Ada Dua Arung, Situs Sekaran di Tengah 4 Candi Besar


MALANG – Tim Badan Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Provinsi  Jawa Timur, akhirnya memperpanjang waktu ekskavasi Situs Sekaran, di Dusun Sekaran, Desa Sukopuro, Kecamatan Pakis. Ekskavasi yang rencananya dijadwalkan hingga Sabtu (16/3) lalu, akan berakhir hingga Kamis (21/3) mendatang. Diharapkan dengan perpanjangan waktu ini, tim BPCB dapat mengidentifikasi pasti bentuk dan luasan situs.
”Saat ini sudah mulai terlihat sebetulnya. Dan kami terus gali untuk dapat mengidentifikasi secara jelas bentuk serta luasannya,’’ kata arkeolog BPCB Provinsi Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho.
Dari hasil ekskavasi ini dikatakan Ucok, begitu Wicaksono Dwi Nugroho akrab dipanggil, nantinya akan menjadi bahan untuk dikeluarkannya rekomendasi kepada pihak PT Jasamarga Pandaan Malang (JPM) selaku pelaksana pembangunan tol Pandaan Malang.
”Setelah ekskavasi  akan digelar FGD dengan PT Jasamarga Pandaan Malang. Kami menyajikan data saja. Dan data kami ini akan kami kirim ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan Jasamarga juga membawa data kami ke Kementerian PUPR, untuk kelanjutan pembangunan tol, mengingat situs ini berada di akses tol Pandaan Malang,’’ ungkapnya.
Ucok juga menyebutkan, jika dari tujuh hari melakukan eskavasi situs Sekaran, bentuk situs sudah sedikit terkuak. Di mana menurut pria yang juga menjabat sebagai Pengkaji Pelestarian Cagar Budaya, BPCB Jatim ini  situs tersebut merupakan pondasi sebuah bangunan.  Di mana bagian timur terdapat gerbang, kemudian latar, dan trap yang menjadi anak tangga, serta pintu yang ditunjukkan dalam bentuk lorong berukuran 80 centimeter.
”Setelah dari pintu itu ada bangunan utama. Nah ini kami masih mencari lagi, apakah dari bangunan utama ini ada ruangan-ruangan lagi atau tidak. Sekarang masih dilakukan penggalian,’’ ungkapnya.
Situs yang ditemukan itu merupakan bangunan juga dikuatkan dengan temuan pecahan tembikar dan keramik. Pecahan tembikar dan keramik itu di temukan paling banyak di area bangunan utama, dan bagian belakang.
”Kami melakukan rekonstruksi bangunan, untuk mencari data sebagai bahan kajian. Rekonstruksi bangunan ini kami buat dengan batasan benang putih,’’ ungkap pria yang kesehariannya tinggal di Mojokerto ini.  
Dalam rekosntruksi awal juga, Ucok mengatakan jika situs ini merupakan bangunan, maka bangunan tersebut berdinding kayu dan beratap ijuk. Hal ini dikuatkan, karena di sekitar situs tak ditemukan pecahan genting.  ”Kalau mengacu pada garis rekonstruksi yang kami buat, bangunan ini tepat menghadap pada Gunung Semeru,’’ ungkapnya.
Dan yang menarik, temuan situs ini berada di tengah, di antara empat candi yang ada di Malang Raya. Yaitu Candi Badut, Candi Jago, Candi Kidal maupun Candi Singosari.
Ucok yang melakukan kajian dengan menggunakan teknologi menyebutkan, jarak situs dengan Candi Badut sekitar 8 kilometer, dengan Candi Jago berjarak 9 kilometer dengan Candi Singosari berjarak 8 kilometer, sedangkan dengan Candi Kidal berjarak 7 kilometer.