Tekan Biaya Bertani, Misyanto Sulap Genset Pakai Elpiji


BATU - Petani Kota Batu terus berinovasi. Salah satunya seperti dilakukan Misyanto, petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji. Pria 34 tahun itu memanfaatkan bahan bakar alternatif untuk bertani. Yakni mengganti  solar dengan gas elpigi 3 Kg sebagai penggerak genset untuk menyiram lahan pertanian.
Misyanto mengatakan, ide tersebut karena lahan pertanian yang dikerjakannya seluas 7 hektare berada di tebing. Kemiringannya hampir 60 persen. Sehingga untuk mencari air sangat sulit, harus menggunakan mesin bantuan untuk pengairan.
"Dari kondisi lahan yang tak memungkinkan itu harus menggunakan genset untuk menarik air dari bawah. Kebanyakan genset menggunakan bahan bakar solar," ujar Misyanto kepada Malang Post.
Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa penggunaan solar sangat boros. Biaya untuk solar sekali penyiraman mencapai Rp 48 ribu dengan harga solar per liter Rp 9.600.
"Sedangkan untuk menggunakan elpiji 3 Kg, sudah cukup untuk menyiram 7 hektarr lahan. Harga untuk satu tabung hanya Rp 19 ribu per tabungnya," imbuhnya.
Karena itulah ia memperbaiki genset agar lebih meringankan pengeluaran dalam penyiraman. Sehingga dengan inovasi yang dilakukan mampu menekan pengeluaran dalam bertani. Yakni genset berbahan bakar solar disulap sehingga digerakan gas.
Di lahan pertaniannya, Misyanto menanam kentang jenis granola. Dengan harga yang dijualnya Rp 9.500 per Kg. Setiap hektare mampu panen antara 15-20 ton per  tiga bulan sekali.
Pada Juli - September ini, kata dia, menjadi masa terbaik panen kentang. Pasalnya memasuki musim kemarau. Berbeda dengam musim hujan yang membuat kentang mudah busuk. Kentang hasil panennya dijual ke pasar luar lokal hingga luar negeri. Yakni Banyuwangi hingga Thailand. (eri/van)

Berita Terkait