Kupatan, Pedagang Janur Ketiban Rejeki


BATU - Menjelang tradisi kupatan, sejumlah penjual janur di Kota Batu kebanjiran berkah.Usai merayakan Idul Fitri, banyak masyarakat yang melakukan tradisi kupatan pada tujuh hari setelah Lebaran. Hal itu membuat pedagang ketupat musiman itu meraih untung berlipat.
Salah satu penjual janur musiman di Pasar Besar Kota Batu, Mistin (48) asal Jalan Terusan Agus Salim, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu mengatakan, selalu memanfaatkan lebaran ketupat setiap tahunnya. Pada tahun ini dalam sehari ia mampu menjual hingga 50 ikat janur. Dengan rata-rata penghasilan mencapai Rp 500 ribu per harinya.
Untuk satu ikat janur berisi 22 janur, ia menjual dengan harga Rp 10 ribu. Sedang untuk 50 biji daun yang sudah menjadi rangkaian ketupat dijual mulai dari Rp 25 ribu- Rp30 ribu. "Hampir setiap tahun jualan disini. Lumayan bisa meraih untung usai lebaran," ujar Mistin kepada Malang Post, Senin (10/6) kemarin.
Namun, diungkapnya saat ini untuk mencari janur sangat sulit. Tidak seperti tahun sebelumnya. Sehingga ia harus mengambil bahan baku dari luar daerah seperti Kabupaten Malang.
Begitu juga dengan pedagang musiman lainnya Suli (61). Ia rela jauh berjualan dari Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang ke Kota Batu. Menurutnya masyarakat Kota Batu banyak yang merayakan tradisi ketupat. Sehingga ia rela menginap di Pasar Batu hingga satu pekan lamanya.
"Hampir 45 tahun ini saya menjadi pedagang ketupat musiman. Untuk keuntungan sesuai dengan yang dibawa. Semakin banyak semakin besar pendapatan," bebernya.
Pada tahun-tahun sebelumnya, dalam sehari ia mampu meraih omset hingga Rp 3 juta. Begitu juga tahun ini. Ia mampu meraih omset hingga Rp 3,5 juta.
Berbeda dengan Mistin, Suli membawa sekitar 30 ribu janur yang dijual rata-rata per hari antara 2-3 ribu janur. Dengan harga janur hampir sama dengan penjual janur musiman lainnya di Pasar Besar Batu. (eri/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :