan dan pengembangan Desa Wisata.
 
Anwar sapaan akrabnya memiliki ide cemerlang untuk mengangkat kearifan lokal di tiap desa di Kota Batu. Melihat perkembangan zaman, ia membuat konten di YouTube dengan nama Jelajah Kampung. Tujuannya ingin mengangkat potensi yang ada di kampung-kampung. Mulai dari kerajinan, wisata, pertanian, peternakan hingga UMKMnya. 
"Awalnya, saya masih sendiri saat menggarap Konten Jelajah Kampung dan konsepnya masih sangat sporadis," ujar Anwar membuka ceritanya kepada Malang Post. 
Namun setelah berjalan beberapa episode. Ia melihat ada potensi besar dari setiap kampung di Desa/Kelurahan Kota Batu. Ia menyadari jika kampung mempanyai kekuatan dan potensi dengan nilai-nilai ekonomi.
"Jadi yang awalnya saya cuma bermain, ambil rekaman video, berfoto, dan menulis di web ternyata bisa dikembangkan. Yakni perlu pendekatan yang terstruktur, terencana agar kampung bisa berkembang tanpa hilang akar sejarahnya," bebernya. 
Berjalan setahun. Tepatnya 2016 ia bertemu dengan Ken Sasmito Efendi yang beralamat di Perumahan Griya Permata Alam, Desa Ngijo Karangploso, Kabupaten Malang. Kemudian mereka memiliki kesamaan visi untuk mengembangkan potensi sebuah kampung. 
Hal itu dibenarkan oleh Ken, jika sebenarnya konten jelajah kampung diawali oleh Anwar. "Konten ini sudah ada sejak tahun 2015. Apa yang dilakukaan Anwar bisa diprediksi bahwa nilai budaya kampung yang selama ini hampir terkikis bisa diangkat kembali. Bahkan bisa bernilai ekonomis dengan mengangkat kearifan lokal," ungkap Ken. 
Laki-laki kelahiran Surabaya, 11 Desember 1975 ini menceritakan bahwa kampung adalah DNA bangsa yang mulai terkikis. Alasan konten Jelajah Kampung ingin dijadikan Anwar sebagai wadah dan dibagikan kepada Indonesia pada umumnya dan Kota Batu pada khususnya. 
Ia menguraikan lebih lanjut, kegiatan yang berawal dari dolan atau bermain itu ternyata memiliki banyak manfaat. Yakni dengan mendengar banyak cerita, aktivitas, tata nilai dan segala apa yang ada di Kampung.
"Dari situ mulai kami tata berdua. Kalau ngomong pertanian, perternakan, dan kreativitas semua sudah jago. Tapi sayang orientasi cuma hasil. Padahal ada yang bisa diberikan di dalam kampung. Seperti budaya, teknologi bertanam yang dikreasi dari leluhur. Itu sangat penting untuk dilestarikan. Juga menjual untuk sebagai destinasi wisata edukasi," urainya.
Melalui kegiatan sosial itu, ia mulai mengajak dan mengumpulkan masyarakat. Terutama bagi yang sudah sepuh agar mau mengajarkan atau mentranformasikan ilmu yang dimilikinya ke generasi muda. Tujuannya agar apa yang dimiliki secara turun menurun tidak terkubur nantinya saat seorang tutup usia. 
Dari konten yang dibuatnya sejak tahun 2015 itulah, hingga saat ini telah ada 111 video dengan 5,3 ribu subscriber. Dengan isi konten yang beragam. Mulai dari mengangkat potensi Dusun Rejoso, Desa Junrejo sebagai kampung UMKM, urban farming yang ada di Kota Batu, pertanian apel, jelajah hasil produk pertanian apel, jelajah kampung Glintung di Kota Malang hingga jelajah green house paprika di Nongkojajar Pasuruan. 
Dari konten edukatif tersebut. Pada tahun 2018 ternyata dilirik oleh Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu. Sehingga Disparta menggandeng dua orang ini untuk program 'Pertemuan Penguatan Kelembagaan dan Pengembangan Desa Wisata sejak 2018. 
Kembali diceritakan oleh Ken, Disparta tertarik dengan pendekatan partisipatif yang dijalankannya. Sehingga mereka berdua diminta membantu Disparta untuk menguatkan kembali Desa Wisata di Kota Batu. 
"Jadi apa yang kami lakukan dilirik oleh Disparta. Karena sesuai dan sejalan dengan misi Desa Berdaya Kota Berjaya," ungkap laki-laki lulusan alumnus Psikologi Universitas 17 Agustus Surabaya ini.
Kemudian dari kerja sama itulah, setiap minggunya mereka dan Disparta menggelar pertemuan di beberapa desa. Di mana pertemuan itu masyarakat dipandu untuk membuat strategi, gagasan, dan kemudian mengawal secara bersama program yang telah ditata bersama. 
Dalam setiap pertemuan ia menekankan bagaimana sebuah desa wisata yang telah berjalan tidak lepas dari proses manajemen. Atau tidak serta merta jadi. Ada proses perencanaan, pengorganisasian, membangun struktur organisasi untuk berbagi peran. Untuk kemudian implementasi dari tahapan yang yang dibangun. Sehingga, lanjut dia, apa yang telah direncanakan berjalan dengan berkelanjutan. 
Sementara untuk tantangan dalam menjalankan program tersebut adalah komitmen dari masyarakat hingga pemerintah desa. Beberapa tempat diungkapnya tantangan yang dihadapi adalah kehadiran.
"Tapi itu proses alam. Hanya orang-orang yang punya kepedulian dan impian besar aka tetap hadir. Tapi itu bagian dari dinamika kami. Tergantung masyarakat desanya," bebernya. 
Kini, berkat konten Jalajah Kampung yang dikelolanya. Ia dan Anwar dimandati oleh Disparta untuk mengembangkan SDM dan mengangkat potensi di beberapa desa. Meliputi Pandanrejo dengan potensi kampung strawberi,  Sidomulyo dengan bunga, wisata air dan perikanannya, Gunungsari dengan wisata petik mawar.
Serta Desa Tulungrejo dengan perkembunan apel dan beberapa objek wisatanya, Desa Songgokerto dengan warisan cagar budaya dan sport tourismnya, Desa Junrwjo dengan kampung edu wisata UMKM.(eri/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :