Tantangan Turbulensi di Tempat Landing

 
BATU - 67 atlet asal Indonesia dari berbagai daerah mulai berdatangan dan langsung melakukan latihan resmi di Gunung Banyak, Kota Batu, Kamis (12/7). Pada gelaran kejuaraan dunia yang laksanakan mulai hari ini, 13-15 Juli mendatang, bakal menjadi tantangan bagi atlet-atlet asal Indonesia untuk meraih juara pada kejuaraan dunia Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) 2018 dan Paradigling Accuracy Asian Cup 3rd.
Gunung Banyak Kota Batu sebagai tuan rumah dua kejuaraan dunia menjadi tempat olahraga dirgantara yang sulit ditaklukan. Pasalnya, banyak atlet Indonesia yang mengakui jika angin di lokasi landing tidak beraturan atau turbulensi.
Kolonel dr Elisa Manueke, peraih juara dunia PGAWC seri IV Slovenia tahun lalu mengatakan, dirinya dan seluruh atlet Indonesia yang berpartisipasi dalam PGAWC seri III dan Paradigling Accuracy Asian Cup 3rd bakal memberikan yang terbaik dan meraih semua podium yang ada.
"Kami datang kemarin dan mulai pagi sudah melakukan latihan resmi. Memang dalam seri Accuracy di Gunung Banyak ini menjadi tantangan bagi semua atlet. Tak hanya Indonesia, tetapi luar negeri," ujar Elisa kepada Malang Post.
Ia menjelaskan, tantangan tersebut diartikannya dengan kondisi angin saat landing mengalami turbulensi atau berputaran. Itu karena kondisi geografis di area landing yang berkolak. Selain itu adanya pohon bambu di sekitar tempat landing.
"Itu membuat posisi landing menjadi sangat sulit. Sehingga tidak mudah bisa meraih mendarat sempurna di titik 22 cm. Jadi hanya orang hebat dan lucky yang bakal meraih nilai sempurna nantinya," beber laki-laki yang juga altet Pelatnas Asean Games ini.
Meskipun begitu, Elisa menambahkan, hingga seri PGAWC seri II di Kazakhtan atlet putra putri Indonesia meriah juara kembar. Begitu juga yang beregu memborong juara 1, 2 dan 3.
"Indonesia sekarang berada di atas angin untuk nomor accurasi. Ini sejarah baru dan kali pertama nama Indonesia naik di rangking tertinggi dunia. Utamanya pada tahun lalu yang menjadi juara umum berseri PGAWC. Kita berharap sebagai tuan rumah kami bisa mempertahankan juara kembali," tegasnya.
Sementara itu, Roni Pratama, atlet Pelatnas asal Kota Batu mengatakan jika dirinya bersama 18 atlet Pelatnas lainnya telah melakukan latihan mulai Selasa (10/7) lalu. Dari latihan dua hari yang dilakukan, ia mengungkapkan jika cuaca hingga Minggu (13/7) akan sedikit berkabut. Sehingga hal itu dirasanya sangat tricky atau rumit.
"Memang di Gunung Banyak bisa dibilang tricky. Tinggal mental dan keburuntungan besok saat kejuaraan mulai digelar. Namun saya pastikan semua atlet dari Indoneaia, baik tergabung dalam Pelatnas maupun individu bisa memberikan yang terbaik," paparnya.
Ia mengungkapkan, dalam kejuaraan dunia itu, diakuinya jika Thailand dan Tiongkok menjadi lawan terberat yang bakal dihadapi Indonesia. Dalam pertandingan sebelumnya, ia mampu meraih nomor 4. Di mana ia harus berkejar-kejaran dengan Tiongkok dan Serbia dengan hanya selisih 2 cm saat menginjak titik dead center. (eri/lim)

Berita Lainnya :