FPMM Gelar Aksi Senyap


MALANG - Warga Desa Mangliawan akhirnya melakukan aksi  terkait polemik sumber air Wendit. Mengatasnamakan Forum Peduli Masyarakat  Mangliawan (FPMM) mereka melakukan aksi senyap, Jumat (12/7) malam. Mereka memasang dua banner di depan pagar bangunan pompa air Wendit milik PDAM Kota Malang, di Dusun Wendit Barat, RT 03 RW 04 Kecamatan Pakis.
Koordinator FPMM Rokimin mengatakan pemasangan banner ini merupakan wujud dari kekesalan warga. Pihaknya memasang banner malam hari, setelah ada pertemuan sebelumnya. Mantan Ketua BPD Desa Mangliawan ini menguraikan, Jumat (12/7) malam lalu, dia ada para tokoh masyarakat Desa Mangliawan menggelar pertemuan.
Lokasinya pada salah satu rumah warga di Dusun Lowoksuruh, Desa Mangliawan, pertemuan itu digelar mulai pukul 20.30. Warga membahas tentang pengelolaan sumber air wendit oleh PDAM Kota Malang.
"Yang kami bahas saat itu adalah soal Amdal, perizinan dan pengelolaan air di sumber air Wendit, oleh PDAM Kota Malang," akunya.
Rokimin mengatakan, jika selama ini PDAM Kota Malang tidak pernah transparan soal pengelolaan air di sumber air Wendit, termasuk tidak memiliki Amdal.
"Dari hasil pembahasan itulah, maka kami pun sepakat menggelar aksi damai dengan memasang banner, yang berisi tuntutan warga" katanya.  
Dia menyebutkan, banner tersebut dipasang pukul 23.30, setelah pertemuan dengan tokoh masyarakat di gelar. Ada dua banner yang dipasang. Banner pertama bertuliskan 'Masyarakat Mangliawan butuh transparansi pengelolaan dan penggunaan sumber air Wendit'. Sedangkan banner kedua bertuliskan 'Kami masyarakat Mangliawan tidak mau dibodohi'.
"Tuntutan ini sebetulnya sudah sering kami utarakan. Kami masyarakat Mangliawan ini sebetulnya tidak mau muluk-muluk, butuh transparansi saja dari PDAM Kota Malang. Karena selama ini, mereka tidak transparan," katanya.
Terlebih masalah kompensasi, dikatakan Rokimin, PDAM Kota Malang sudah melanggar. Dalam aturannya disebutkan Rokimin, PDAM Kota Malang harus memberikan 15 persen air ke warga sekitar. Namun faktanya, kata Rokimin, PDAM Kota Malang hanya mendistribusikan air tidak lebih dari lima persen.
"Kami ingin tahu, sebetulnya berapa air yang diambil PDAM Kota Malang dari sumber air Wendit. Itu saja kok, ndak banyak,” ujarnya.
Rokimin juga mengatakan, aksi damai yang dilakukan warga ini bukan terakhir. Tapi dia akan melakukan aksi damai lanjutan. Bahkan, Rokimin juga mengatakan hendak mengadu ke presiden RI terkait dengan persoalan ini.
"Ya jika PDAM kembali tak merespons tuntutan kami, satu-satunya cara adalah mengadu ke presiden lagi, seperti tahun-tahun sebelumya," tambahnya.
Namun demikian, untuk mengadu ke presiden FPMM masih menunggu dari ketegasan Pemerintah Kabupaten Malang.
"Ini kan juga jelas, bangunan tidak ada izin, tidak ada amdal. Ya semakin jelas kan. Tapi kami masih menunggu juga. Jika Pemkab Malang tegas, kami tidak bertindak lebih jauh. Tapi jika Pemkab Malang tidak tegas, warga yang. Akan bersikap tegas," tandasnya.
Aksi FPMM ini senyap alias tak diketahui banyak orang. Termasuk Ketua RT03 RW04, Desa Mangliawan, Heru Suwanto. Ia mengaku tidak tahu menahu aksi tersebut. Ditemui Malang Post di rumahnya, Heru mengaku tidak tahu adanya banner itu.
"Jumat malam, saya lewat belum ada banner itu. Hanya papan yang dipasang Satpol PP Kabupaten saja yang ada," kata Heru.
Heru juga mengaku tidak mengetahui siapa yang memasang. Terlebih di tempatnya juga tidak ada laporan.
"Betul kami tidak tahu. FPMM itu apa kami juga tidak tahu," ungkapnya.
Ditanya apakah warga pernah mengeluhkan tentang sumber Air Wendit? Heru menggelengkan kepala. Dia mengaku, sejak tiga tahun terakhir, PDAM Kota Malang sudah memberikan kompensasi, yaitu memberikan air 25 meter kubik per bulan.  
"Dulu memang pernah mengeluh, itu karena suara dari pompa air itu sangat bising. Tapi sekarang tidak," katanya.
Ucapan yang sama juga disampaikan Harianto. Warga yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari pompa air Wendit ini. Ia mengatakan tak pernah mengeluhkan kebedaraan pompa air milik PDAM Kota Malang tersebut.(ira/ary)

Berita Lainnya :