Tiga Keluarga Asal Malang Masih Tertahan di Papua | Malang Post

Senin, 18 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 07 Okt 2019, dibaca : 1161 , bagus, agung

TIGA keluarga asal Kabupaten Malang, masih tertahan di Papua. Satu keluarga berada di Wamena, dua keluarga lainnya saat ini berada di Distrik Sentani, Jayapura. Mereka ingin segera kembali ke kampung halaman, karena trauma dengan kerusuhan yang terjadi di Wamena.

"Ketiga cucu saya mengalami trauma yang begitu dalam. Semuanya masih kecil-kecil, kelas 5, kelas 3 dan kelas 1. Saya sendiri juga takut, ingin segera kembali ke kampung halaman," ucap Tutik, dengan nada menggebu .
Tutik adalah warga asal Dusun Pepen, Desa Mojosari, Kecamatan Kepanjen. Janda berusia 51 tahun ini, merantau ke Wamena pada tahun 2008, karena ajakan adik dan anaknya.
"Saya merantau ke Wamena, setelah suami meninggal. Di sini (Wamena, red) saya membuka usaha kios kelontong," katanya ketika dikonfirmasi Malang Post via telepon selular Minggu (6/10) petang.
Kerusuhan yang terjadi di Wamena, pada 23 September 2019 lalu, menjadikan cerita yang menyedihkan bagi dirinya, anak serta cucu-cucunya. Massa saat itu bergerombol di depan kiosnya. Mereka menyuarakan merdeka, sembari melakukan pengerusakan serta pembakaran.
Ketika massa membuat kerusuhan, Tutik serta anak dan cucunya tidak berani keluar. Mereka lari sembunyi di belakang kios, bersama dengan para tetangga yang berasal dari Pulau Jawa. Dengan ketakutan, mereka lalu lari menyelamatkan diri, dengan menjebol dinding.
Sembari membawa sebilah parang, Tutik berlari sambil menggendong dan menuntun cucunya, sejauh sekitar 1,5 kilometer.
"Semua tetangga yang menyelamatkan diri, lari dengan membawa parang. Karena khawatir ketika di jalan bertemu massa. Ketika berpapasan, ya pasti kami lawan saat itu," jelasnya.
Setelah berlari sejauh 1,5 kilometer, akhirnya mereka sampai di tempat aman. Asrama Polisi menjadi tempat persembunyian mereka saat ini.
"Kami sudah ketakutan dan trauma. Ingin segera pulang ke Jawa, biar nanti anak-anak sekolah di kampung halaman saja," tuturnya.
Tutik juga menceritakan, kalau semua cucunya mengalami trauma mendalam. Karena semuanya melihat dan merasakan sendiri, kerusuhan yang terjadi di Wamena. Pasalnya, sekolah cucunya saat itu juga tidak luput dari serbuan massa.
"Sementara ini, saya, ketiga cucu dan keponakan ingin segera pulang. Sedangkan adik, anak, menantu serta satu keponakan lagi akan menyusul," urainya.
Karenanya, Tutik berharap pemerintah maupun pihak keamanan, untuk segera mengevakuasi supaya bisa kembali ke kampung halaman. Ketika bertahan lama di Wamena, khawatir trauma yang dialami cucunya semakin berat.
Bambang Sucipto, warga lainnya juga merasakan yang sama. Istrinya, Erni Nursianti, beserta empat anak, ibu mertua dan adiknya, masih tertahan di Distrik Sentani, Jayapura. Mereka ini berasal dari Desa Tamiajeng, Kecamatan Tumpang.
Menurutnya, istri serta anak dan keluarga lainnya, mengungsi ke Distrik Sentani, Jayapura, pasca kerusuhan di Wamena. Mereka dari Wamena ke Jayapura, diangkut dengan pesawat Hercules.
"Sampai sekarang mereka masih di Sentani. Sedangkan saya, masih berada di Wamena bersama warga lainnya yang mengungsi di Asrama Polisi," terang Bambang Sucipto.
Pria asal Banyuwangi ini mengatakan, empat anaknya mengalami trauma yang begitu dalam. Mereka merasa ketakutan. Pasalnya, saat kerusuhan terjadi sekolahnya juga diserang sekelompok massa.
"Anak-anak mengalami kerusuhan secara langsung. Sekolahnya dilempar dengan batu. Bahkan mereka melihat langsung, massa melakukan kerusuhan dan pembakaran," jelasnya.
Ketika tidak ada kejelasan bantuan untuk mengevakuasi keluarganya kembali ke kampung halaman, istri serta anak dan keluarganya akan nekat pulang dengan naik kapal laut.
"Kabar yang saya dapatkan barusan, mereka akan pulang naik kapal laut hari Rabu. Kalau saya masih bertahan di Wamena, karena belum ada bekal untuk pulang kampung," katanya.
Selain dua keluarga tersebut, juga masih ada satu keluarga lagi yang tertahan di Distrik Sentani, Jayapura. Menurut Bambang, satu keluarga lainnya ini berasal dari Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
"Informasi ini baru kami dapatkan siang tadi (Minggu siang, red). Ternyata masih ada satu keluarga asal Malang yang juga tertahan di Sentani Jayapura," ucapnya.
Sementara, Slamet, Koordinator Aremania Wamena, mengatakan bahwa memang ada banyak warga asal Malang yang berada di Wamena. Namun hanya sekitar 50 persen saja, yang tergabung dengan komunitas Korwil Aremania Wamena.
"Karenanya, kami sekarang masih melakukan pendataan siapa saja warga asal Malang yang berada di Wamena. Kami juga masih mencari tahu bagaimana nasib mereka. Apakah sudah dievakuasi ataukah masih tertahan di tempat penampungan sementara," papar Slamet.
Dikatakannya, bahwa warga asal Malang terutama anak-anak dan perempuan, mengalami trauma yang begitu dalam. Sebab mereka merasakan dan melihat sendiri kerusuhan yang terjadi di Wamena.(agp/ary)



Loading...