Unisma Persembahkan Buku Acuan untuk PTNU | Malang Post

Rabu, 29 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 23 Okt 2019,

MALANG - Universitas Islam (Unisma) Malang merilis sejumlah buku berbasis Pendidikan Islam tepat pada momentum Hari Santri Nasional (HSN), Selasa (22/10). Buku tersebut nantinya tidak hanya digunakan sebagai acuan pendidikan di Unisma, melainkan juga akan digunakan pada 258 Perguruan Tinggi NU di seluruh Indonesia.
"Jadi nanti akan terbit 15 buku, ini sudah kita launching buku 1,3,5. Sedangkan 2,4,6 akan segera kita susun. Pokoknya kurun 2019-2020 akan terbit 15 buku," kata Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si, usai menjadi inspektur upacara peringatan HSN di Halaman Depan Unisma, Selasa (22/10).

   Baca Juga : Belajar Bangunan Tahan Gempa dari Taiwan
Upaya tersebut dinilai sebagai penguatan literasi dalam rangka mewujudkan komitmen aksi nyata Unisma dari NU untuk Indonesia dan peradaban dunia. Ke 15 buku literasi basis Pendidikan Islam tersebut berisikan berbagai topik muatan. Mulai dari akidah akhlak, syariah, hingga. sejarah pendidikan Islam Ahlusunnah wal jamaah an nadliyah. Namun di antara buku tersebut juga ada yang berisikan muatan disipliner dari pandangan Islam.
"Kemudian juga kajian-kajian disipliner, seperti misalnya pertanian dalam perspektif Islam, atau juga pendidikan dalam perpektif Islam," sambungnya.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Maskuri juga sempat menyinggung terkait dengan Undang-Undang pesantren. Menurutnya, pemberlakuan Undang-Undang tersebut mendatangkan semangat positif bagi pendidikan berbasis Islam untuk terus menjalankan fungsi utamnya yakni dakwah untuk kemanusiaan.
"Kita mengapresiasi Undang-Undang pesantren, tapi harus kita cermati lebih lanjut. Jangan hanya semata-mata APBN pengembangan pesantren. Tapi juga harus mampu menumbuh kembangkan santri berkarakter yang memiliki sikap toleran dan harmoni," pungkasnya.
Tak hanya itu, pada pidatonya dihadapan ribuan santri Unisma, Prof. Maskuri juga mengimbau untuk memegang teguh identitas santri Indonesia yang selalu bertekad dalam jihad mempertahankan NKRI dan menghormati kyai. Kemudian ia juga menambahkan bahwa identitas santri Indonesia dari segi kultural juga sangat perlu untuk dilestarikan. Seperti penggunaan kopiah hitam untuk santri putra.
"Bukannya mengharamkan kopiah putih, tapi alangkah baiknya jika menggunakan kopiah hitam yang sesuai dengan kultur kita," tandasnya.(asa/oci)

Editor : rosida
Penulis : asa






WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...