MalangPost - WWF Usulkan Status Darurat Karhutla di Indonesia

Selasa, 14 Juli 2020

  Mengikuti :

WWF Usulkan Status Darurat Karhutla di Indonesia

Selasa, 17 Sep 2019, Dibaca : 822 Kali

JAKARTA - World Wildlife Fund/ WWF Indonesia meminta pemerintah menetapkan status darurat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, seiring peningkatan wilayah terdampak karhutla hingga September 2019.
Direktur Konservasi WWF-Indonesia Lukas Adhyakso mengatakan, dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diunggah melalui SiPongi Karhutla Monitoring System, rekapitulasi luas karhutla 2019 telah mencapai 328,722 hektare. "Sebagai WWF Indonesia, kita ingin mengusulkan supaya ini menjadi darurat karhutla untuk Indonesia karena luasannya sudah luas sekali," ujarnya di Gedung Graha Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (17/9).
Lukas memaparkan penyebab karhutla cukup beragam dan tidak hanya karena faktor cuaca. Salah satu penyebabnya juga menyangkut pada ulah manusia yang dilakukan oleh korporasi dan individu seperti pembukaan lahan yang masih menggunakan metode pembakaran.
Selain itu juga lemahnya pengawasan terhadap praktik pembukaan lahan. "Kebakaran hutan sudah semakin parah data dari KLHK sudah menyebutkan angka 300 ribu hektar di seluruh Indonesia. Penyebab kompleks, jadi macam-macam penyebabnya selain cuaca yang kering, faktor alam dan sebagainya," tuturnya.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ribuan orang di Kalimantan Tengah terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan ISPA yang dialami oleh warga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalteng. "Data Pos Komando (Posko) mengidentifikasi sebanyak 2.637 jiwa sebagai penderita infeksi saluran pernafasan akut," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Selasa (17/9).
Agus menuturkan penderita ISPA tersebar di beberapa wilayah di Kalteng. Penderita terbanyak tercatat di Kota Palangkaraya dengan 829 jiwa. Sementara di wilayah lain, yakni Kotawaringin Timur 513 jiwa, Murung Raya 394 jiwa, Barito Utara 227 jiwa, Kapuas 161 jiwa, dan Kotawaringin Barat 147 jiwa. "Wilayah lain seperti Barito Timur, Barito Selatan, Gunung Mas, Katingan, Lamandau, Pulang Pisau, Sukamara, penderita ISPA kurang dari 100 jiwa," ujarnya.
Terkait dengan hal itu, Agus menyampaikan Satuan Tugas Perawatan dan Pelayanan Kesehatan terus memberikan pelayanan kesehatan kepada penderita ISPA. Di bawah kendali Dinas Kesehatan Kaltim, pelayanan diberikan tidak hanya kepada masyarakat tetapi juga petugas pemadam di lapangan.
"Dinas kesehatan setempat menyediakan ruang oksigen atau rumah singgah, seperti di Kota Palangkaraya dengan menyiagakan 11 puskesmas, dua rumah sakit umum daerah, dan satu pelayanan dari Palang Merah Indonesia," ujar Agus.
Lebih jauh Agus menyampaikan jumlah titik panas atau hotspot di Kalteng saat ini terpantau 140 titik. Jumlah itu berdasarkan citra satelit Aqua, Terra, dan SNPP. Wilayah dengan titik panas tertinggi berada di wilayah Kotawaringin Timur dengan 32 titik, Pulang Pisau 30 titik, Kapuas 23 titik, Seruyan 17 titik, Murung Raya 16 titik, Katingan 9, Barito Selatan 5 titik, Barito Timur 4 titik, Gunung Mas 3 titik, dan Barito Utara 1 titik. "Prakiraan tingkat kemudahan terjadinya kebakaran di wilayah Kalteng masih dalam kategori sangat mudah terbakar," ujar Agus.
Di sisi lain, Agus mengklaim upaya penanganan karhutla masih terus dilakukan lewat berbagai cara, yakni pemadaman darat, udara, dan penegakan hukum. Lebih dari itu, pemadaman via udara, Agus menyebut tidak semua helikopter yang disiagakan mampu untuk melakukan pengeboman air di beberapa titik teridentifikasi titik panas. "Hal tersebut disebabkan jarak pandang. Sedangkan pemadaman darat, satuan tugas Darat melakukan pemadaman, pendinginan, maupun pencegahan melalui patroli darat," ujarnya. (cnn/dtc/udi)

Editor : udi
Penulis : net