Xi Jinping: Tak Ada Kekuatan yang Bisa Guncang China | Malang Post

Minggu, 15 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Selasa, 01 Okt 2019, dibaca : 375 , aim, net

BEIJING - Presiden China, Xi Jinping, menegaskan 'tidak ada kekuatan' yang bisa mengguncang China. Penegasan ini disampaikan Presiden Xi dalam pidatonya saat peringatan 70 tahun berdirinya China.
Seperti dilansir Channel News Asia, Selasa (1/10) kemarin, Presiden Xi menyampaikan pidatonya di Mimbar Tiananmen yang menjadi tempat bersejarah di mana pendiri China, Mao Zedong, menetapkan berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober 1949 silam.
Dalam pidatonya, Presiden Xi memuji 'mimpi rakyat China' dalam peremajaan nasional, yang menjadi visi besar untuk memulihkan kejayaan China di masa lalu. "Tidak ada kekuatan yang bisa mengguncang fondasi dari negara yang jebat ini," tegas Presiden Xi dalam pidatonya. Presiden Xi mengenakan pakaian safari khas Mao dalam peringatan 70 tahun berdirinya China yang diwarnai dengan parade militer besar-besaran di Alun-alun Tiananmen ini.
"Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan rakyat China dan negara China untuk terus maju," ujar pemimpin China yang paling berpengaruh setelah Mao Zedong ini.
Usai berpidato, Presiden Xi kemudian menaiki sebuah limusin dengan atap terbuka untuk memeriksa tentara China yang hadir dalam parade militer ini. Helikopter militer terbang dalam formasi khusus membentuk angka '70' di angkasa, sementara barisan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) bergerak di Alun-alun Tiananmen. Media nasional China menyebut parade tahun ini sebagai parade militer terbesar di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Dalam parade itu, PLA juga memamerkan armada militer terbaru, termasuk rudal balistik antarbenua jenis DF-41 yang memiliki kemampuan membawa muatan nuklir dan mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat (AS) dan peluncur rudal DF-17 yang memiliki kemampuan hipersonik.
Laporan kantor berita Xinhua menyebut pesawat tempur China mengudara di tengah langit yang diselimuti kabut. Sebuah drone pengintai yang memiliki kemampuan supersonik juga dipamerkan untuk pertama kalinya dalam parade ini.
Namun di balik kemeriahan itu, serangkaian tantangan menguji kemampuan Presiden Xi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan politik di negaranya. "Partai (Komunis China) berharap agar acara ini akan menambah legitimasi dan menggalang dukungan saat menghadapi tantangan internal dan eksternal," sebut Adam Ni selaku peneliti isu China pada Macquarie University di Sydney, kepada AFP.
Diketahui bahwa China sedang menghadapi perang dagang dengan AS, kemudian masalah flu babi dari Afrika yang memicu naiknya harga daging babi, hingga unjuk rasa besar-besaran yang kini menyelimuti Hong Kong. Masalah Hong Kong disebut sebagai persoalan paling besar bagi China.
Pada Senin (30/9) waktu setempat, Presiden Xi bersumpah untuk terus memberlakukan kebijakan 'satu negara, dua sistem' di wilayah Hong Kong. Kebijakan itu membuat warga Hong Kong bisa menikmati kebebasan yang tidak dirasakan warga China daratan. (dtc/aim)



Loading...