Soal Saracen, Eggi Sudjana Laporkan Eks Staf Ahok


JAKARTA - Eggi Sudjana diwakili kuasa hukumnya Razman Nasution mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Pusat untuk melaporkan ketua organisasi sindikat penyebar ujaran kebencian Saracen, Jasriadi. Kuasa hukum Eggi juga ikut melaporkan Kabid Seknas Joko Widodo Deddy Mawardi dan eks staf Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Sunny Tanuwijaya.
Nama Sunny pernah disorot ketika diisukan ikut berperan dalam pembahasan Raperda Reklamasi. Krisna Murti, Pengacara Sanusi tersangka kasus suap Reklamasi Pantai Utara Jakarta menuding Sunny menjadi perantara Pemerintah DKI Jakarta dengan PT Agung Podomoro Land (APL) Tbk.
Terkait laporan Eggi, ketiga orang itu disebut Razman telah melakukan fitnah terhadap kliennya itu terkait keterlibatan di grup Saracen. Laporan tersebut diterima pihak Bareskrim dengan nomor laporan LP/866/VIII/2017/BARESKRIM. "Kami melaporkan pertama Jasriadi, Deddy Mawardi dan Sunny Tanuwijaya," kata Razman di Bareskrim Mabes Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (28/8).
Deddy Mawardi dilaporkan karena dianggap telah menyebut-nyebut nama Eggi sebagai pihak yang 99 persen terlibat grup Saracen. Deddy bahkan menyebut Eggi seharusnya diperiksa dan segera diusut atas keterlibatannya dalam grup Saracen yang menyebar hoax dan ujaran kebencian. "Maksudnya, dia itu menyebut kalau Abang, 99 persen gabung, tapi saat dia ucapkan itu, kalimatnya sangat luar biasa profokatif, tentu ini berbahaya," ujarnya.
Lebih lanjut, Razman menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Cyber Crime Bareskrim Polri terkait permasalahan yang menjerat Eggi seputar dugaan keterlibatan dalam sindikat Saracen. "Seperti yang sudah kita duga dan terawang, kasus ini termasuk dalam pasal 45 ayat 3 dengan perubahan atas Undang-Undang ITE 11 tahun 2008 dan dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara," tuturnya.
Razman berharap Bareskrim segera menindaklanjuti aduan kliennya dengan cepat seperti ketika polisi memproses Jasriadi yang disebut-sebut sebagai pemimpin kelompok Saracen.
Eggi sendiri saat ini dikabarkan sedang menjalankan ibadah haji dan baru berangkat tadi malam. Namun, keberangkatan mantan pengacara First Travel itu menurut Razman bukan upaya Eggi untuk mangkir dari pemeriksaan. Eggi Sudjana, kata Razman, akan tetap kooperatif dan melakukan pemeriksaan secepatnya setelah pulang dari Arab Saudi. "Saya pastikan akan pulang, dia bukan Habib Rizieq yang enggak pulang," jelas Razman.
Terpisah, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) menelusuri transaksi keuangan yang dilakukan pengelola grup penyebar konten ujaran kebencian dan bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di media sosial, Saracen.
Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, penyidik telah menemukan data transaksi keuangan yang dilakukan Saracen dalam bentuk temuan sejumlah nomor rekening.
Data itu ditemukan setelah penyidik melakukan pemeriksaan digital forensik terhadap 120 gigabyte (GB) data milik pengelola grup Saracen yang tersimpan di dalam komponen penyimpan data, berupa hard disk drive (HDD) dan flashdisk. "Penyidik dalami transaksi keuangan yang dilakukan kelompok ini, sudah didapat ada beberapa rekening," kata Martinus di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, kemarin.
Dia menuturkan, pihaknya akan melakukan penyidikan lebih lanjut terkait temuan ini untuk mengungkap aliran dana dan sosok yang berada di balik pemesanan konten ujaran kebencian dan bernuansa SARA. Penyidikan ini dilakukan lantaran Saracen diketahui mengunggah konten ujaran kebencian dan bernuansa SARA berdasarkan pesanan pihak-pihak tertentu.
Pengelola grup Saracen memasang tarif puluhan juta bagi pihak-pihak yang ingin memesan konten ujaran kebencian dan bernuansa SARA. "Beberapa rekening akan dianalisis untuk bisa diketahui aliran dananya. Apa ada pemesanan dan komunikasi terkait upaya penyesatan informasi yang ada," ungkap Martinus.
Terkait jumlah nominal transaksi keuangan Saracen, Martinus mengatakan penyidik masih melakukan pendalaman terhadap temuan itu. "Analisis rekening, penerima, pengirim, dan berapa jumlah uangnya masih didalami," tuturnya.
Tiga orang pengelola grup Saracen ditangkap Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim di tiga tempat berbeda di rentang waktu 21 Juli hingga 7 Agustus.  Ketiganya berinisial JAS (32), MFT (43), dan SRN (32). Mereka ditangkap dengan dugaan menyebarkan ujaran kebencian lewat Saracen. Ketiganya dijerat dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). (cnn/ra/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :