Ulas Tuntas Sejarah Keramik | Malang Post

Minggu, 17 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 17 Okt 2019, dibaca : 756 , parijon, linda

MALANG – Perjalanan keramik di Indonesia mulai jaman pra sejarah hingga sekarang ini diulas tuntas dosen Seni dan Desain Fakultas Sastra UM, Dr. Ponimin, M.Hum.  Ponimin memberikan workshop dihadapan ratusan siswa SMP/SMA/SMK se-Malang Raya, Rabu (16/10) di Graha Cakrawala UM.
Menurut Ponimin, masa pra sejarah keramik dibuat untuk difungsikan sebagai peralatan dapur tradisional. Sedangkan sekarang ini keramik telah mengalami banyak perubahan dan pembuatannya lebih mengarah untuk mengekspresikan sesuatu.
“Jaman dulu keramik dibuat untuk menghasilkan karya non artistik, pembuatannya yang dibawakan oleh pendahulu kita mayoritas menggunakan teknik putar lambat dan putar cepat,” ujarnya.
Teknik putar cepat yang sebagian besar dilakukan oleh beberapa perajin tetapi masih menghasilkan keramik tradisional. Untuk itu di workshop dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis UM Ke-56 dan Lustrum XIII UM Tahun 2019, Ponimin mengenalkan sebuah teknik Pinching.
Teknik Pinching atau yang disebut sebagai pijitan lansung yakni memijat langsung gerabah dengan menggunakan tangan agar tanah lihat menjadi lebih padat dan tidak mudah mengelupas sehingga hasilnya tahan lama. Dalam workshop ini karya yang dihasilkan adalah sebuat patung yang menggambarkan seorang penari bali.
Selain mempraktrekkan pembuatan patung, ia juga menjelaskan melalui tayangan video dan foto agar para siswa dengan mudah memahami teknik dan proses pembuatan seni keramik. Tak lupa, peserta workshop juga mendapatkan tips membuat, yakni yang perlu diperhatikan adalah kepekaan estetik dengan kemampuan teknik.
“Kepekaan estetik itu ketika membentuk keramik yang kita inginkan antara emosional dengan skill tangan harus menyatu, sehingga kelebihannya bisa mengungkapkan ekspresi yang bebas sesuai keinginan,” urainya.
Dikatakannya bahwa Teknik Pinching selain mampu menggambarkan ekspresi yang diinginkan juga memiliki nilai keindahan yang tinggi dengan tingkat detail sesuai keinginan. Berbeda dari teknik putar yang cenderung menghasilkan karya berwujud silinder.
“Tetapi pada umumnya semua teknik bagus, tergantung perajin ingin menggunakan teknik yang mana karena semua memiliki ciri khas masing-masing,” tandasya.
Ratusan peserta workshop juga diajak melihat langsung pembuatan patung penari bali. Bahkan beberapa mahasiswa asing turut andil dalam pembuatan patung tersebut. (lin/jon)



Minggu, 03 Nov 2019

KerabaTani, Aplikasi untuk Petani

Kamis, 17 Okt 2019

Ulas Tuntas Sejarah Keramik

Loading...