Hentikan Revitalisasi Pasar Dewi Sri

 

MALANG - Harga kios yang terlalu mahal, menjadi masalah utama keresahan para pedagang Wisata Pemandian Dewi Sri, Pujon. Nilai yang ditawarkan tak sebanding dengan luas bangunan kios. Hal ini, ditegaskan Amin Wahyudi, Ketua Persatuan Paguyuban Pasar Dewi Sri.
“Sebetulnya banyak faktor yang menjadi keresahan pedagang. Salah satu yang utama adalah harga kios yang ditawarkan,” ujar Amin Wahyudi kepada Malang Post. Menurutnya dengan ukuran kios 3 x 3 meter, pedagang diminta untuk membeli Rp 100 juta. 
Harga tersebut, dinilai tidak semestinya. Apalagi sifatnya hanya sewa selama 15 tahun dengan mendapatkan SK, bukan sertifikat hak milik. “Kalau harga segitu, bisa dihitung berapa harga permeternya, kan jelas tidak umum,” terangnya. 
“PD Jasa Yasa, selaku pengelola semestinya tidak seperti itu. Pedagang merasa sangat keberatan dengan nilai segitu,” tambah dia. Yuyud, sapaan akrab Amin Wahyudi mengatakan, bahwa yang memiliki niatan revitalisasi pasar adalah pihak PD Jasa Yasa. 
Sebelum revitalisasi dimulai, pedagang sudah menawarkan untuk membangun kios sendiri agar anggaran yang dikeluarkan tidak terlalu tinggi. Bahkan, pedagang juga pernah memberikan petisi ke pihak pengelola Pemandian Dewi Sri, dengan menawar harga kios Rp 57 juta. 
Itupun dengan ukuran 3 x 4 meter, bukan 3 x 3 meter. Sebab, jika ukuran 3 x 3 meter itu, sebenarnya bukan kios tertutup melainkan bedak terbuka. “Tawaran Rp 57 juta pada petisi itu, harapan kami ketika dinaikkan paling tinggi antara Rp 60 juta sampai Rp 65 juta,” ungkapnya. 
Ia beralasan, harga awal yang ditawarkan oleh PD Jasa Yasa antara Rp 120 juta sampai Rp 150 juta. Yuyud mengatakan, pernah sekali pihak pengelola mengajak musyawarah. Itupun bukan soal revitalisasi yang dibahas, melainkan tetap masalah harga yang ditawarkan pengelola. 
Sedangkan petisi terkait kerjasama pedagang ingin membangun kios sendiri, sama sekali tidak dibahas. Harga Rp 80 juta untuk kios ukuran 3 x 2,5 meter dan Rp 100 juta untuk kios ukuran 3 x 3 meter, hanya kesepakatan pengelola dengan ketua dua paguyuban, ketika pertemuan di Surabaya. 
Yuyud, mengaku sama sekali tidak menandatangi kesepakatan itu.  Bahkan, kesepakatan harga itu, juga tidak dengan semua pedagang, hanya beberapa saja. Itupun pedagang juga langsung diminta membayar Rp 5 juta untuk uang muka. 
“Katanya kalau tidak mau bayar uang muka, pedagang tidak akan mendapatkan kios. Ini sama saja dengan penekanan. Buktinya sekarang dengan kesepakatan itu, pedagang resah,” urainya. Pedagang juga meminta revitalisasi lahan parkir dihentikan, karena belum memiliki izin dan gambar. 
Termasuk dampak dari pembangunan itu, membuat pedagang banyak yang sakit batuk karena debu. “Lumpur meluber ke jalan raya. Ini belum musim hujan sudah meluber, bagaimana nanti saat hujan. Apalagi tebing yang dibangun sangat tinggi. Kami meminta pembangunannya dihentikan,” tutup Yuyud. (agp/mar)

Berita Lainnya :