Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Wanita Kantongi Sertifikat Pengajar Alquran | Malang Post

Senin, 16 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 20 Nov 2019, dibaca : 366 , Muhaimin, amanda

MALANG - 32 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Wanita Klas IIA Sukun, Kota Malang yang menjadi binaan khusus di Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nisa dinyatakan lulus sebagai pengajar Alquran metode Ummi. Rabu (20/11), mereka diwisuda dan menerima sertifikat di Aula Lapas wanita itu.
Para WBP yang siap diwisuda di uji kebolehan di hadapan publik terhadap hafalan surat Alquran. Serta menunjukkan kemampuannya dalam ilmu tajwidnya.  Kepala Lapas Wanita Klas IIA Malang, Ika Yusanti mengungkapkan, pembelajaran tersebut diberikan kepada para WBP sebagai salah satu bentuk pembinaan kepribadian yang diberikan oleh pihak Lapas. Seleksi untuk menjadi guru Alquran juga cukup ketat. Dari 87 WBP yang mendaftar hanya 32 yang lolos dan mengikuti beberapa kali ujian.
"32 orang yang wisuda hari ini layak mendapatkan gelar sebagai ustadzah dan bisa mengajar Alquran," kata Ika kepada Malang Post.
Dari beberapa warga binaan, lanjut dia, ada yang mendalami ilmu Alquran. Sehingga, Lapas memberikan pembinaan khusus di Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nisa yang ada di Lapas Wanita Sukun itu dengan menggunakan metode Ummi. "Ummi memiliki metode bagaimana cara membaca Alquran dengan mudah. Sehingga, para WBP bisa cepat memahami dan banyak yang berhasil menghafal Alquran," lanjut dia.
Perempuan berkacamata itu juga berharap, jika para WBP yang sudah lulus itu bebas nantinya, bisa membagikan ilmunya kepada masyarakat. Jika belum bebas, mereka bisa mengajarkan kepada sesama WBP lainnya. "Namun, masih tetap di bawah bimbingan Ummi Foundation. Intinya, sertifikat ini sebagai pintu untuk mereka mendapatkan pekerjaan ketika sudah bebas nanti," imbuh Ika.
Salah satu WBP yang mengikuti wisuda, Eni Parwati merasa senang dan bangga mendapatkan sertifikat sebagai guru Alquran. "Alhamdulilah, saya senang sekali. Sebab, selama ini saya belum banyak memahami ilmu agama. Dengan mengikuti pembinaan dan proses belajar yang mudah, akhirnya bisa lulus," ujar perempuan berusia 28 tahun ini.
Eni mengaku, dalam proses pembelajaran Alquran, ia mendapatkan bimbingan selama empat bulan. Menurutnya, pengajaran yang diberikan cukup menarik dan melakukan pendekatan tertentu. "Mereka mengajarkan secara langsung dan menyentuh hati. Teknik hafalan diberikan berulang-ulang. Jadi bisa cepat mengerti," lanjut dia.
Ke depan, Eni ingin membagikan ilmu yang dimilikinya kepada teman sesama WBP. Serta, jika sudah bebas nanti, ingin menularkan metode yang sama kepada masyarakat luas untuk belajar Alquran. "Intinya, saya ingin berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain," pungkas dia.(tea/aim)



Loading...