Gempa Kembali Guncang Lombok

 
MATARAM - Lombok kembali diguncang gempa berkekuatan 6,2 SR, Kamis (9/8). Belum pulih akibat gempa 7 SR Minggu (5/8) lalu, kini warga harus kocar kacir dan menanggung trauma berkepanjangan. Keluarga Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) M Zainul Majdi juga jadi korban.  Salah seorang putrinya, Azzadina Johara Majdi, terkena imbas dari gempa yang terjadi di Lombok Utara. Ketika itu, Azzadina tengah berada di bangunan pendopo gubernur. Tak disangka, terjadi gempa. Sejumlah bagian bangunan runtuh dan menimpa balita berusia 4 tahun tersebut.
"Kejadian cukup cepat. Azzadina mengalami beberapa luka," ujar salah seorang staf pribadi TGB, Febry. Ia mengatakan kondisi Azzadina kini telah berangsur-angsur membaik setelah menjalani perawatan. "Alhamdulillah, semakin stabil. Tadi siang sempat drop, karena mungkin syok," katanya. 
Sementara itu, suasana kemarin siang benar-benar kacau. Warga yang masih trauma dengan gempa 7 SR beberapa hari lalu dikagetkan dengan gempa berkekuatan 6,2 SR. Setelah bergetar beberapa detik, rumah terasa diangkat, lalu bruk...!!! rumah dibanting ke bawah. 
Sirin Hawari, 11 tahun histeris. Dia berlari tunggang langgang mencari tempat aman lantaran gempa mengguncang rumahnya di Dusun Montong Sager, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. Saat itu ia sedang berada di dalam rumah bersama sang bapak. Guncangan yang cukup hebat membuat dia dan warga lainnya lari kocar kacir, termasuk relawan medis yang tengah mengobati pengungsi. 
Sirin hampir pingsan di pinggir jalan. Wajahnya pucat dan kakinya gemetar. Demikian juga dengan Humaira, teman sebaya Sirin. Mereka menangis histeris sejadi-jadinya sambil berpelukan di pinggir jalan. Tangan Humaira tidak henti-hentinya menggigil. Padahal dua anak itu baru saja mendapatkan trauma healing dari relawan yang datang ke kampungnya.  
Suasana kemarin siang benar-benar kacau.  
”Tenang-tenang...tenang,” teriak Haliludin, salah seorang relawan yang ada di lokasi itu. 
Tapi seruan tersebut tidak mempan. Warga sudah terlanjur kocar kacir, berlarian menyelamatkan diri.  Termasuk para pengungsi yang ada di dalam tenda. Seperti Mardiatun Jannah, 22 tahun yang sedang hamil besar. Perempuan yang mengandung anak pertamanya ini baru saja pulang mengecek kesehatan karena masih trauma dengan gempa Minggu lalu. 
Ibu hamil itu tidak kalah kaget, sekuat tenaga ia berlari sambil memegang perutnya. Beruntung selamat dari reruntuhan bangunan di sekitarnya. Tapi tubuh Mardiatun lemas dan wajahnya pucat pasi. ”Perut tidak sakit tapi saya takut,” katanya. 
Sementara itu, dampak yang ditimbulkan gempa kemarin tidak kalah dengan gempa-gempa sebelumnya. Di Desa Taman Sari, rumah-rumah warga kembali ambruk. Mereka yang sebelumnya tidak mengungsi kini ikut membangun tenda, tidak ada lagi warga yang berani tinggal di rumahnya. 
Sementara di Kota Mataram toko-toko ambruk, bahkan salah satu karyawan toko di kawasan Cakranegara tewas tertimpa bangunan. Demikian juga dengan kota tua Ampenan, hancur babak belur. 
Gempa yang terus menerus melanda Lombok semakin membuat warga trauma. Warga yang sebelumnya sudah kembali ke rumah kini kembali membangun tenda di lapangan terbuka. Meski rumahnya tidak roboh, namun warga takut karena gempa setiap saat bisa terjadi. 

Berita Terkait

Berita Lainnya :