Wiranto Ditikam Terkait Pelantikan Presiden | Malang Post

Sabtu, 14 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 11 Okt 2019, dibaca : 426 , vandri, jpg

JAKARTA - Pengamanan jelang pelantikan Presiden-Wapres RI terpilih bakal diperketat pascapenyerangan Menko Polhukam Wiranto, Kamis (10/10) kemarin. Sistem perlindungan kepada pejabat negara pun ditingkatkan.  
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan menyebut kasus penusukan Menko Polhukam Wiranto berkaitan dengan agenda pelantikan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober mendatang.
Pria yang akrab disapa BG itu mengklaim telah mengendus rencana kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) jelang pelantikan Jokowi-Ma'ruf. "Kami sudah mendeteksi menjelang pelantikan memang ada rencana-rencana seperti itu dari JAD, sehingga harus kita tingkatkan kewaspadaan kita," kata BG di RSPAD, Jakarta.
Meski BIN telah mendeteksi, namun kata BG, aparat kesulitan melacak kepastian rencana aksi. Sebab JAD bergerak dalam bentuk sel-sel kecil. Meski begitu, ia berkata aparat keamanan sudah membaca pergerakan penusuk Wiranto dan jaringannya. Menurut BG, ada kaitan penusukan Wiranto dengan sel teroris di Bekasi beberapa waktu lalu.
"Dalam waktu bersamaan, satgas gabungan Densus sedang mengembangkan untuk mengambil (menangkap terduga teroris) yang lain," ucapnya.
Di tempat terpisah, Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad juga menduga penyerangan terhadap Wiranto masih terkait dengan pelantikan presiden dan wakil presiden mendatang. "Kita mesti ekstra hati-hati, mungkin ini juga ada kaitan dengan pelantikan presiden," ujar Fadel di Kediaman Megawati, Jakarta.
Menurutnya, dugaan itu tidak bisa dihindarkan mengingat pelantikan akan dilaksanakan beberapa hari lagi. "Kita tidak bisa hindari akan terjadi suatu yang berhubungan dengan itu," ujarnya.
Presiden Jokowi menyerukan masyarakat untuk bersama-sama memerangi radikalisme dan terorisme menyusul insiden penusukan yang menimpa Menkopolhukam Wiranto.  
Jokowi telah memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kepala BIN Budi Gunawan dengan dukungan TNI untuk mengusut tuntas dan menindak tegas para pelaku.
Seperti diketahui, penusukan terhadap Wiranto terjadi saat melakukan kunjungan di Alun-alun Menes, Pandeglang, kemarin.  Mantan Panglima ABRI di era Orde Baru itu sebelumnya telah meresmikan Gedung Kuliah Bersama di Universitas Mathla’ul Anwar. Kapolsek Menes Kompol Daryanto yang mendampingi Wiranto turut menjadi korban penyerangan dan mengalami luka di bagian punggung. Penyerang Wiranto yang telah dibekuk itu berjumlah dua orang, yakni laki-laki berinisial SA alias Abu Rara dan perempuan berinisial FA. Polisi telah memastikan bahwa pelaku penusukan Wiranto merupakan bagian dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi.
"Sudah bisa dipastikan pelaku termasuk dalam kelompok JAD Bekasi dengan Amirnya Abu Zee," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

Pakai Pisau Ninja
Pelakunya menggunakan pisau ala ninja saat melakukan penyerangan. Berdasarkan foto yang beredar, pisau tersebut berukuran kecil dan memiliki ujung runcing serta tajam. Pada bagian gagang, tampak seperti dililit dengan tali warna merah. Di bagian ujung lainnya, berbentuk bulatan warna hitam. "Benar (pisau itu yang digunakan pelaku)," kata Kabid Humas Polda Banten Kombes Edy Sumardi.  
Pisau itu juga kerap muncul di serial anime Jepang, salah satunya Naruto. Senjata tajam itu juga dengan sebutan Pisau Lempar Kunai Red Ninja Naruto.
Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, operasi Wiranto berjalan baik. Total tiga jam proses operasi yang dilakukan. "Saya berbicara langsung dengan dokter Terawan, yang menangani secara langsung proses operasi yang berjalan tiga jam. Alhamdulillah proses operasi berjalan dengan baik," kata Pramono di RSPAD.  
Dia mengatakan, Wiranto sudah keluar dari ruang operasi. "Dan beliau sekarang menempati ruang untuk distabilkan," tutur Pramono. Sebelumnya Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah pejabat negara mengunjungi Wiranto.
 
Perketat Pengamanan Pejabat
Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengatakan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta agar pengamanan dasar semua pejabat negara diperketat menyusul insiden penusukan yang menimpa Wiranto di Pandeglang, Banten.
"Ketika kejadian kebetulan saya sedang dengan Presiden dan Pak Mensesneg (Pratikno). Presiden langsung memberikan arahan agar semua pejabat sekarang ini dalam kondisi seperti ini untuk dilakukan pengamanan dasar," kata Pramono usai menjenguk Wiranto di RSPAD.   
Menurutnya hal ini penting dilakukan mengingat banyak pejabat atau menteri yang tidak ingin dikawal secara ketat saat bertemu dengan masyarakat. "Tetapi kalau melihat ini, ancaman itu riil, dan ancaman ini dipersiapkan," ucapnya.
Pramono mengatakan kejadian yang menimpa Wiranto di Pandeglang menunjukan secara nyata bahwa sel-sel jaringan teroris memang masih aktif. Untuk itu pihaknya diperintahkan agar mempersiapkan pengamanan pejabat negara secara lebih lanjut.
Meski begitu ia menyebut pengamanan tidak perlu ditingkatkan secara berlebihan. "Tidak perlu berlebihan tapi kewaspadaan itu menjadi sangat penting," tambah dia.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo menyampaikan, pelaku penusukan Wiranto diduga terpapar radikalisme ISIS. Menurut Dedi, motif penusukannya, mereka yang terpapar radikalisme ISIS menjadikan pejabat publik dan polisi sebagai sasaran serangan.
“Ya kalau misalnya terpapar radikal ya pelaku pasti menyerang peabat publik, utamanya aparat kepolisian yang dianggap thaghut karena kita lakukan penegakkan hukum terhadap kelompok seperti itu,” kata Dedi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis (10/10).

Ancaman Sejak Mei
Penusukan terhadap Wiranto menjadi bukti nyata bahwa ancaman pembunuhan terhadap sejumlah pejabat negara, benar adanya. Wiranto dalam jumpa pers di Media Center Kemenkopolhukam pada 28 Mei lalu menyebutkan bahwa ada ancaman pembunuhan terhadap empat pejabat negara, yakni terhadap dirinya, lalu terhadap Luhut B Panjaitan (Menko Kemaritiman), Budi Gunawan (Kepala BIN), dan Gories Mere (Stafsus Presiden bidang intelijen dan keamanan).
Mantan Panglima ABRI itu juga menyebutkan tidak hanya empat pejabat negara yang mendapatkan ancaman untuk dibunuh, melainkan ada pejabat lain yang mendapatkan ancaman serupa.
"Memang yang diancam tidak hanya empat orang, ada pejabat-pejabat lain yang juga diancam seperti yang saya alami. Tapi, saya kira, kita tidak perlu surut dengan ancaman itu," kata Wiranto saat itu.

Tetangga Tak Curiga  
Dua pelaku penyerangan Menkopolhukam Wiranto, yang merupakan pasangan suami-istri, SA dan FD, adalah warga pendatang di Desa Menes, Kecamatan Menes, Pandeglang, Banten. Selama delapan bulan terakhir, SA dan FD mengontrak di RT 04 RW01, Kampung Sawah, Menes.
"Ngontrak di sini bulan dua (Februari) kemarin. Keseharian dia jarang gaul, paling keluar cuma beli makanan sama buang sampah aja. Dikenal warga diem," kata Ketua RT setempat, Mulyadi.
Sebelumnya Kapolda Banten Inspektur Jenderal Tomsi Tohir menyatakan para pelaku baru mengontrak di Kampung Sawah, Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, baru sekitar dua bulan. Pernyataan ini berbeda dengan yang diungkapkan Mulyadi, selaku Ketua RT.
Mulyadi menerangkan FD dalam kesehariannya pun dikenal kerap menggunakan cadar atau pelindung wajah. Otomatis, sambung dia, hanya bagian mata saja yang terlihat ketika keluar rumah.
Ia menerangkan SA dikenal memiliki seorang putri yang kini usianya kisaran 13 tahun. Anak itu bukanlah buah pernikahan dengan FD, melainkan dari istri terdahulu SA yang telah diceraikan. "Anaknya sudah dibawa Polwan. Nangis tadi," kata Mulyadi.
Diakui Mulyadi, selama delapan bulan bertetangga, warga mengaku tidak pernah melihat hal-hal mencurigakan dari perilaku SA maupun FD. Namun, warga mengaku kerap melihat kiriman barang datang ke rumah kontrakan pelaku. Tak diketahui apa barang yang dikirimkan tersebut.
Selain karena tertutupnya dengan warga, mereka pun jarang melihat SA maupun FD ikut salat berjamaah di masjid terdekat. Padahal, sambungnya, jarak masjid dengan rumah kontrakan itu sekitar 100 meter. "Enggak ikut pengajian. Salat Jumat juga enggak pernah," terangnya.
SA maupun FD hanya keluar rumah untuk berbelanja saja, tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. SA maupun FD mengaku kepada warga menjual pulsa dan bisnis online. Namun tidak pernah terlihat barang dagangannya. (jpg/cni/van)



Sabtu, 14 Des 2019

Butuh Saling Support

Loading...