Ingatkan Wartawan Harus Melek Hukum


MALANG – Memperingati Hari Pers Nasional (HPN), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya mempertemukan kembali wartawan-wartawan senior, baik yang masih berkecimpung di dunia jurnalistik maupun yang sudah tidak. Mereka wartawan yang berasal dari era 1970, 1980, 1990 hingga jelang milenium berkumpul bersama untuk berdialog.
Bertempat di ruang pertemuan Ocean Garden Kota Malang, Minggu (10/2), tidak hanya wartawan senior tiga generasi saja yang hadir, wartawan di era kekinian juga hadir. Sehingga menjadi pertemuan wartawan lintas generasi. Melakukan refleksi dunia jurnalistik dari masa ke masa.
“Silaturahmi wartawan lintas generasi ini sengaja kami gelar bertepatan dengan HPN. Selain untuk mengumpulkan kembali balung tua, pertemuan ini sekaligus refleksi kami sebagai wartawan dari masa ke masa. Juga untuk banyak belajar pengalaman dari para wartawan senior yang sudah banyak asam garam pada zamannya,” kata Ketua PWI Malang Raya M. Ariful Huda.
Hadir dalam silaturahmi wartawan lintas generasi itu antara lain, Yunanto, Gatot Sukardi, Dr. Muzakki, Prof Hendrikus, Mondry, Widodo Irianto, Agus Purbianto, Suyitno, Bambang Sutedjo, Aris, Benny S Handono. Amrullah, Imam Muslikh dan lainnya. Hadir pula Anggota DPR RI Ridwan Hisjam dan Rektor IKIP Budi Utomo Nurcholis Sunuyeko.
"Silaturahmi dengan para wartawan senior, bisa beri masukan saran untuk wartawan generasi milenial jalankan kerja jurnalistik. Ini juga dalam rangka penyusunan buku tentang sejarah PWI di Malang Raya dari masa ke masa dan perjalanan wartawan di masanya masing-masing,” ungkapnya.
Yunanto mantan wartawan Surabaya Pos menegaskan, wartawan sekarang harus melek hukum. Karena banyak aturan hukum yang dapat menjebaknya. Jangan sampai wartawan terjebak di dalam aturan yang telah dibuat pemerintah.
“Masih ada aja sampai sekarang wartawan tidak bisa membedakan mana alat bukti dan barang bukti. Dua istilah sudah berbeda arti, tapi kadang salah penggunaan,” terangnya.
Tidak hanya mengkritisi kondisi kekinian dunia jurnalistik, banyak para wartawan senior membuka kembali memori bagaiamana perjuangan wartawan di eranya dengan segala keterbatasannya, mulai mengetik dengan mesin tik,  beralih ke komputer dengan WS sampai dengan era windows. Sekarang sudah zamannya wartawan di era android.
“Para wartawan saat ini jangan melupakan pendidikan. Jangan puas dengan yang ada, kalau bisa lanjutkan pendidikannya yang nanti akan berguna dan bermanfaat. Bila perlu, PWI ini mendirikan sekolah tinggi jurnalistik di Malang. SDM untuk pengajar dan persiapan kurikulum sudah siap. Di Malang, banyak wartawan senior yang sudah siap untuk mengajar, ada yang sudah profesor, doktor, dan lainnya,” jelas Mondry, mantan wartawan Harian Pelita.
Pertemuan menjadi sangat gayeng, selain sebagai ajang reuni bagi para wartawan senior yang sudah banyak tersebar di berbagai bidang, ada yang menjadi advokat, dosen, pengusaha dan lainnya. Wartawan muda pun banyak mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga dari para wartawan senior yang hadir. (fin/aim)