Pantau Pertumbuhan Bisnis Skala Menengah



MALANG - Tingginya tarif cukai tembakau langsung mempengaruhi industri rokok skala menengah di Kota Malang. Berbeda dengan bisnis emas di Kota Malang yang kini sedang bertumbuh. Karena itu Pemkot Malang melalui instansi terkait memberi perhatian pada pertumbuhan berbagai industri.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian Kota Malang, saat ini hanya tersisa  54 pabrik rokok yang masih bertahan. Padahal sebelumnya pada tahun 2016 tercatat ada 155 pabrik rokok yang produksi.
“Karena tarif cukai hasil tembakau semakin besar  memberi dampak kepada pelaku industri tembakau yang masuk dalam kelas menengah,” kata Kepala Dinas Perindustrian Kota Malang M Subkhan.
Ia menerangkan kenaikan tarif cukai tembakau berdampak pada tingginya biaya produksi. Namun disisi lain, tidak diimbangi dengan pendapatan usaha. Terlebih dalam menggaji karyawannya.
Selain melejitnya tarif cukai rokok, gulung tikarnya pabrik rokok juga dipengaruhi peredaran rokok ilegal. Terkait peredaran rokok ilegal, pemerintah daerah selalu bekerja sama dengan Kantor Bea Cukai untuk memberantasnya.
“Lalu faktor lainnya adanya kampanye anti-rokok. Termasuk adanya kawasan tanpa rokok," imbuhnya.
Dinas perindustrian, lanjut Mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Malang ini, berupaya menjembatani pihak pabrik rokok dengan kementerian. Antara lain menyuarakan cukai rokok tidak dinaikan lagi. Bahkan, pihaknya telah menyampaikan surat aspirasi dari para pengusaha rokok  ke pemerintah pusat.
Meski industri kelas menengah cenderung menurun, industri besar Kota Malang malah tercatat ada peningkatan. Subkhan sebelumnya menjelaskan terdapat 16 unit industri besar berdiri di Kota Malang.   
“Yang meningkat adalah industri besar seperti di bidang emas perhiasan, karoseri dan rokok,” ungkap Subkhan.
Ia kemudian menuturkan industri besar memang memberikan sumbangsih terbanyak untuk pendapatan daerah. Hampir 90 persen pendapatan daerah di bidang industri dan perdagangan  berasal dari emas perhiasan.
Bidang karoseri pun turut memberikan sumbangsihnya dan cenderung baik dari tahun ke tahun. Akan tetapi, Subkhan menjelaskan peningkatan ini tidak dibarengi dengan tren kenaikan investasi yang meninggi pula.
“Makin banyak karena portal dan kebijakan untuk berinvestasi di Kota Malang semakin dipermudah. Tren peningkatan investasi industri ini pun terjadi di semua daerah,” jelasnya.
Sebagai upaya lebih meningkatkan industri di Kota Malang, Dinas Perindustrian mulai melirik tren industri lainnya yang semakin naik daun. Salah satunya adalah industri rotan atau mebel.
Ia menjelaskan, industri rotan di Kota Malang mampu melakukan ekspor sampai keluar negeri. Di antaranya Malaysia, Jepang dan Eropa.
“Industri Kecil Menengah (IKM) juga sedang bagus di Kota Malang. Saat ini kami sedang berupaya melakukan sertifikasi kepada IKM-IKM yang berpotensi,” pungkas Subkhan. (ica/van)

Berita Terkait