Tradisi Jawa Tetap Lestari Ratusan Tahun | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 04 Jan 2020,

MALANG – Warga Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang, tetap mempertahankan ruwatan desa, Murwakala sebagai tradisi. Sesuai istilah ruwatan, ritual yang berlangsung sekitar 750 tahun ini, dipercaya bisa membersihkan jiwa dari sisi buruk.
Petugas BPCB Trowulan, Haryoto mengungkapkan, uri-uri budaya berusia ratusan tahun ini, masih terselenggara sampai sekarang. “Sifatnya adalah pelestarian budaya warisan leluhur. Tiap tahun, agenda ruwatan desa bernama Murwakala ini selalu digelar rutin di Desa Kidal, dengan Candi Kidal sebagai pusat,” papar Haryoto kepada Malang Post.
Ruwatan Murwakala ini, diawali dengan tarian Garudeya. Tarian ini mengisahkan perjuangan Garuda, untuk membebaskan ibunya dari perbudakan. Secara luwes, tafsir dari tarian Garudeya ini juga disimbolkan sebagai semangat perjuangan 1945 oleh para prajurit bernafaskan Garuda Pancasila. Ini membebaskan ibu pertiwi Indonesia dari cengkraman penjajah.
Karena itu pula, tari ini dimaknai oleh masyarakat sekitar candi sebagai semangat untuk terus menjaga keutuhan NKRI. Serta harapan agar masyarakat Indonesia selalu sejahtera, damai, dan hidup makmur di atas ibu pertiwi Indonesia. Dari catatan yang ada, di bagian kaki Candi Kidal terpahat tiga buah relief yang menggambarkan cerita legenda Garudeya (Garuda).
Ketiga panel Garudeya tersebut dipahat pada pilaster (tiang semu) bagian tengah batur Candi Kidal, tepat pada sisi Selatan, Timur dan Utara. Semua kisah yang mendasari tari Garudeya, ada di relief-relief ini. Dalam penggalan pupuh 41 bait 1 kitab Negarakertagama, disebutkan bahwa Anusapati menjadi raja Jawa yang membuat tanah Jawa kokoh.
Ketika dia meninggal, dia dipuja dengan simbol arca siwa, di candi Kidal. Anusapati dikenal sebagai raja yang berbakti kepada ibunya, Ken Dedes. Dia sangat mencintai ibunya, yang cantik jelita namun penuh duka nestapa sepanjang hidup, karena dipaksa menikah dengan Ken Arok, ayah tiri Anusapati, setelah Tunggul Ametung terbunuh.
Candi Kidal dibangun Anusapati, untuk menyimbolkan upayanya menyelamatkan ibunya dari duka nestapa, agar menjadi wanita sempurna, suci dan bersih lagi.  Raja Anusapati memerintah kerajaan Singhasari pada 1227-1248. Saat Anusapati meninggal, candi ini dibangun pada 1248 masehi.
Dari beberapa referensi, Candi Kidal diduga dibangun oleh Wisnuwardhana atau Ranggawuni, dengan tujuan memujanya sebagai dewa Siwa, sesuai kepercayaan masyarakat hindu-budha era itu. Candi Kidal, terbuat dari batuan andesit, dengan pagar batu yang mengelilingi sekitar candi. Ukuran candi ini adalah 2 meter.
Kondisi Candi Kidal masih terhitung bagus dan utuh. “Karena, tahun 1990 pernah ada pemugaran untuk mempertahankan bentuk dan rupa dari Candi Kidal,” tambah Haryoto.
Dia menambahkan, semua candi yang ditemukan di Indonesia, termasuk Candi Kidal, sangat penting bagi catatan sejarah nusantara. “Karena itu, perlu ada pelestarian, serta impartasi pengetahuan dari generasi ke generasi, harapannya anak-anak di masa depan, tidak akan lupa akar budaya dan asal usul orang Indonesia,” tutup Haryoto.(fin/feb)

Editor : Febri Setyawan
Penulis : Fino Yudistira



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...