Rendra Kresna: Surplus Daging Kabupaten Capai 25,3 Ton Per Tahun

 
LENGUH sapi yang tengah birahi, bersahutan. Layaknya konser, sekitar 150 ekor sapi melenguh menarik perhatian. Ya, mereka minta di-IB (Inseminasti Buatan). Disuntik sperma beku (straw) agar bisa bunting.
“Saat seperti ini (progam IB), yang kami tunggu,” ucap Pitoyo, anggota Kelompok Ternak Sapi Potong Wonokoyo, Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. 
Pagi itu, Pitoyo membawa empat ekor sapinya. Mulai jenis Simental, Limousine, Brahman sampai sapi lokal. 
“Ada yang waktunya di-IB. Ada pula yang hanya butuh disuntik vitamin. Karena sudah bunting,” timpal Pitoyo dengan wajah sumringah.
Tidak hanya Pitoyo. Ada 100 peternak lainnya, membawa pula sapinya ke lapangan. Tujuan dan harapannya sama. Mereka ingin sapinya bisa bunting. Sebab, jika sapi bunting maka ekonomi mereka sangat diuntungkan.
‘’Kami mendapatkan IB-nya gratis. Tidak bayar sama sekali,’’ katanya. 
Proses pembuntingan sapi ditangani tim Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB). Sebuah tim khusus bentukan Dinas Peternakan (Disnak) Jatim.
Di Wonoayu, anakan sapi (pedhet) usia 5 bulan harganya sangat mahal sekali. Bahkan, pedhet jenis limousine milik Ahmad Fauzi, Kaur Keuangan Desa Wonoayu dibanderol Rp 14 juta. 
‘’Anaknya saja sudah mahal. Apalagi kalau sudah dewasa. Harga jual sapi usia 2,5 tahun bisa mencapai 28 juta,’’ papar Fauzi.
Beranggotakan sekitar 30 orang. Tim UPSUS SIWAB datang dari Surabaya dengan peralatan lengkap. Plus aneka vitamin dan straw berbagai indukan sapi. Ada straw sapi limousine, sentimental dan brahman. 
‘’Tidak setiap hari ada progam suntik IB seperti ini. Makanya, saat ada kunjungan tim UPSUS SIWAB peternak sangat senang,’’ jelas Wina Nurnama S.Sos., M.Si, Kepala Desa Wonoayo. 
Sepuluh tahun lalu, Desa Wonoayu sangatlah miskin. Desa merah. Desa miskin dan tertinggal yang terdaftar di Kementerian Desa Tertinggal. Tetapi berkat kerja keras Pemerintah Provinsi Jatim dan Pemerintah Kabupaten Malang serta dukungan warganya, kini Wonoayu berubah total.Desa Wonoayu telah menjadi desa maju. Menjadi desa makmur. Karena mayoritas penduduknya kini peternak sapi yang berhasil.
‘’Sekarang mau beli tanah, bisa. Mau beli rumah, bisa. Sekolah anakpun terjamin. Sudah banyak juga yang naik haji dari jualan sapi,’’ tambah bu Kades yang sangat dihormati penduduknya ini. 
Jumlah Kepala Keluarga (KK) Wonoayu 392 KK dengan penduduk 1.550 jiwa.  Sedang jumlah peternaknya ada 302 KK. Capaian Desa Wonoayu, kini berpengaruh sampai di tingkat kabupaten. Saat ini populasi ternak di Wonoayu kurang lebih 833 ekor sapi. Terdiri sapi jantan 147 ekor dan betina 686 ekor. Sedang populasi se Kecamatan Wajak 17.687 ekor. Terdiri jantan 8.470 dan betina 9.217 ekor.
Bupati Malang, Dr. H. Rendra Kresna menyebutkan, progam UPSUS SIWAB sangat ampuh. Tidak hanya diterapkan di Wajak saja. Tapi juga dilakukan di sentra-sentra ternak sapi lain di Kabupaten Malang. 
Hasilnya, kini rata-rata kelahiran sapi di wilayah Kabupaten Malang kini mencapai 60 ribu ekor per tahun. ‘’Dan kontribusi inseminasi buatan terhadap pembangunan di Kabupaten Malang rata-rata mencapai Rp 510 miliar,’’ tandas Rendra. 
Tidak itu saja. UPSUS SIWAB juga mampu menopang progam swasembada daging di Kabupaten Malang. Jumlah penduduk Kabupaten Malang 2,576 juta jiwa. Kebutuhan daging per tahun hanya 16.490 ton. Sedang ketersediaan daging mencapai 41.858 ton. Atau surplus 25.367 ton daging setiap tahun.
‘’Selain memakmurkan warga peternak. Progam UPSUS SIWAB berdampak terhadap ketersediaan daging segar untuk wilayah lain di Jatim. Karena tiap tahun kita menyumbang minimal 25 ribu ton daging segar untuk masyarakat Jatim,’’ tandasnya. (has/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :