Karangploso, Dau, Singosari, Titik Merah Terorisme


MALANG - Berdasarkan riset, ternyata Malang merupakan salah satu wilayah berkembangnya paham terorisme di Jatim. Namun demikian dalam pencegahan dan penindakan terduga teroris, kepolisian tak boleh gebyah uyah. Juga jangan sampai terkesan alergi terhadap simbol-simbol tertentu.
Hal tersebut diungkapkan Pakar Hubungan Internasional dan Terorisme Universitas Brawijaya (UB) Yusli Effendi, S.IP, MA kepada Malang Post. Ia membeber hal itu berdasarkan hasil penelitian.
“Perlu diingat bahwa Malang bukan tempat baru sarang teroris. Karena pada tahun 2014 lalu deklarasi ISIS di Dau,” bebernya.  
Menurut riset yang dilakukan Yusli, titik merah atau basis sebaran terorisme bermunculan di wilayah Kabupaten Malang. Bahkan beberapa tahun belakangan makin meluas. Ia memparkan wilayah merah yakni di Singosari, Karangploso dan  Dau.
Berdasarkan catatan Malang Post, operasi penindakan terhadap jaringan terorisme memang pernah dilakukan di Ngijo, Karangploso pada tahun 2016. Yakni terhadap jaringan Romli. Pada Juni 2017 lalu, Densus 88 Polri kembali melakukan penangkapan terduga teroris di Singosari.
Tiga kawasan tersebut dianggap sebagai titik merah karena jauh dari sorotan publik. Selain itu kata Yusli, tidak dekat dengan pemukiman padat penduduk. Sudah begitu, dari sisi geopolitik, Malang merupakan daerah tujuan mahasiswa dari berbagai kawasan. Mahasiswa merupakan salah satu target penyebar ideologi terorisme.
Karena menjadi tempat berkembangnya terorisme, maka penegak hukum harus ekstra hati-hati dalam penindakan. “Pola penangkapan dan penggeledahan yang dilakukan harus transparan dalam informasi sembari memperhatikan asas kehati-hatian,” ungkap Yusli.
Dosen yang sering menjadi pembicara tentang terorisme pada berbagai seminar itu
Menuturkan transparansi informasi kepada publik sangat dibutuhkan untuk mengindari adanya opini liar berkembang. Karena berpotensi membuat situasi semakin keruh.
Kepolisian merupakan pihak berwenang yang memberikan keterangan resmi terkait operasi terorisme. Karena itulah dalam memberikan informasi harus profesional. “Memang tidak mudah, ada perdebatan juga soal ini. Karena di sisi lain polisi juga menjaga informasi yang bersifat rahasia demi keamanan.  Tapi pada sisi lain juga harus memberikan informasi pada publik,” tandasnya.
Meski begitu hal ini bisa disiasati oleh aparat penegak hukum dengan memperhatikan asas keterbukaan. Informasi mengenai tindakan yang dilakukan sekecil apapun harus dibuktikan kepada publik apakah informasi benar atau tidak.
Hal ini pun dapat membantu aparat kepolisian agar tak dianggap gebyah uyah atau asal menangkap semua yang dicurigai.  “Tanggapan pakai cadar lalu diperiksa, nah ini yang harus dihindari jangan sampai terbangun opini publik yang miring. Harus ada pembuktian dan diinformasikan,” tegasnya.
Yusli menerangkan publik perlu mengetahui pola baru terorisme yang berubah. Dimana perempuan dan anak-anak saat ini dilibatkan dalam aksi-aksi terorisme. Hal ini dianggapnya sebagai adopsi dari pola terorisme luar negeri.
Kaum perempuan yang melakukan aktivitas terorisme terlihat dalam konsep “Black Widow” seperti yang ada di Rusia. Dimana perempuan pelaku teror muncul berawal dari kesedihan akan kematian suami mereka yang dibunuh oleh pemerintah Rusia.
“Nah kalau di Indonesia bisa jadi sama seperti itu. Tetapi ditambah lagi dengan latar jika suami mereka pun bisa berjuang sahid mengapa istri tidak? Ini merupakan efek “shaming” dari seorang perempuan yang dimanfaatkan,” paparnya.
Bahwa, lanjut Yusli, dengan beraninya perempuan maju mati sahid akan membuat malu kaum lelaki. Sehingga bisa berbuat lebih. Selain itu keterlibatan perempuan dan anak-anak yang selama ini tidak pernah terpikirkan menjadi pelaku terorisme menjadi alasan.
Yusli menyebutnya sebagai blindspot. Dimana selama ini yang diketahui menjadi pelaku utama terorisme selalu didominasi kaum laki-laki. Maka kaum perempuan dan anak-anak tidak terlalu terawasi.
“Masyarakat dan aparat keamanan harus bekerja sama. Saling mengawasi lingkungan masing-masing. Karena pola-pola tindakan teror semakin berkembang,” tegasnya. (ica/van)

Berita Lainnya :