Korban 20 Siswi, Pulihkan Psikologis Anak


MALANG - Komite SDN Kauman 3, Nanang Dwi Priono mengakui ada lebih dari 20 siswa yang diduga menjadi korban kejahatan seksual. Oknum guru olahraga berinisial IS, 59 itu diduga menggerayangi siswi-siswinya sejak tahun 2018. Dugaan kejahatan guru berusia 59 tahun itu baru ketahuan pada akhir Januari 2019.
“Kami tidak tahu sebelumnya, tahu setelah ada rapat 29 Januari 2019, dan para wali murid mengadu, lebih dari 20 (korban),” kata Nanang kepada wartawan. Para wali murid baru mengetahui buah hatinya digerayangi pelaku saat anak-anaknya mengadu. Dari pengaduan ini, wali murid langsung protes keras dalam rapat.
Namun pihak sekolah dan komite, menurut pengakuan Nanang, tidak melaporkan pelaku ke polisi. Dia dikembalikan ke Dinas Pendidikan dengan harapan, kasus ini tidak terbuka ke ruang publik. Nanang beralasan bahwa beban psikologis akan menimpa anak-anak ketika publik tahu tentang perbuatan IS kepada mereka.
Dia membantah bahwa komite dan sekolah melarang wali murid melapor ke polisi atau membukanya ke wartawan. “Gak ada larangan. Komite dan sekolah tidak ada kata melarang. Kami mengimbau. Kami berpandangan bukan untuk nama sekolah karena itu bisa diperbaiki. Tapi, psikologi anak, itu yang kami pikirkan. Anak-anak akan melekat terus, kami takut dampaknya,” ujarnya.
Hanya saja, media memiliki garis etik yang jelas, untuk melindungi korban kekerasan seksual, terutama anak-anak. Bahkan, sampai tiga kali edisi tulisan Malang Post tentang dugaan kejahatan seksual oknum guru ini, tidak ada satu pun nama murid dan orangtua korban yang dipublikasikan.
Sebaliknya, membiarkan pelaku kejahatan seksual seperti IS hanya dinonaktifkan dari kegiatan belajar mengajar, tidak adil bagi para korbannya. Sentuhan busuk tangan pelaku kejahatan seksual kepada anak-anak, sudah berdampak pada masa depan dan pertumbuhan emosional dan mental korban.