Tidak Menyangka Jadi Rektor Termuda | Malang Post

Sabtu, 07 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 22 Sep 2019, dibaca : 37548 , udi, ira

"Tabrak dulu mikir belakangan" kata itulah yang terucap dari Dr. Hasan Abadi, S.Ag., MAP, saat menceritakan kilas balik kehidupannya hingga sukses menjadi Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang. Ya, Hasan mengaku tidak pernah merencanakan sesuatu. Namun dia langsung bergerak cepat jika diminta membuat sesuatu. Hasan tidak pernah bercita-cita menjadi guru ataupun dosen.  Namun karena disuruh dia pun luluh. Apalagi yang menyuruh adalah seorang kiai yang disegani. Sehingga apa yang diperintahkan dijalaninya. ”Tabrak dulu mikir belakangan. Artinya, melakukan dulu, jika ada sebuah kesalahan bisa diperbaiki atau disempurnakan belakangan,’’ katanya.
Hasan memulai karirnya menjadi rektor di Unira berawal dari tahun 2005 lalu. Saat itu Hasan aktif di Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang. Dia yang menjabat sebagai Ketua Divisi Pengaderan tiba-tiba dipanggil oleh KH Mahmud Zubaidi, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Islam Raden Rahmat Kepanjen. Panggilan itu direspon Hasan, yang langsung menemui KH Mahmud Zubaidi, yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua MUI Kabupaten Malang. Dalam pertemuan tersebut Hasan diminta membantu di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Raden Rahmat.
Hasan yang saat itu aktif dalam Lembaba Swadaya Masyarakat (LSM) bergerak di bidang konsultan tidak menolak. Apalagi yang menyuruh adalah kiai yang diseganinya. "Di NU (Nahdlatul Ulama) santri itu kan harus menurut kata kiai. Jadi saya mau saja. Tapi saya tidak mau buat lamaran," ujarnya.
Singkat cerita, Hasan yang juga aktif di LPMM NU pun mengajar di STIT Raden Rahmat. Namun tidak lama kemudian, Hasan diminta untuk mendirikan sekolah setingkat SMA. Meski sempat bimbang, tapi lagi-lagi Hasan tidak bisa menolak. Dia mempersiapkan seluruh kebutuhan untuk mendirikan sekolah. "Waktu itu sempat ada perdebatan. Karena saya yang muda ini memilih Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sedangkan yayasan minta SMA," tambah bapak tiga anak ini.
Tapi demikian Hasan kekeh untuk mendirikan SMK. Alasannya adalah output dari SMK lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Terlebih SMK yang didirikan bergerak dibidang Teknologi Informasi. Dengan sekolah tersebut, harapannya  akan banyak siswa sekolah disana. "Melalui perdebatan panjang, akhirnya SMK kami berdiri. Kami mengusung nama Cendika Bangsa," tambahnya.
Tahun ajaran 2007, sekolah yang didirikan mulai menerima siswa baru. Dia pun mendesain sungguh-sungguh. "Agar sekolah kami dilirik, waktu itu kami promosi melalui banner yang dipasang dibeberapa titik. Banner kami sebutkan sekolah unggulan berbasis IT. Disitu juga saya pasang model sekolah menggunakan almamater, wanita cantik dan pria ganteng. Itu untuk branding kami," ungkapnya.
Hasilnya, 120 siswa mendaftar di sekolah tersebut. Dan Hasan mengaku mendapat kendala, karena saat itu dia tidak memiliki komputer. Padahal sekolahnya berbasis IT. Sementara untuk mengandalkan Yayasan tidak mungkin. Hingga akhirnya dengan segala cara, Hasan berhasil membeli kompter.  Meskipun tidak semuanya baru, yang jelas sekolahnya akhirnya memiliki komputer. "Komputer yang kami miliki pertama adalah komputer jangkrik. Ada 10, tapi saya yakin dari 10 komputer jangkrik, sekolah ini akan berkembang," ungkapnya.
Di SMK Cendika Bangsa, tambah alumni S1 UIN Maliki jurusan Pendidikan Agama Islam ini tidak ada seragam layaknya siswa SMA atau SMK. Tapi seragam yang digunakan lebih ekslusif. Menggunakan almamater. Dan yang menarik, saat Arema main, selain menggunakan baju Arema jam sekolah hanya sampai pukul 11.00. "Agar siswa kami menjiwai, sebagai Arek Malang. Begitu Arema main sekolah hanya sampai pukul 11.00," tuturnya.
Seiring waktu sekolah tersebut tambah sukses. Terbukti setiap tahun, jumlah siswa yang mendaftar bertambah. Bahkan tahun 2009 lalu, Hasan yang memasukkan sekolahnya dalam organisasi sekolah-sekolah se Asean mendapat undangan ke China. Dan pada tahun tersebut dia pun kesana untuk mengikuti seminar. Di China, suami Hidayatis Syarifah ini lebih percaya diri. Dia mengirimkan empat siswa dan guru untuk sekolah disalah satu sekolah di China.
Suksesnya Hasan menata sekolah, diberi nilai plus oleh KH Mahmud Zubaidi. Terbukti setelah tujuh tahun menjadi kepala sekolah, Hasan kembali diminta untuk mendirikan perguruan tinggi.
"Saya kembali bimbang waktu itu. Tapi ya sudahlah, saya tidak boleh menolak. Sehingga saya menerima tawaran itu," kata Hasan yang saat itu juga tidak memiliki perencanaan sama sekali. Hasan pun mulai mengurus perizinan, mendirikan perguruan tinggi. Semuanya mulus, hingga akhirnya Universitas Raden Rahmat berdiri.
Pada 2014, kampus ini buka. Waktu itu berhasil mendapatkan 574 mahasiswa. Saat pertama kampus berdiri, Hasan didapuk menjadi Wakil Rektor. "Ya saya kembali kaget saja. Bagaimana bisa seorang kepala sekolah kemudian duduk sebagai Wakil Rektor. Tapi sekali lagi di tempat kami menolak tidak boleh. Jadi waktu itu saya pun menerima. Tanpa ada perencanaan sama sekali, semuanya berjalan apa adanya," ungkap mantan Ketua GP Ansor Kabupaten Malang ini.
Satu tahun kemudian Hasan didapuk menjadi rektor. Saat itu Hasan sempat menjadi rektor termuda di Malang Raya.
Perguruan tingginya terus berkembang. Hasan mengaku, jika agar perguruan dilirik mahasiswa, maka ada mata kuliah khusus yang dibuat, yaitu peace education. Dia juga memiliki tiga pilar utama di kampusnya, yaitu Spiritual, Humanity dan Local Wisdom. "Kenapa local wisdom jadi pilar utama, karena Islam hadir dari local wisdom. Dan local wisdom inilah yang kami sampaikan kemana-mana sampai saat ini," kata pria yang lahir pada 7 Agustus 1975.
Dia menyebutkan local wisdom yang dimaksud adalah Peace Education.
Dan peace education ini juga yang membawa nama kampus Unira dikenal di beragam negara. "Kalau saya berbicara pertanian, atau teknologi, kalah dengan ITS, Unibraw, UGM dan kampus-kampus lain. Tapi kalau local wisdom, yaitu Peace Education, Inyaallah didengar. Dan Peace Education ini juga yang kami sampaikan saat saya mengikuti seminar di luar negeri,’’ tuturnya.
"Program studi Peace Education ini juga disiapkan untuk para guru agama yang melanjutkan sekolah S2 di tempat kami. Agar mereka memiliki pemahaman tentang arti perdamaian dan kebersamaan," tambah alumni S2 universitas Brawijaya jurusan Administrasi Public ini.
Kampus Unira terus berkembang sampai saat ini. Setiap angkatan kampus ini dapat menampung lebih dari 3000 mahasiswa baru. Saat ini Unira memiliki 4 Fakultas, dengan 14 jurusan.
Melalui tangan dingin Hasan Abadi, kampus ini menjalin kerja sama dengan 15 lembaga pendidikan internasional. Diantaranya, Kangwon National University (KNU) Korea Selatan, Woosok University, Korea Selatan, Sun Moon University Korea Selatan, Nanjing University Of Science and Technology (NUST) Tiongkok, Bhurapa University, Thailand, Battambang Institute of Technology (BIT), Kamboja dan lainnya.
Selain kampus I di Jalan Mojosari Kepanjen, Hasan juga sedang mengembangkan kampusnya. Saat ini sedang membangun Kampus 2 di Desa Palakan, Kecamatan Ngajum. Di desa Palakan itu menjadi laboratorium para mahasiswa untuk sekolah kehidupan. "Moto saya adalah menanamkan kebaikan dimana-mana, jangan harap hasilnya,” kata pria yang sempat menjadi rektor termuda di Malang Raya ini.
Sedangkan cita-citanya, Hasan ingin mewujudkan kampus yang sehat secara akademisional, organisasional dan finansial sebagai pra syarat membangun kampus yang bermartabat menuju cita-cita khayra ummah university. (ira/udi)



Loading...