Warga Tengger Siapkan Lahan Parkir Melihat Matahari Terbit | Malang POST

Kamis, 20 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 23 Jan 2020,

 Warga menyiapkan lahan parkir untuk kendaraan bermotor di area Bentengan yang menjadi spot  untuk melihat matahari terbit.

Sambut Wulan Kepitu
PONCOKUSUMO- Warga Desa Ngadas menyambut antusias datangnya bulan ketujuh atau Wulan Kepitu Kalender Suku Tengger. Tidak hanya menjalankan ritual puasa mutih, tapi warga juga menyiapkan lahan parkir. Seiring dengan diterapkannya Bebas Kendaraan Bermotor di Kaldera Tengger (Bromo) oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS). "Kami menyiapkan lahan parkir di areal Bentengan, Desa Ngadas. Ini salah satu spot untuk melihat matahari terbit," kata Kepala Desa Ngadas, Mujianto, kemarin.
Kepada Malang Post, Muji begitu akrab dipanggil mengatakan, penyiapan lahan itu dilakukan sejak sepekan terakhir. "Sebelumnya kami sudah melakukan sosialisasi kepada warga jika Kaldera Tengger (Bromo) meliputi laut pasir, Bromo, savana dan sekitarnya bebas kendaraan bermotor. Jadi wisatawan yang akan ke Bromo pun harus memarkir kendaraannya, dan lahan paling tepat atau strategis ya di Bentengan ini," katanya. 
Dia menyebutkan, selain tempatnya luas, Bentengan juga menjadi spot untuk melihat matahari terbit. Harapannya wisatawan yang datang juga mengunjungi area tersebut.
Mujianto menyebutkan, jika Wulan Kepitu Suku Tengger, memberikan makna tersendiri bagi warga Suku Tengger. Wulan Kepitu masyarakat Suku Tengger melaksanakan puasa mutih. Puasa mutih ini bertujuan untuk menahan perilaku atau sifat keduniawian dan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.
"Itu sebabnya kami sangat berterimakasih kepada BBTNBTS yang menerapkan bebas kendaraan bermotor di kawasan Kaldera Tengger (Bromo). Sehingga warga suku tengger dapat melaksanakan ibadah puasa mutih dengan khusuk," ungkapnya. 
Muji menyebutkan jika penutupan kaldera Tengger ini merupakan usulan dari sesepuh suku tengger. Ditanya apakah tidak khawatir terjadi penurunan wisatawan? Muji mengatakan tidak. Apalagi aktifitas di kawasan Gunung Bromo tidak ditutup. "Wisata ke Gunung Bromo tetap buka. Hanya saja wisatawan tidak boleh naik kendaraan bermotor. Wisatawan boleh naik kuda atau berjalan kaki," urainya.
Bebas Kendaraan Bermotor ditambahkan Muji selain untuk menghormati budaya, sekaligus sebagai bentuk menyeimbangkan alam. Selama ini Bromo sering dilewati kendaraan bermotor. "Ini sekaligus sebagai upaya untuk recovery atau mengembalikan ekosistem. Sehingga ke depan kawasan Bromo tetap indah, dan dapat dinikmati oleh seluruh warga serta anak cucu,' tandasnya. (ira/udi)
 

Editor : mahmudi
Penulis : ira



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...