Transaksi Sewa Alun-Alun Mall Lewat Tangan Kedua | Malang Post

Senin, 09 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 14 Nov 2019, dibaca : 864 , bagus, sisca

MALANG - Gedung Alun-Alun Mall ternyata menghasilkan duit yang lebih besar dari nilai yang diberikan PT Sadean Intra Mitra Corporation (SIMC) kepada Pemkot Malang. Duit itu berasal dari sewa bulanan tenant-tenant di luar Ramayana.  Nominal sewa berkisar Rp 5 juta hingga Rp 9 jutaan per bulan. Alun-Alun Mall juga menghasilkan pajak parkir dan restribusi parkir untuk Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) dan Dinas Perhubungan Kota Malang.
Tenant di pusat perbelanjaan tersebut bermacam-macam jenisnya. Mulai dari fashion, kuliner, kosmetik, jam, peralatan elektronik hingga keperluan sehari-hari. Menurut informasi, satu tenant kurang lebih menyewa tempat Rp 5 juta per bulan.
Jika dibandingkan dengan mall lainnya, seperti Mall Olympic Garden biaya sewa tenant di gedung Alun-Alun Mall lebih murah daripada MOG. Menurut salah satu pemilik tenant franchise kopi, ia menyewa dengan biaya Rp 9,3 juta per bulan untuk mendapatkan tempat di lantai ground.
“Iya di lantai ground memang yang paling mahal. Pernah juga ditawari Rp 11 juta ,” tandas pria yang tak ingin disebutkan namanya ini.
Salah satu tenant yang menyewa stand di Gedung Alun-Alun Mall yakni Tejo Asri Jaya, mengaku menyewa stan tersebut dari tangan kedua. Pemilik tenant Tejo Asri Jaya, Sukrin, menyebut bahwa ia menyewa stan tersebut kepada seseorang yang bernama Andi, yang menurutnya menjadi penyewa stan langsung ke PT Sadean.
Setiap bulannya, Sukrin bersama dengan stan toko jam tangan yang berada pada satu lokasi dengan stannya, harus mengeluarkan biaya sewa setidaknya sebesar Rp. 5 juta per bulannya. Jadi biaya tersebut ditanggung oleh dua stan sekaligus, kepada seseorang yang bernama Andi tersebut.
"Kalau saya ini lewat tangan kedua sewanya, sudah sejak tahun 2006," kata pemilik tenant Tejo Asri Jaya, Sukrin.
Menurutnya, luas stan yang digunakan untuk dua tenant tersebut adalah sekitar 9x3 meter. Sukrin kemudian menyampaikan bahwa pada gedung seluas 9.400 m2 tersebut, terdapat 3 tenant yang berada di luar manajemen Ramayana. Salah satunya adalah stan miliknya, satu stan arloji yang berada satu lokasi dengannya. Kemudian terdapat juga satu stan makanan, yang berada disebelah stannya.
Lalu siapakah Andi, ia disebut membayar langsung ke PT Sadean. Andi pernah gugat Ramayana karena disuruh pindah tapi tidak mau. Dalam proses gugatan itu ia menang sehingga sewa standnya jadi satu dengan Ramayana.
PT SIMC Belum Serahkan Aset
Akhirnya ditemukan. Direktur Utama PT Sadean Intra Mitra Corporation (SIMC) ditemukan di Jakarta. Akan tetapi proses penyerahan aset dan penyelesaian kerjasama belum langsung dilakukan. Pasalnya Dirut PT SIMC dalam keadaan sakit.
Hal ini disampaikan Sekda Kota Malang Drs Wasto saat dikonfirmasi. Ia menjelaskan Direktur PT SIMC ternyata selama ini dalam keadaan sakit, yakni terkena stroke. Maka tidak dapat melakukan sebuah perbuatan hukum apapun.
“Sehingga dari sana meminta waktu. Untuk membuat surat kuasa memindahkan kuasa dari Dirut ke istrinya. Agar setelah itu perbuatan hukum dapat dilakukan dalam rangka penyerahan gedung itu (gedung alun-alun mall),” urainya.
Wasto meneruskan Dirut PT SIMC diketahui bernama Daryono. Sementara waktu yang diminta untuk melakukan pemindahan kuasa adalah satu minggu sejak kemarin.
Pemkot menegaskan, melalui Bagian Hukum yang bertemu langsung dengan pihak PT SIMC, untuk dibuatkan akte noktariat. PT SIMC menyatakan sanggup untuk melakukan hal tersebut. Sehingga dalam waktu satu minggu ini pihak SIMC akan mencari notaris untuk membuat suarat kuasa tadi.
“Setelah itu baru akan dilakukan penyerahan-penyerahan berkas secara legal,” ujarnya.
Ditambahkan usai urusan penyerahan kerjasama selesai, Pemkot Malang dan PT SIMC secara resmi tidak lagi bekerjasama. Sementara Ramayana dapat beroperasi dalam sistem sewa yang sudah ditentukan sebelumnya.
Sementara itu menurut data Malang Post, PT Sadean memberikan Rp 60 juta per tahun ke dalam kas Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Malang selama 25 tahun bekerjasama. Artinya memang, nilai PAD ini tidak akan lagi masuk per 15 November ke depan.
Meski begitu masih ada pemasukan lain yang masih dapat didapatkan meskipun kecil. Retribusi parkir dalam dan luar Ramayana masih terus masuk.
Menurut catatan Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang pajak parkir yang diberikan tiap tahun Rp 4,7 Juta. Sementara retribusi parkir yang masuk ke Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang sekitar Rp 18,2 juta per tahunnya.
Kabid Parkir Dishub Kota Malang, Musthaqim Jaya menjelaskan setiap harinya parkir dua sap di depan Alun-Alun Mall Kota Malang menghasilkan Rp 50 ribu. Inilah yang kemudian masuk dalam PAD di sektor retribusi parkir.(ica/asa/ary)



Loading...