Malang Post - Wiwi Suprihatno Kepala BNI Kanwil Malang, Terdepan Sebagai Problem Solver

Selasa, 31 Maret 2020

  Mengikuti :


Wiwi Suprihatno Kepala BNI Kanwil Malang, Terdepan Sebagai Problem Solver

Senin, 02 Des 2019

MALANG - Berawal sebagai tenaga honorer di BNI pada tahun 1995, Wiwi Suprihatno kini menjabat sebagai Kepala BNI Kantor Wilayah (Kanwil) Malang yang menaungi wilayah Pacitan sampai Banyuwangi. Merintis dari posisi bawah sampai dengan pimpinan di BNI, membuatnya menjadi sosok pimpinan yang tak gengsi untuk terjun langsung menyelesaikan persoalan. Baginya, pemimpin haruslah duduk paling depan sebagai problem solver.
"Seorang pemimpin harus duduk paling depan untuk problem solving. Ada kalanya memang harus ambil alih kendali. Kemudian duduk bersama untuk mencari solusi," ungkapnya ketika dikunjungi oleh Pemred Malang Post Dewi Yuhana bersama dengan tim di Kantor BNI Malang Basuki Rahmat, Kamis (24/11).
Menurutnya, kepemimpinan merupakan kunci utama dalam mencapai target kinerja terbaik. Maka dari itu, sosok pemimpin harus mampu membawa timnya untuk terus termotivasi dalam menorehkan kinerja semaksimal mungkin. Pemimpin juga harus bisa memahami situasi dan kondisi untuk bisa menentukan arah kebijakan mana yang baiknya diterapkan untuk tim.
"Tapi kepemimpinan tidak ada yang baik sekali. Saya juga sering trial and error. Karena harus bisa menerapkan kebijakan sesuai situasi dan kondisi. Kalau situasinya sedang chaos, ya harus top down gaya militer," kata pria yang sempat menjabat sebagai Deputi General Manager (DGM) BNI Kantor Cabang Singapura ini.

Baca juga :

Peringkat BNI Kanwil Malang Melesat

Tak Bisa Tanpa Bersama Keluarga

Kisah Dr. Ir. Sri Meicharini Jalani Tugas Dirjen Kependudukan


Lebih lanjut dijelaskannya, tipe kepemimpinan keras sangat dibutuhkan dalam mengendalikan situasi saat sedang penuh dengan persoalan. Karena pada situasi semacam itu membutuhkan instruksi langsung dari pimpinan agar tim bisa berkoordinasi dan bersinergi dalam menyelesaikan suatu persoalan.
"Setelah kondisi kembali membaik barulah bisa membuka pintu untuk kepemimpinan yang lebih demokratif. Karena kalau semeleh terus juga susah, sebab ada target yang terus menganga," ungkap pria berkacamata ini.
Sebagai pimpinan, segala sesuatunya tidak boleh lepas dari tiga aspek. Yakni terpetakan, terukur, dan termonitor. Ketiga hal tersebut wajib dilakukan baik dalam perencanaan maupun dalam penyelesaian persoalan. Ketiganya saling berkaitan satu sama lain, maka dari itu harus dilakukan secara beriringan. Tidak bisa salah satunya ditinggalkan.
"Jika ingin mencapai sesuatu harus diupayakan secara maksimal. Dipetakan seperti apa targetnya, terukur kemampuannya, kemudian harus dimonitor. Karena saya rasa kalau tidak dimonitor itu tidak bisa lari kencang," tandas dia.
Pada tahapan monitoring, yang juga tak boleh terlewatkan adalah memperhatikan segala sesuatu secara detail. Menurutnya, segala aspek dalam perencanaan harus diperhatikan secara disiplin. Karena tidak ada sesuatu yang sepele di dalam perencanaan. Semuanya memberikan dampak signifikan terhadap proses pencapaian target tim.
"Kalau saya harus paying attention to details, karena pimpinan harus bisa menguasai persoalan. Dengan begitu kita bisa mengupayakan yang terbaik, dan bisa memitigasi adanya hambatan," ujarnya.
Pemimpin bukan selalu sosok pakar maupun ahli. Namun pemimpin memiliki pengalaman operasional, sehingga memiliki pandangan sejauh mana kemampuan sebuah sistem. Sampai juga dengan 'sense' dalam menentukan suatu arah kebijakan, sehingga mampu mengawal perencanaan sesuai dengan tujuan yang telah dirancang.(asa/lim)

Editor : halim
Penulis : Inasa

  Berita Lainnya





Loading...