Alkhawarizmi Rasyad Rabbani Bocah Istimewa dari Lowokwaru


Alkhawarizmi Rasyad Rabbani adalah bocah istimewa. Usianya baru 10 tahun, namun ia sudah jago membuat coding. Bahkan mampu menghasilkan beberapa aplikasi dan game. Keistimewaan lainnya, ia juga membuka kelas private khusus coding, untuk anak-anak seusianya.
Didampingi kedua orang tuanya, yakni Slamet Hariadi dan Vita Swastika, bocah yang akrab disapa Ariz ini, berbagi cerita dengan Malang Post. Sejak berusia sekitar 7 tahun, ia mulai tertarik untuk belajar coding.
"Saat itu, Ariz memang senang utak-atik coding. Setelah itu, saya berusaha mengarahkan dan mencarikan banyak referensi tentang coding. Sejak itu, Ariz mulai belajar secara otodidak," terang Slamet.
Dalam masa belajar coding, Slamet mencarikan beberapa referensi pembelajaran coding melalui e-book. Pelan-pelan, ia mulai mendampingi putranya untuk belajar step by step.
"Setelah itu, Ariz kemudian minta untuk dicarikan teman, yang sedang sama-sama belajar coding. Namun, saya tidak langsung turuti," kata pria yang memiliki usaha di bidang IT tersebut.
Ketika  itu, Slamet tidak menuruti keinginan anaknya itu bukan tidak memberi dukungan. Namun, ia menginginkan sang putra belajar lebih giat lagi sembari dirinya mencari informasi komunitas coding yang bisa diikuti oleh putranya.
"Kemudian, sekitar bulan November 2018, kami menemukan Ngalup Co-Working Space, di sana banyak sekali komunitas. Akhirnya mencoba datang ke sana dan ikut komunitas," jelas Slamet.
Setelah mempelajari banyak hal, Ariz kemudian diminta oleh Ngalup untuk sharing ilmu bersama dengan teman-teman seusianya.
"Saat itu, ada kelas untuk mengisi liburan sekolah, Ariz dipercaya untuk sharing ilmu dengan teman-temannya. Ketika saya tanya, dia langsung mau dan senang sekali," papar dia sambil tersenyum.
Di kelas pertamanya, ia mengajar kurang lebih 20 anak seusianya. Dengan telaten, ia mengajarkan tahapan-tahapan coding. Mulai dari belajar scratch dan lainnya. Scratch itu nama aplikasi membuat game, bisa online maupun offline.
"Melihat antusias teman seusianya, ia semakin semangat belajar untuk memperkaya ilmunya. Sejauh ini, ia sudah beberapa kali mengisi kelas yang sama di sana,” papar Slamet.
Meski memiliki hobi utak-atik IT, Slamet mengaku hal tersebut tidak mengganggu prestasi akademis anaknya. "Sistem pembelajarannya hampir sama dengan sekolah. Ada ujian juga, nilai-nilainya masih bagus semua. Hobinya sama sekali tidak mengganggu akademis," papar dia.
Sejak saat itu, banyak sekali orangtua yang tertarik untuk meminta anaknya menggeluti coding. Kemudian, meminta Ariz mengajarkannya. Setiap satu minggu sekali, Ariz mengajar kelas private untuk beberapa anak.
"Jumlahnya sekitar enam sampai tujuh orang. Biasanya memberikan kelas di sekitar Sulfat," kata sulung dari tiga bersaudara ini.
Sementara, Ariz mengaku senang bisa mempelajari coding dan membagikan ilmunya kepada teman-teman sebayanya.
"Awalnya tertarik belajar coding karena memang seneng banget main game. Terus kepengin buat sendiri," papar bocah yang homeschooling ini.
Ketika menggeluti coding, Ariz berhasil membuat beberapa game. Di antaranya Tower Defense, Fruit Slicer, Plant vs Zombie versi scratch, Mobile Legend sederhana versi scratch dan masih banyak lagi. Selain itu, ia juga membuat beberapa karya animasi, seperti animasi berjalan, animasi stick man bertarung, animasi blooper super mario versi scratch dan masih banyak lagi.
"Untuk game yang versi scratch, saya bikinnya menggunakan aplikasi scratch, bisa online maupun offline. Tapi, swringnya offline," papar dia.
Selama ini, Ariz mengaku tidak mendapat kesulitan yang serius ketika membuat animasi maupun game. "Paling kalau udah buat game, udah bikin, terus game-nya crash atau nggak bisa dibuka. Ya harus ulang lagi dari awal," kata dia sambil terkekeh.
Belum lagi, lanjut bocah berkacamata ini, ketika sedang membuat aplikasi, tiba-tiba serangan badmood datang. “Ngaturnya itu susah. Kalau capek ya istirahat dulu,” papar bocah kelas 4 SD itu.
Ke depan, Ariz mengaku akan terus belajar dan banyak membagikan ilmunya dengan teman-teman sebayanya. Sebab, tak menutup kemungkinan, ke depan, ilmu tentang teknologi akan banyak diburu orang.
"Pengin belajar lagi bikin aplikasi dan game. Soalnya memang seru. Mudah-mudahan bisa sukses," tandas pria yang tinggal di Jalan Tenis Meja, Tasikmadu Kecamatan Lowokwaru Kota Malang ini.(Amanda Egatya/ary)

Berita Terkait