Belajar Otodidak Sulap Honda C70 jadi Choppy Cup

MEJENG : Muhammad Arifin bersama motor costum yang tengah digarapnya Jalan Diran, Gang 2 RT 5 RW 2 Kelarahan Sisir, Kecamatan/Kota Batu.
 
 
Muhammad Arifin dan Hobi Custom Motor 
DUNIA otomotif memang tak pernah habis untuk dikulik. Di tangan berbakat, sepeda motor yang awalnya tak terawat mampu disulap menjadi karya bernilai seni tanggi.
 
 
Itulah yang dilakukan oleh warga asal Jalan Diran, Gang 2 RT 5 RW 2 Kelarahan Sisir, Kecamatan/Kota Batu, Muhammad Arifin. Di tangan terampilnya, Ghober sapaan akrabnya mampu menyulap Honda C70 manjadi sebuah choppy cub. Ia pun kerap diganjar prestasi dari setiap event yang diikutinya. 
 
Keluarga Ghober bukanlah keluarga kaya raya. Almarhum ayahnya dulu bekerja sebagai jupang terminal (pencari penumpang, red) dan ibunya menjadi pekerja rumah tangga. Namun keterbatasan itu tak membuat Ghober patah semangat. Ia konsisten dengan minatnya dan mampu membuat karya serta mengukir prestasi di bidang otomotif hingga tingkat nasional. 
 
"Saya memang suka dunia otomotif. Tepatnya sejak SMP," ujar Ghober membuka ceritanya kepada Malang Post. Namun, ia menyadari otomotif bukan hobi murah. Ia juga sadar dengan keadaan orangtua yang jauh dari mampu. Karena itulah Ghober mencari komunitas motor untuk tahu tentang dunia balap. 
 
"Karena dulu masih SMP dan pingin punya sepeda tapi nggak keturutan. Akhirnya ikut temen-temen lihat balapan liar di Jalan Diponegoro tiap malam minggu," beber laki-laki kelahiran Batu, 18 Oktober 1983 ini. Baginya kala itu, sekadar menonton balap liar adalah hal sangat menantang. Meski sekarang ia menyadari hal tersebut sangat berbahaya. 
Menonton balapan ternyata belum mampu memenuhi rasa penasarannya tentang dunia otomotif. Demi memenuhi keingintahuannya yang sangat tinggi, Ghober pun sering bermain di bengkel di Jalan Diran, Kota Batu 
Di bengkel tersebut, sang ayah juga bekerja sampingan menjadi penjaga rumah. Hal itu dimanfaatkan oleh Ghober untuk belajar mesin. "Awalnya saat pulang sekolah main ke situ hanya lihat-lihat. Kemudian disuruh bantu ambil barang. Hingga akhirnya belajar bongkar mesin sampai diajari naik sepada motor," kenangnya. 
 
Cerita berlanjut saat ia masuk SMA Islam Batu. Ghober mulai meminta kepada orangtuanya untuk membelikan motor sebagai transportasi ke sekolah. Namun karena dana terbatas, iapun hanya dibelikan sepeda Honda C70. 
"Itu pun sudah bikin saya senang banget. Dari situ saya mulai bongkar dan modifikasi sepeda milik saya. Awalnya gagal. Tapi saya tak mau menyerah dan terus mencoba," paparnya. 
 
Ghober tahu harus memiliki modal untuk uji coba merombak sepeda, karena itu, sepulang sekolah ia juga bekerja sebagai tukang tambal ban. Pekerjaan itu dilakoninya selama tiga tahun mulai 2003-2006. Ia bekerja setiap hari di luar jam sekolah dan tak minder atau malu sama sekali. 
 
Selain belajar merombak dan custom motor, Ghober juga belajar ngecat hingga ngelas. Semua ia lakukan dengan trial dan error, otodidak.  "Jadi semua belajar sendiri, yang penting berani belajar. Awalnya ya hasilnya jelek, tapi lama kelamaan akhirnya memuaskan," tegasnya. 
 
Setelah mulai menguasai berbagai keahlian itulah, Ghober mulai melihat kesempatan untuk ikut dalam kontes atau lomba. Baik tingkat lokal, provinsi hingga nasional. 
 
 
Dia mulai ikut lomba Honda C70 di Malang yang digelar oleh Honda Otomotif Contest. Peluang untuk menorehkan prestasi mucul saat event HMC kategori sepeda di bawah 2006 choppy. Ia mampu memborong Juara 1, 2, 3 dengan tiga costum sepeda yang berbeda di Samarinda tahun 2007. Kemudian di tahun 2014 dalam event Honda Modify Contes di Kediri Jatim Juara 3, Kelas Japs/Old school. Dilanjut dengan Juara II Surya Nation Street Cup/Choppy Cup di Rampal Malang dari puluhan peserta dari seluruh Indonesia tahun 2016. 
 
Terbaru, tahun ini, FDR The Best FFA atau bebas yang digelar di Kota Batu, Minggu (10/3) lalu dengan peserta dari beberapa daerah. Tentu, dengan raihan prestasi dan proses yang dilaluinya tersebut menjadi kebanggaan baginya. Karena dari hobi itu, ia mampu membuat karya dan meraih prestasi. Bahkan ia mampu memiliki bengkel sendiri yang dinamai dengan Ghober Dagelan Kastem yang berdiri sejak empat tahun lalu.
 
Menurutnya, persiapan mengikuti kontes, setidaknya membutuhkan tiga bulan untuk menggarap sepeda. Mulai dari membuat rangka, kaki berupa pelek, hingga skok. Kemudian finishing.
"Sangat senang. Meski tak semua sepeda yang saya garap milik saya. Jadi ada beberapa adalah pesanan orang untuk diikutkan kontes. Ini juga menjadi pekerjaan dan tanggungjawab saya. Kalau menang, ikut bangga juga," tuturnya.
 
Kini ia telah banyak pesanan sepeda untuk di-costum. Khususnya Honda C70. Setiap bulannya Ghober mampu mengerjakan dua sepeda untuk dirombak menjadi Choppy Cub. Dengan biaya pengerjaan setiap sepeda mulai dari Rp 7,5 juta – Rp 15 Juta.(eri/han)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :