Topdam Usul Pakai Tol, Dishub Minta Bangun Sisi Barat Kawi

Jumat, 18 Oktober 2019

Selasa, 01 Okt 2019, dibaca : 663 , bagus, ira

Jalan Lingkar Barat tertuang dalam Perda nomor 3 tahun 2010 tentang RT/RW Kabupaten Malang menjadi satu solusi menembus Kepanjen. Bagaimana jika membuat jalan baru menembus Gunung Kawi? Menurut Kepala Seksi Produksi dan Materil Topdam V/Brawijaya, Mayor CTP Sapta Saputra bisa dilakukan, namun ia tidak merekomendasikannya.
Ya, pembangunan jalan menembus Gunung Kawi tidak direkomendasikan. Itu karena secara topografi, Gunung Kawi ini memiliki tanah yang labil. Hal ini juga yang disampaikan oleh. Saat hadir dalam diskusi yang digelar Malang Post mengusung tema Menembus Kepanjen dari Malang Barat.
Sapta mengatakan, Gunung Kawi sesuai dengan kajian, tekstur tanahnya gembur sehingga mudah longsor. Selain itu juga sangat ekstrem, sehingga kurang aman.
”Secara topografi melewati lereng Gunung Kawi ini tidak begitu direkomendasikan. Karena tanahnya ekstrem. Teksturnya gembur, mudah tergerus, terlebih saat musim penghujan,’’ ungkap Sapta.
Dia juga mengatakan, di lereng Gunung Kawi juga banyak patahan. Itu dibuktikan dengan banyaknya air terjun, sehingga kurang aman, jika dibangun jalan baru. Sapta yang hadir didampingi oleh Bintara Pengelola Data Topdam V Brawijaya, Serta Joko Pramono ini mengatakan jika dalam pembangunan jalan, banyak hal yang harus dipertimbangkan.
Sapta pun menguraikan, bahwa tugasnya di Topdam V/Brawijaya, selain menentukan batas wilayah, juga melakukan pemetaan jalur serta memanfaatkan jalur yang ada, atau membuka jalur baru. Membuka jalur baru ada bebera faktor. Pertama karena untuk mengurangi kemacetan.
”Intinya membuka jalur baru itu agar memudahka. Jangan sampai jalur yang dibuat itu justru menyusahkan,’’ katanya.
Oleh karenanya, dia menegaskan sebelum pembangunan dilakukan, jalurnya ini harus dimatangkan lebih dulu.
”Faktor keamanan tetap harus dipertimbangkan dengan matang. Juga budaya. Jangan sampai pembangunan jalur baru itu justru merusak budaya,’’ tambahnya.
Yang perlu diketahui, dengan pembuatan jalur baru biayanya sangat besar. Sebaliknya, Sapta mengatakan melanjutkan Tol Malang-Kepanjen itu akan lebih efektif. Selain jalurnya sudah ada, risikonya juga sangat minim.
”Kan wacananya tol sampai Kepanjen. Jadi yang perlu diperhatikan ya reguler, bisa dilebarkan atau ditingkatkan fasilitasnya,’’ ungkapnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Seksi Managemen Lalu Lintas, Dinas Perhubungan Kabupaten Malang, Puguh Saksomo. Puguh yang hadir dalam diskusi Malang Post ini mengatakan kurang merekomendasikan Jalan Lingkar Barat. Sebaliknya dalam diskusi yang dipimpin Pemimpin Redaksi Malang Post , Dewi Yuhana, Puguh lebih merekomendasikan Jalan Lingkar Selatan.
Alasannya, selain jalurnya sudah ada, rute Jalan Lingkar Selatan lebih dekat dibandingkan dengan lingkar barat.
Dia pun menyebutkan untuk Jalan lingkar barat, dengan rute Kepanjen, Ngajum, Desa Balesari, Wagir, Kelurahan Bandulan, Desa Petungsewu, Desa Selorejo, Junrejo, Jalibar, Songgoriti, Pujon, Ngantang.
”Melalui rute ini   jaraknya 94,3 kilometer. Dengan jarak tempuh 3 jam 9 menit,’’ katanya.
Sementara jika menggunakan jalan lingkar selatan, yaitu Kepanjen, Sumberpucung, Lahor, Desa Banjarsari, Kasembon, Desa Popoh, Kawedanan Wlingi, Gandusari, Blitar, Tulungrejo, Krisik, Desa Pagersari, Jalan Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, jaraknya lebih pendek. Yaitu 69,2 kilometer.
”Ada selisih 25,1 kilometer lebih dekat dibandingkan  jalan lingkar barat. Waktu tempuhnya juga relatif lebih sedikit, yaitu 2 jam 1 menit,’’ kata Puguh.
Dia mengatakan, untuk menggunakan alternatif Kepanjen – Kasembon melewati lingkar selatan maka biayanya lebih minim. Itu karena jalurnya sudah ada.
”Faktor keamanan itu paling utama,’’ katanya.
Menurut Puguh, pihaknya bersama dengan dinas terkait sudah melakukan pengukuran. Baik dimensi jalan, hingga lainnya.
”Justru kami berharap, ada tol di Malang Barat.  Informasinya ada tol Malang-Batu. Jika ini terealisasi, saya yakin warga tidak akan kebingungan lagi. Karena dengan tol, aksesnya lebih cepat, keamananya juga terjamin, dan lainnya,’’ ungkap Puguh.
Sementara Perhutani KPH Malang memberikan respons positif, jika ada jalur baru, atau lingkar barat. Karena dibukanya jalur baru tersebut, juga memberikan peluang bagi Perhutani untuk mengenalkan pariwisata.
Perlu diketahui, wacana Jalan Lingkar Barat dengan rute lereng Gunung Kawi, sebagian melintasi hutan, milik Perhutani. Sehingga saat jalur tersebut, digunakan, maka mau tidak mau harus melibatkan Perhutani.
”Kami setuju jika memang ada wacana membuka jalur lingkar barat. Tapi ya itu, sesuai itu sesuai dengan aturan,’’ Kepala Sub Seksi Komunikasi Perusdahaan Perhutani KPH Malang Supriyanto. Dia setuju dibukanya jalur baru karena ada nilai positif yang dapat diterima  Perhutani.
”Kami memiliki 277 destinasi wisata di Malang Raya. Dengan adanya jalur baru, itu akan membantu kami dalam sosialisasi,’’ tandasnya.
Diskusi mengusung tema Menembus Kepanjen dari Malang Barat, diskusi digelar di Graha Malang Post, Ruko WOW, Jalan Sawojajar, Cluster Apple 1-9, Malang. Jumat (27/9) diskusi ini diikuti oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M), Ir .Achmad Wicaksono M.Eng, Ph.D,  Camat Dau, Eko Margianto, Kepala Seksi Produksi dan Materil Topdam V/Brawijaya, Mayor CTP Sapta Saputra, dan Urban Planner, Heri Setiawan, dan Kepala Seksi Managemen Lalu Lintas, Dinas Perhubungan Kabupaten Malang, Puguh Saksomo, Kepala Sub Seksi Komunikasi Perusdahaan Perhutani KPH Malang Supriyanto dan Analis Pengukur ATR/BPN Kabupaten Malang Moh Syaffi’i. Diskusi dipimpin langsung oleh Pemred Malang Post Dewi Yuhana, dan diikuti oleh sejumlah redaktur, wartawan dan fotografer.(ira/ary/bersambung)



Loading...

  Follow Us