105 Jiwa Meninggal Dunia, 21 Desa Masih Terisolir


MATARAM - Pusat gempa ada di Lombok Utara, tapi korbannya merata di semua wilayah Pulau Lombok. Mereka tersebar di kampung-kampung, mengungsi di tanah kosong dengan tenda seadanya. Kini, dua hari setelah gempa, warga mulai kekurangan stok makanan. Air bersih juga makin sulit didapatkan. Warga juga membutuhkan selimut dan tenda pengungsian yang layak, Selasa (7/8).
Seperti yang dialami warga Dusun Limbungan Selatan, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Di kampung itu, hampir semua rumah warga luluh lantak. Warga hanya bisa pasrah dengan kondisi itu. Rumah mereka tidak bisa ditempati lagi. Untuk sekedar berteduh, beberapa keluarga berkumpul dan membuat tenda dari terpal dan bambu. Bahkan untuk mandi, mencuci dan buang air, warga membuat MCK dadakan.
Tapi kini para korban mulai resah. Persediaan makanan yang mereka kumpulkan mulai menipis, beras, gula, minyak goreng, dan lauk pauk makin sedikit. Tidak akan cukup untuk beberapa hari ke depan. Kondisi itu mulai membuat warga resah. Seperti Amaq Suli, pria yang sehari-hari bekerja serabutan itu bingung, makanan sudah hampir habis. Keluarganya kini hanya memiliki 10 biji lontong untuk dimakan bersama tujuh orang anggota keluarga.
”Ini lontong sisa kemarin kami tidak berani habiskan, biar ada buat makan besok,” kata pria paruh baya itu.
Lontong itu dibeli Masrah, istrinya seharga Rp 10 ribu. Lontong itu menjadi pengganti nasi karena beras sudah tidak ada. Masrah mengaku, ia membeli lontong dari sisa hasil menjual cilok sebelum gempa. ”Ini sekadar buat ganjel perut,” katanya pasrah.
Amaq Suli mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah. Sejak gempa menghancurkan rumahnya, tidak ada bantuan yang datang. Baik dalam bentuk makanan, minuman maupun tenda. Keluarga Suli tidak seberuntung keluarga lain, saat Lombok Post (Grup Malang Post) menemuinya mereka belum punya tenda. Sehingga pada malam hari mereka kedinginan. ”Mudahan ada yang bisa bantu kami,” katanya dengan nada iba.
Hal yang sama juga dikeluhkan Abdulrahim. Sejak hari pertama gempa ia dan 11 kepala keluarga lainnya bergotong royong membuat tenda dari terpal. Di sana mereka makan dan tidur bersama sekitar 50 orang dengan anak-anak. Kini stok makanan sudah hampir habis. Itupun makanan yang disumbangkan keluarga dan kerabatnya. ”Mana listrik mati, rumah kami rusak,” keluhnya.
Ia mengaku sangat kecewa. Hingga kemarin belum ada bantuan datang. Karena kesal, ia dan warga lainnya baru saja menyampaikan protes kepada kepala desa setempat. Warga mendesak agar bantuan segera disalurkan.
”Di sini banyak anak kecil, kasihan kalau malam mereka kedinginan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah cepat tanggap. Bantuan mestinya tidak hanya disalurkan ke Lombok Utara saja, tetapi mereka yang ada di Lombok Barat juga sama-sama membutuhkan. Hal serupa dikeluhkan Mahsan, warga Dusun Pemegatan, Desa Taman Sari. Kampung mereka belum mendapat perhatian sama sekali. Padahal rumah satu kampung roboh seperti warga lainnya. Meski kampungnya cukup jauh dari jalan besar, berada di pinggir hutan, mereka juga butuh bantuan segera. ”Tenda kami tidak ada, di sana banyak orang tua dan anak-anak kasihan sekali,” keluhnya.
Ia sudah menyampaikan protes ke pemerintah desa, tapi sepertinya tidak bisa terlalu banyak berharap. Mereka hanya ingin kebutuhan dasar itu terpenuhi. ”Bagaimana coba, tolong kita dibantu,” katanya.
Malam sebelumnya, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi meminta agar semua korban gempa mendapatkan bantuan. Termasuk yang mendesak adalah bantuan makanan dan tenda. Dapur umum juga sudah dibuat di beberapa titik dengan melibatkan banyak pihak.
Hanya saja karena dampak gempa cukup luas ke beberapa daerah. Hampir semua warga belum berani pulang ke rumah. Sehingga kemungkinan besar masih ada yang belum tersentuh. Pemerintah akan berupaya agar semua kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan tenda tempat berteduh akan dipenuhi.
”Kalau memang dirasakan masyarakat kita 12 jam belum mendapat makanan, kami minta maaf, tapi setelah itu terus kita perbaiki,” katanya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum meminta aparat desa, dan BPBD kabupaten aktif melaporkan data dan kondisi warga terdampak. Mereka harus tetap melaporkan ke Posko Komando Tanjung. Bila pemerintah setempat tidak aktif mendata dan tidak melaporkan, maka bantuan dari pusat dan provinsi tidak bisa disalurkan.
”Penyaluran bantuan tidak boleh liar, semua harus sesuai data,” tegasnya.  
Bila data jelas maka bantuan akan cepat disalurkan. Menurutnya persediaan logistik dan kebutuhan dasar lainnya mencukupi, tinggal disalurkan. Tapi syaratnya data penerima harus jelas.
Rum mengingatkan, pemerintah kabupaten tidak boleh enggan datang ke Posko Tanjung, karena itu posko provinsi yang menjadi lokasi komando bagi semua daerah. BNPB tidak mungkin menggelar rapat di semua kabupaten. ”Kalau malas mengurus warganya tidak usah dipilih lagi,” tegasnya.

Berita Terkait

Berita Lainnya :