Banggakan Kota Malang, Raih Medali Perak dan Perunggu di Brasil


MALANG - Rasa bangga menyelimuti keluarga pasangan Ahmad Faizin dan Ersty Estya Wati. Pasalnya, anak-anaknya yang terjun menjadi atlet, berhasil meraih prestasi tingkat dunia. Dua dari empat anaknya, berhasil membawa medali dari Kejuaraan Dunia Wushu Junior, yang berlangsung di Brasil. Berbeda minat olahraga, nyatanya darah beladiri mengalir pada putra-putrinya tersebut.
Ahmad Ghifari Fuaiz dan Aqila Ghaida Fuaziah. Dua remaja ini, dua pekan lalu baru kembali dari Brasil. Kalungan medali perak dan perunggu, tidak hanya membanggakan orang tua mereka, namun juga Indonesia. Berjuang jauh di negara paling timur Benua Amerika, selama hampir dua pekan, Ghifari dan Aqila pulang tidak dengan tangan hampa.
Ghifari, sang kakak, menyabet perak setelah menjadi juara II kategori Boys Group A Jianshu (pedang) dan perunggu dari juara III kategori Boys Group A Qiangshu (tombak). Sedangkan, Aqila menyabet perak setelah menjadi juara II kategori Girl's Grup C Daoshu (golok).
Mereka menjadi wakil Indonesia, setelah berhasil melewati Kejurnas dengan torehan dua medali emas di tingkat nasional. Bersama 21 atlet lain, Ghifari dan Aqila berjuang di Brasil, yang akhirnya membawa pulang 10 medali dan tiga di antaranya dari atlet Kota Malang tersebut. Mereka pun harus bersaing dengan 15 negara lain seperti Malaysia, Amerika Serikat, Italia, Turki, Iran, Tiongkok hingga Hongkong.
Ghifari dan Aqila pun tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Sebab, meski masih di kelas junior, nama mereka sudah mendunia.
"Pastinya saya bangga dengan prestasi yang saya raih bersama adik saya Aqila," ujar Ghifari kepada Malang Post.
Menurutnya, perjuangan tidak mudah, karena dirinya harus bersaing dengan atlet dari negara yang kerap berprestasi di olahraga tersebut. Misalnya Tiongkok dan Malaysia. Bahkan, Ghifari harus dua kali mengakui kehebatan atlet Malaysia.
"Saya dapat perak di kategori pedang setelah kalah dengan atlet wushu asal Malaysia. Kalau kategori tombak saya kalah dengan atlet dari Malaysia dan Amerika Serikat," jelas pemuda 18 tahun itu.
Hasil yang dia peroleh, juga harus disertai dengan niat dan kerja keras. Sebab, sejak pertengahan Juni lalu, dia dan adiknya harus berlatih intensif ke Surabaya. Selama seminggu tiga kali, setiap Senin, Rabu dan Jumat.
"Selama dua minggu latihan kami sangat intensif. Padahal masih suasana lebaran," ungkapnya.
Namun, dia meyakini pengorbanan tersebut tidak sia-sia. Prestasi, bakal digapai saat mereka bekerja keras. "Intinya menjadi seorang juara harus kerja keras, bisa melawan rasa malas dan beratnya latihan. Terpenting lagi mental harus kuat," tambah dia.
Sang adik Aqila mengaku senang bisa bertanding hingga ke luar negeri apalagi mendapatkan medali. Dia senang, mendapatkan banyak pengalaman dan teman baru yang ditemuinya di Brasil saat kejuaraan.
"Tapi bedanya di Brasil nggak ada nasi. Jadi untuk tetap jaga kebugaran kita biasa makan telur dan sereal. Serunya di sana itu bisa kumpul bareng sama teman-teman dari negara lain juga," sebut pelajar SMPN 8 Malang itu.

Berita Terkait

Berita Lainnya :