Pelatihan Membatik, Berharap Ada Kampung Batik



MALANG - Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang kembali mengadakan pelatihan bagi wirausaha baru. Mengangkat tema 'Pembinaan dan Pelatihan Keterampilan Kerja bagi Masyarakat Calon Wirausaha Baru melalui Pelatihan Membatik' di Hotel Pelangi, harapannya dapat mengangkat para wirasauhawan batik di Kota Malang.
Pelatihan batik diikuti 60 peserta ini digelar selama lima hari, yakni hingga 8 Juni mendatang. Mereka belajar tentang cara mendesain kain, mencanting, pengerjaan warna, penguncian warna serta perebusan sampai proses akhir menjadi batik.
"Kenapa membatik. Karena kita punya nilai luhur. Indonesia merupakan negara yang punya budaya batik. Dimana-mana semua punya ciri khas dan model masing-masing dari batik leluhur yang perlu dikembangkan dan digali," terang Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang, Tri Widyani Pangestuti, Senin (4/6) kemarin, saat pembukaan acara.
Menurutnya, pihaknya tidak hanya menggencarkan pendekatan melalui berbagai pembinaan dan pelatihan, juga menangani usaha kecil dari hulu ke hilir. Artinya, membantu dari bagaimana menumbuhkan, mengembangkan serta menciptakan produk yang berkualitas.
"Kemudian melakukan pendampingan, akses permodalan, pemasaran dan seperti apa packagingnya itu juga tidak kalah penting. Itu yang selalu digarap," papar dia.
Dengan begitu, lanjut wanita berhijab ini, program UMKM naik kelas di Kota Malang dapat terwujud. Dengan pelatihan batik seperti ini, ia juga mengungkapkan keinginannya agar suatu saat muncul kampung tematik baru. Pelatihan ini didanai dari dana bagi hasil cukai tembakau (DBHCT).
"Salah satu seni kreatifitas itu membatik. Komunitas-komunitas batik diharapkan benar-benar bisa mewujudkan kampung tematik batik," lanjutnya.
Menurutnya, batik tidak hanya dapat dibuat pada media kain, juga bisa dikembangkan pada dekorasi rumah, papan, dinding maupun asesoris lainnya.
"Kalau kita mau mewujudkan dan mengembangkan itu, kuncinya ya pada diri kita sendiri," tandas Yani, sapaan akrabnya.
Konsultan Klinik Bisnis Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang, Irfan Fatoni juga menjelaskan pentingnya wirausaha melihat dan mengambil peluang yang ada. Ia mencontohkan dari pelatihan batik ini, wirausaha baru dapat membuka bisnis laundry.
"Atau membuat deterjen yang dikhususkan untuk batik. Itulah peluang yang harus kita ambil," kata Irfan, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut ia memenjelaskan perbedaan antara entrepeneur dengan survival. Menurutnya, kebanyakan pelaku UMKM hanya berada pada tingkat survival.
"Jadi survival itu asalkan usahanya jalan saja. Tapi kalau entrepeneur bisa mengembangkan usahanya lebih besar. Menjadi entrepeneur inilah yang kami harapkan dari pelaku UKM," tandasnya. (mg6/aim)

Berita Lainnya :