Harga Tiket Pesawat Tahan Angka Inflasi Kota Malang


MALANG – Kenaikan daya beli masyarakat dan mahalnya harga tiket pesawat terbang tidak banyak mempengaruhi angka inflasi bulan Mei 2019 di Kota Malang. Meski awalnya sempat mengkhawatirkan dengan dua kenaikan itu, dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, angka inflasi justru tertahan di angka 0,35 persen.
Angka itu lebih rendah dibandingkan inflasi bulan April  lalu, yang berada di angka 0,44 persen. Penurunan tarif angkutan udara sebesar 0,50 persen berpengaruh signifikan terhadap menurunnya angka inflasi Kota Malang.  Sementara untuk inflasi tahun kalender sebesar 1,27 persen, sedangkan inflasi year on year (yoy) sebesar 2,81 persen.
"Jika dibandingkan angka inflasi Jatim sebesar 0,27 persen, angka inflasi Kota Malang masih di atasnya. Di Jatim Kota Malang menempati urutan kelima setelah Sumenep, Jember, Madiun, dan Banyuwangi," kata Kepala BPS Kota Malang, Sunaryo, kemarin dalam rilisnya.
Tapi lanjutnya, jika dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,68 persen, Kota Malang masih di bawahnya. Hal ini dikatakan pula disebabkan oleh berbagai upaya yang dilakukan TPID, inflasi Kota Malang tidak lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Sejumlah komoditi yang menjadi penyebab inflasi diantaranya, kenaikan bahan makanan sebesar 1,23 persen yang meliputi cabai merah, daging ayam ras, daging sapi, kelapa, dan harga tomat
"Selain itu, inflasi juga disebabkan kenaikan harga sandang sebesar 0,95 persen, harga makanan jadi, dan rokok tembakau sebesar 0,16 persen, serta harga perumahan yang naik sebesar 0,13 persen," paparnya.
Sedangkan komoditas penghambat inflasi, selain turunnya harga tiket pesawat juga disebabkan oleh turunnya harga bawang merah sebesar 9,84 persen.
 "Turunnya harga sayuran, beras, minyak goreng, emas perhiasan, tarif kereta api, bandeng, dan pasta gigi juga menjadi penghambat inflasi," ungkap Sunaryo.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Azka Subhan Aminurridho menilai, kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang menurunkan tarif angkutan udara ternyata berhasil menekan inflasi.
"Kebijakan Kemenhub menurunkan tarif pesawat secara tiba-tiba itu ada dua spekulasi. Angkutan udara ini bisa menekan inflasi atau tidak, dan ternyata terbukti bisa," ujarnya. Menurutnya, angka inflasi yang terjaga meski di momen Ramadan hingga lebaran,
merupakan sinyal yang cukup baik agar ekonomi stabil. "Dengan angka inflasi segitu, kami optimis angka pertumbuhan bisa mendekati 6 persen," pungkasnya. (ica/aim)

Berita Terkait